Pages

Tampilkan postingan dengan label aktifitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aktifitas. Tampilkan semua postingan

Science Camp 2015 : Tamparan untuk (TERUS) Berjuang !

Dua hari lalu, ketika sore berganti malam seperti saat ini aku masih bersama teman-teman panitia di Gedung AS. Ada yang tampak sangat sibuk mendekorasi ruangan dan juga gladi, tapi ada juga yang terlihat sibuk sendiri. Hehe

Kemarin, ketika malam datang di waktu yang kira-kira sama dengan dua hari dan hari ini. Wajah riang dari yang paling sibuk hingga yang sibuk sendiri juga terpancar. Haha

Dan hari ini… aku ingat aku harus mencatat semuanya. Hitung-hitung merapikan kenangan.

……..

Ini tetang kamu. Kamu yang dinamai Science Camp oleh Dekan kami. Hai, kenalan dulu sini *jabat tangan*

SCIENCE CAMP 2015
Science Camp ini serangkaian kegiatan Open Day FMIPA Universitas Udayana, dimana menurut cerita Dekan kesayangan, kegiatan ini bertujuan untuk mempersilahkan seluruh masyarakat untuk mengetahui FMIPA secara bebas. Niatnya sih (suatu saat nanti) orang-orang bisa camping langsung di fakultas kami. Oke, karena hal itu belum terlaksana jadi Science Camp diisi dengan mengajak siswa SMA se-Denpasar dan Badung untuk jalan-jalan mengenal enam jurusan super yang ada di fakultas kami. Lumayan kan mahasiswa yang jenuh sama laporan atau skripsi bisa liat cabe jalan-jalan di kampus *eh :p hahaha

Yuk, lanjut. Alkisah ini kali kedua aku tercelempung dalam kegiatan dahsyat ini. Science Camp adalah program kerja bidang atau dinas satu Badan Eksekutif Mahasiswa FMIPA yang wajib terlaksana dan disukseskan oleh kepala dinasnya *nyengir kecut*. Tahun sebelumnya, saat bergabung di BEM FMIPA kegiatan Science Camp ini lancar, rame, dan melelahkan. Walaupun aku sendiri tidak yakin berperan cukup aktif sebagai anggota acara Kak Ita (Penanggung jawab Acara Science Camp sebelumnya), yang ku ingat selesai kegiatan Kak Ita sangat kelelahan hingga tak satupun panitia berani mengganggunya. Hihi.

Well, Science Camp 2015 is Comingggggg…. 22 Januari 2015.

Science Camp tidak hanya mengajak siswa SMA untuk jalan-jalan, tapi juga kami dari panitia mengundang mereka untuk bertanding ketangkasan dalam Lomba Cerdas Cermat, bertanding merangkai keindahan kata dalam Lomba Esai, dan memacu kreativitas dalam Lomba Poster Digital. Duh, keren banget ya. Ekspektasi sih peserta bakal banyak, panitia bakal kelimpungan melayani peserta, dan semua krodit lah ya intinya. Jeng,,jeng,, Negara Api menyerang. Hingga H-7 hari = SEMINGGU sebelum kegiatan panitia baru mendapatkan sebiji peserta untuk tiap perlombaan. WOW!

Entahlah, bagaimana ekspresi yang sepantasnya aku tunjukan sebagai penanggung jawab Scince Camp tahun ini. Mungkin lebih nyesek dari punya pacar yang gak percayaan sama kamu, atau jomblo berlama-lama gara-gara mantanmu kebelet pacaran sama temen kampusmu sendiri. Ya, lebih nyesek dari apapun.

Mulailah semua isi otak berputar untuk mendapatkan peserta. Promo di radio, bimbel, jemput bola atau panitia yang agresif duluan menjemput pesertanya ke sekolah mereka tanpa menunggu, sebar pamflet, sebar buku petunjuk kegiatan, broadcast info kegiatan via BBM, update kegiatan disosmed, ganti profil picture hingga display picture. RAME INFO SCIENCE CAMP dimana-mana intinya. Tak penting mencari siapa yang salah hingga tak ada peserta atau terlalu perhatian dengan panitia yang setengah hati bekerja, yang penting saat itu peserta datang, acara jalan!

YEAH, 11 Team Lomba Cerdas Cermat dan 5 peserta Esai datang tidak hanya dari Denpasar dan Badung. Ini rasanya seperti terbang naik naganya Raditya Dika *terharu*. Aku dan Eny (Koo Ilmiah-sekaligus rekan curhat galau Science Camp) yang sebelumnya selalu cemas tentang acara ini, setidaknya mulai bisa focus menyiapkan kepuasan peserta yang telah daftar. Eny bertugas membuat soal dan menemani juri lomba sepanjang kegiatan, sedangkan aku bertugas mengatur kelangsungan acara dari sejak Gladi bersih hingga bersih-bersih acara kemarin. Hahaha.

…….

Suasana Penyerahan Hadiah Pemenang Lomba Cerdas Cermat
Puas, lega dan senang. Ketiga itu kata yang menggambarkan perasaan selesai acara berlangsung. Semua berjalan begitu rapi dan lancar. Walaupun tetap ada kritik serta saran dari peserta tentunya itu bisa menjadi bekal untuk penanggung jawab Science Camp berikutnya.

Science Camp kali ini sukses menamparku, kalau ingin hasil yang maksimal kamu harus bekerja dua kali lebih keras dari sebelumnya. Menutup telinga dan mata terhadap orang yang mengabaikan kerja kerasmu terkadang harus kamu lakukan untuk tidak menahan langkahmu berjuang. Kalau sudah semua dikerjakan, jangan takabur. Karena, Yang di Atas tak akan pernah berhenti mengujimu. Bekerja keras, berjuang, berdoa. Bekal hari ini untuk hidup yang lebih menyenangkan.

Terima kasih seluruh panitia yang telah bekerja keras. Kalian LUAR BIASAAAAA ~


“Struggle for existence”

Siapa yang mau berjuang keras, maka ia yang akan bertahan hidup (Charles Darwin)
-Soal Lomba Cerdas Cermat Science Camp 2015-



Kenangan semangat panitia Science Camp 2015

Apa Resolusimu ?

Tahun 2014 berakhir. Selamat datang tahun yang begitu cepat berganti. Ah, tutup tahun sudah merenungi berapa kebaikan yang sudah dilakukan? Hehe.. masih ada tahun baru buat memperbaiki kesalahan tahun kemarin ya? (tiap tahun seperti ini, hitung aja akumulasi dosa mu :p)

Tahun baru identik dengan harapan baru. Berbagai resolusi bermunculan di otak untuk mewujudkan dengan semangat yang baru. Termasuk juga menyelesaikan kebaikan yang tertunda di tahun sebelumnya. Mau tidak mau, sebelum dosa terakumulasi hingga over dose lebih baik diteruskan deh ya resolusi yang belum tercapai dari tahun yang tidak enak ke tahun yang baru ini. Hore, merdeka. Hihihi

Lalu, apa resolusimu?




Kalau aku sih secara umum ingin sekali tumbuh menjadi perempuan mandiri mulai dari tahun yang baru ini. Resolusi yang menurutku cukup menantang. Mandiri bukan sekedar kata yang mudah diucap dan dikerjakan. Bahkan ketika aku harus menulisnya disini, aku berpikir “apa tidak ada kata yang lebih sederhana dari kata mandiri?” karena aku yakin, aku belum bisa untuk tidak menyolek bapak atau ibuku untuk meminta uang jajan sebelum berangkat kuliah atau jalan-jalan dengan uang sekedarnya yang ku miliki.

Resolusi besar ini aku buat sesederhana mungkin dengan berbagai cara. Misalnya, meningkatkan nafsu berhemat dengan menyisihkan uang mingguan sejak awal diberikan, tidak berbelanja yang hanya menyenangkan mata dan mengenyangkan perut sesaat, memilih tidak ke bioskop tapi merampok semua film dari laptop temen, atau banyak lainnya yang benar-benar harus diterapkan. Mandiri ini sebenarnya banyak sekali persepsi yang bisa dihadirkan, bahkan ketika kamu sudah mampu mengangkat sendiri air galonmu saja kamu sudah terbilang mandiri jika dibandingkan dengan kamu yang masih minta tolong ayangmu untuk mengurus hal ini (bangga). Atau membersihkan kamar mandi sendiri, ketika sebelumnya ayahmu yang bertugas sepenuhnya akan hal ini. Mau nelpon bapak lho setiap minggu ke kos buat bersihin kamar mandi ? langsung di kutuk malin kundang deh ya. (bangga lagi). Dan yang paling keren sesungguhnya, ketika bisa bekerja sambil kuliah. Ini sungguh menyenangkan ketika melihat teman yang bisa mengatur waktunya dengan focus pada dua hal penting itu. Karena masa depan tidak bisa ditebak, menyiapkan diri sejak dini itu kunci bila ingin hidup yang layak.

Hm.. Jadi, sebenarnya mandiri bisa ditaruh dimana saja ya. Hanya saja, kali ini ingin mencoba menjadi perempuan yang bisa mengatur keuangannya dengan baik. Mandiri finansial ceritanya. Mulai dari hal kecil, fokus sama hal kecil, lama-lama mestakung bisa jadi sesuatu yang besar. Kalau sudah niat, yang namanya resolusi mau besar atau kecil, seharusnya sih tercapai ya.

Hai 2015, bantu aku untuk konsisten menjaga semangat ini ya!
Sekali lagi.. Resolusi itu aksi, bukan sekedar janji yang tiap tahun terakumulasi ^^





Mahasiswa harus bisa BICARA

Sore tadi sekitar pukul setengah 4 aku berada di Lantai 4 Student Center. Rapat Dies Natalis Unud ke 52 sedang dilaksanakan. Rapat yang molor 30 menit ini cukup banyak mengobrak abrik isi kepalaku. Jadi ceritanya aku hadir dalam rapat ini sebagai perwakilan BEM fakultasku, dan kebetulan pula aku turut andil menjadi sekretaris tim sukses fakultas kesayangan dalam berbagai pertandingan dan perlombaan yang akan diadakan sejak awal bulan September ke depan. Aku hadir bersamaa koordinator dari fakultasku dan ibu gubernur BEM fakultasku. Rapat ini lengkap dihadiri oleh seluruh BEM fakultas di Unud dan dipimpin oleh panitia Dies Natalis serta presiden BEM Unud.

Rapat ini berlangsung cukup alot. Banyak sekali sanggahan dan masukan dari segala penjuru arah. Untung saja panitia sigap dan menyerahkan kembali segala keputusan yang akan diambil berdasarkan hasil diskusi bersama oleh seluruh peserta rapat. Intinya sih biar tercapai keputusan yang mufakat. Aku mungkin tak akan menceritakan panjang lebar mengenai rapat ini, tapi yang menarik adalah bagaimana kita yang meperhatikan hal-hal unik dari tiap rapat (atau pertemuan dengan banyak orang). Selain keunikan peserta rapat yang berwajah menawan lho ya. hehe :p 

Aku suka memperhatikan bagaimana cara orang menyampaikan isi kepalanya di depan orang banyak, hal ini menurutku tak bisa dipelajari hanya dengan membaca buku "cara berbicara di depan umum" tapi belajar dari melihat dan mendengarkan keseluruhan cara orang lain berbicara juga salah satu caranya. Seperti misalnya, mahasiswa dari fakultas A menyampaikan isi kepalanya secara terstruktur tapi tidak bisa menyakinkan seluruh pendengarnya, atau mahasiswa dari fakultas B yang cara penyampaian isi kepalanya tidak terstruktur, tapi tegas dan disertakan dengan rasionalitas dari kalimat yang diucapkannya. Itu dua contoh tipe mahasiswa yang berbeda dari banyak tipe lainnya. Dari sini aku belajar, bagaiamana cara menyampaikan isi kepala di muka umum serta dapat mengendalikan pendengar disekelilingku.

Aku sering mengikuti kegiatan rapat atau sekedar diskusi santai seperti kegiatan di jurusan, fakultas, universitas, atau diskusi luar kampus yang memang sengaja ku datangi untuk sekedar memperoleh informasi. Banyak sekai tipe orang yang kutemui, ada yang tipenya ku sukai dan adapula tipenya menurutku harus dihindari. Selain itu rapat tadi juga membuatku berpikir menjadi seseorang yang bicaranya terstruktur, pikirannya fokus dalam menyampaikan sesuatu, tegas, dan berbicara mudah dimengerti yang disertai dengan implementasi tidaklah cukup untuk bisa menguasai segalanya. Misalnya, si A sangat pandai berbicara dalam lingkungannya, tapi ketika dia pergi ke lingkungan B belum tentu si A akan mudah menyesuaikan diri untuk menunjukan bakat bicaranya pada lingkungan B. Ini dia pointnya, ketika pandai sesuatu ya harus terus dilatih dengan melihat cara berbicara orang lain, mendengarkan pembicaraan secara utuh, dan mencoba mengikuti pembicaraan. Bukan malah sebaliknya.

Ya, menurutku ini salah satu bagian dari softskill yang sering dibicarakan oleh mahasiswa. Yang katanya 80% lebih penting dibandingkan praktikum dan teori di kampusmu. Atau yang katanya mahasiswa adaah Agent Of Change yang otomatis harus bisa berbicara di depan umum. Nahlo, jadi bagaimana sekarang ? Siap dong mulai sekarang bakal rajin memberi pendapat dalam rapat atau diskusi ? Bukannya malah main gadget atau tidur dalam rapat atau diskusi. hehe peace ^^v.
Ayo deh, mulai bentuk diri dengan softskill yang baik mumpung masih mahasiswa dan mumpung belum dikejar TA. yuhuu ~

Musker Pers Akademika 2013 : Baru dan Seru !

"iyaa.. LPJ diterima.," riuh sorak sorai, tepuk tangan, dan senyum lebar pun memecah dinginnya suasana malam ini. Ah, sudah pagi untuk dikatakan malam. Dini hari ini.

Sekiranya itu suasana yang paling ditunggu-tunggu sejak tadi oleh beberapa orang peserta Musyawarah Kerja (Musker) Akademika 2013 ini. Peserta tidak terlalu banyak, hanya sekitar 15 orang, dan inipun sudah mengalami Quorum 2x15 menit. Huh, kesal juga menanti datangnya kawan-kawan lainnya. Sudah ngaret diawal, bahkan untuk Pra Sidang (pertengahan sidang/awal sidang pleno) lagi-lagi harus menunggu. Syukur masih ada rekan yang bisa diajak bersenda gurau.

Yap, ini dia agenda rutin Pers Akademika Universitas Udayana. Musyawarah Kerja atau lebih akrab dikenal musker ini merupakan agenda menggulingkan KU/PU sebelumnnya atau bahasa sopannya agenda laporan kegiatan yang telah dilakukan sekaligus mengevaluasi dan merencanakan kegiatan Pers berikutnya. Kegiatan ini berlangsung tiga hari dua malam di Hotel Dewi Karya. Hari ini, 15 Oktober 2013 merupakan hari pertama kegiatan ini berlangsung. Sejak pukul 20.00 WITA kegiatan ini berlangsung di Lantai II Aula Hotel Dewi Karya, kegiatan yang harusnya sudah mulai sejak pukul 17.30 WITA ini ya terpaksa dingaretkan dengan beberapa alasan penting. (ngaret =budaya).

Dalam kegiatan ini, kebetulan aku menjadi panitia sie acara yang tidak tahu menahu mengenai acara -_-"
kegiatan ini memang mepet, baru saja selesai mengadakan Bali Journalist Week lalu Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa, langsung ditabrak dengan kegiatan ini. Ikut rapat juga tidak pernah, yang ini karena disrempet dengan kuliah dan pratikum. Ya, lengkaplah sudah. Tapi tenang. Ini tdak menyurutkan niatku menjadi peserta dalam kegiatan Akademika yang satu ini.

Dan, tidak sia-sia. Sidang yang harusnya selesai pukul 22.30 WITA baru selesai pukul 00.00 WITA, jadi ceritanya sidang pleno 1 mengenai Laporan Pertanggungjawaban KU/PU yang dilaksanakan besok disepakati oleh seluruh peserta dimajukan hari ini. Ya, anak muda biasa belum dini hari, belum ada kata semangat hilang. Aku mengikuti kegiatan ini cukup serius, kebetulan sebagai notulen jadi memang harus serius dan fokus ya. Kegiatan yang baru dan seru. Itu kata kuncinya.

Semua organisasi pasti akan melaksanan hal seperti ini, tapi entah mengapa lagi-lagi selalu merasa senang dan bersyukur berkecimpung dengan dunia seperti ini. Terus berinovasi dengan tulisan, mengenal banyak sosok baru yang menginspirasi, melatih diri menahan ego dalam organisasi, hingga mengerti soal presidium, arti ketukan sidang, LPJ, sidang pleno, dan lain-lain ini membuatku berpikir di sepanjang perjalanan pulang untuk tidak menyesal sudah hampir setahun turut mengabdi dalam Pers Kampus ini. Dan terus mengabdi, hingga menjadi alumni. Menulis memang bukan sebagai profesi tetapku, tapi dengan menulis aku bisa mendapatkan pengalaman sekeren ini. Sumpah, asik gila deh pokoknya. *kesenengan sidang*



Jurnalistik itu (harusnya) Menjanjikan

"Banyak orang mengatakan kerja atau menekuni bidang jurnalistik itu tidak menjanjikan. Apa yang menjadi motivasi Bapak hingga saat ini masih setia dengan jurnalistik,?" tanya salah seorang peserta Akademika National Talkshow dengan tema Ini Kisahku, Jurnalis Indonesia (16/09) di Ruang Teater Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Tersenyum. Itu yang tampak dari kedua pembicara talkshow yaitu Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda (Putu Setia) dan Andreas Harsono ketika ditimpali pertanyaan seperti itu. Peserta talkshow lainnya pun tampak antusias menanti jawaban apa yang akan terpapar dari kedua wartawan senior ini.

Menggeluti dunia jurnalistik memang hal yang menyenangkan. Ibaratnya melalui media jurnalistik kamu bisa menguasai isi dunia. Bisa dikuasai untuk kepentingan masyarakat luas dan tidak menutup kemungkinan dikuasai oleh oknum-oknum tertentu guna memenuhi hasrat pribadi mereka. Hal ini pula yang menjadikan susahnya menjadi jurnalis yang independent. "Jarang sekali ada wartawan yang bebas merdeka meliput berita di papua nugini, peristiwa berbau konflik atas nama agama, dan peristiwa sengketa tanah," ungkap Andreas Harsono.Tak jarang wartawan mendapatkan teror dan kecaman keras dari pihak-pihak yang tidak terima dibongkar aibnya oleh seorang pengungkap kebenaran ini. Bahkan, berita kekerasaan fisik hingga kematian yang diterima oleh seorang wartawan kerap kali menghiasi wajah media televisi.

Tak heran jika pada talkshow ini, peserta menanyakan hal menarik di atas. Hal menarik yang menjadi motivasi wartawan senior ini tetap bertahan di dunia kejam jurnalistik. "Bidang Jurnalistik atau pekerjaan menjadi wartawan sangat baik jika kita berada pada pihak media yang memiliki sistem kerja yang menjanjikan," tutur Mpu Jaya Prema. Menurut pandita yang sesekali melemparkan lawakan ini, banyak media yang hingga saat ini mampu mengolah hasil liputan atau riset mereka tanpa perlu dibuatkan berita yang mengolok-olok masyarakatnya sendiri. Tak hanya itu, "Saat ini jadilah wartawan atau reporter yang handal karena menguasai media atau multi media," imbuh Andreas.

Ini dia point jawaban yang sesungguhnya harus mulai dicermati mulai detik ini oleh para penggiat pers atau jurnalistik, menjadi seorang jurnalis pada masa sekarang  sudah menjadi kewajiban untuk dapat menguasai teknologi yang ada. "Memiliki twitter, mampu menggunakan slide, memiliki blog, mengupdate info peristiwa melalui media sosial, dan masih banyak lagi," tutur Andreas Harsono. Jangan hanya menulis saja, tapi gunakan sebanyak-banyaknya media yang ada untuk berbagi informasi. Karena pers harus dapat meminimalisir disinformasi ditengah tsunami informasi seperti saat ini.

Hadiah jadi EDITOR !

Sejelek itu ya tulisan saya sampai habis-habisan waktu itu dirombak..” curhat gadis itu pada seorang senior saat Wisata Jurnalistik di Danau Buyan  beberapa bulan lalu.


Untaian kata selalu terngiang ketika ku tatap wajah gadis itu. Ada perasaan mengganjal yang hingga detik ini ku rasakan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya serasa menerkamku. Setiap baris yang tertulis olehnya seperti mengingatkanku akan semua hal yang ku lakukan pada tulisan indahnya itu. Ya, tulisan indah yang seharusnya tidak perlu dipotong sana-sini. Duh, tak indah lagi kan!

Semuanya berawal dari sebuah ide melakukan ajang duel kelompok. Kami –anggota magang- yang saat itu dipecah menjadi dua kelompok diwajibkan untuk menulis sebuah bulletin. Awalnya merasa tertantang dengan kegiatan ini. Sudah cukup lama tak mengasah otak dan jari-jari tangan yang mulai kaku. Rindu rasanya bertemu dengan orang-orang baru yang bisa berbagi ilmu dan menginsipirasi ketika ditanya ini itu. Saat itu tiap kelompok dipimpin oleh satu pemred (Pemimpin Redaksi) yang tidak lain adalah senior kami yang bukan seperti kami –anggota magang- tentunya. Okelah, pemrednya bisa diajak bekerja sama.

Berhari-hari kami berdikskusi. Melakukan kewajiban kami masing-masing, mencari sumber kesana-sini, ya intinya kami berjuang sematang mungkin. Totalitas. Entah, aku sedikit melupakan kejadian saat itu. Yang ku ingat aku sempat dipercaya untuk mengingatkan teman kelompokku akan batas waktu penulisan rubrik mereka dan juga mengedit tulisan mereka karena mereka sendiri yang menginginkan aku menjadi ‘editor’ amatiran. Ini tidak mudah bung.  Rasanya lebih baik menjadi penulis disbanding harus membaca, mencerna, lalu memperbaiki untain kata yang melenceng namun tetap sejalan dengan pemikiran penulis aslinya. Rasanya saat itu ingin sekali memeluk editor yang selama ini setia mengawasi tulisan yang ku buat. Singkatnya aku berusaha melakukan semuanya dengan totalitas. Potong sana potong sini, tambah ini tambah itu. Tapi tetap, mengikuti alur keinginan penulis menyampaikan maksud tulisannya. Hingga akhirnya semua beres. BERES. 

Aku benar-benar menganggap semuanya selesai hingga bulletin itu diterbitkan. Dan ternyata, sebuah luka muncul karena editor amatiran ini. Sial. Seperti membuka memori lama. Semua yang kulakukan rasanya harus dibuka perlahan, kuingat semua yang kulakukan. Ya seingatku saja tentunya.

Oh, jadi editor amatiran itu yang menjadikan tatapan menusuk yang kau berikan ketika menatapku? 
Rasanya yang ku lakukan tak berlebihan. Hanya mencoba menjadi sedikit lebih diantara kalian yang baru saja mengenal asiknya menulis. Membantu mempercantik tulisan kalian karena memang sejak awal keputusan kalian yang membuatku melakukan semua itu. Sebagai manusia ya aku juga berusaha membela diriku sekaligus berusaha memperbaiki diri. Waktu memang berhasil membuat semuanya sirna, tapi tatapan itu. Entah memang aku yang terlalu gede rasa atau mungkin kau juga merasa hal yang sama,  kau masih tak terima akan semuanya.

Ya, terimakasih untuk pecutanmu. Kau dan tulisanmu memang cantik. Tanpa harus dipercantik lagi. Dan itu cukup membuatku terbangun dan sadar akan tujuan awalku ada di dalam satu payung bersama nona cantik sepertimu. Bukan menjadi  nona tercantik, melainkan untuk mempercantik  tingkah dan hati senada dengan untaian kata indah kita. 


farmaset oh farmaset -____-

Kuliah. itu aktifitas pertama yang aku lakukan di awal bulan April yang sangat cerah ini. eh, aku suka awal bulan ini lho. tepat tanggal 1 April harinya Senin, entah kenapa itu jadi sebuah ketertarikan pagi ini ketika melihat kalender di handphone.. hahaha
Kuliah pagi ini, akhirnya jalan lagi ke kampus menulusuri semak-semak jurusan pertanian dan ilkom setelah satu minggu berleha-leha menikmati liburan galungan, akhirnya duduk di kelas dikelilingi oleh kawan-kawan yang sibuk dengan kesibukannya masing-masing, akhirnya dibuat semakin galau kembali dengan jurnal farmaset dan dosen farmaset yang *hmmm..* *no comment*. eh, ini satu hal yang membuatku berpikir keras hari ini, mata kuliah farmaset tepatnya farmasetika dasar merupakan mata kuliah yang cukup membuat cemas semester ini. mata kuliah ini menuntut mahasiswa terampil dalam segala hal. mulai dari terampil menghitung dosis, membaca resep *ini tidak semudah membaca novel ya sodara-sodara*, membuat jurnal sebelum pratikum, terampil meracik obat saat pratikum, dan terampil membuat laporan sesudah pratikum. Oh God, berikan saya kekuatan semeseter ini #meratap -_-
Bagian yang membuatku berpikir keras bukan hanya sekedar itu, hadirnya mahasiswa yang berasal dari Sekolah Menengah Farmasi (SMF) ditengah-tengah mahasiswa lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) contohnya aku ini benar-benar merasa terkucilkan ketika mereka dapat mengangguk yakin ketika dosen menerangkan, mengacungkan tangan bertanya ini itu kepada dosen, dan berdiskusi bersama kelompok sesama anak smf itu saja. Lalu bagaimana nasib kami (sma) kedepannya? #nangis di pojokan.
Resolusi IP tinggi semester ini menjadi suatu 'pekerjaan berat' buatku. paling tidak masih sama seperti semester kemarin sudah sangat bersyukur.........
huaaaa, masih dengan kegalauan farmaset hari ini mari kita membuka slide dan belajar sediaan liquid *ganbbate*

 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com