Pages

Tampilkan postingan dengan label pers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pers. Tampilkan semua postingan

Mengintip Kisah Unik “Bekal Makanan” di Balik Sebuah Kesuksesan

 Saya tidak malu membawa bekal makanan sendiri dari rumah, karena dengan itu saya bisa menghemat waktu dengan menggunakan waktu makan siang untuk bekerja dan tentunya lebih irit bukan? Simple, Life is choise,” tutur wanita berambut sebahu ini sembari tersenyum.

Ellies Sutrisna (image from google)
          Ellies Sutrisna. Ya, siapa kiranya yang tak kenal dengan wanita yang satu ini. Ellies –sapaannya- adalah seorang book writer, entrepreneur, speaker sekaligus trainer handal yang terkenal dengan the best bussines coach. Pencapaiannya saat ini tidaklah serta-merta didapatkannya, berbagai upaya dilakukan oleh perempuan yang pada bulan April ini genap berusia 50 tahun untuk mencapai kesuksesan hingga saat ini. “Kehidupan saya dulu sangat sederhana, makan pun susah hanya 1 telur untuk makan dan itupun harus dibagi menjadi 7 bagian  untuk keluarga saya lainnya dan kami hanya makan daging saat ada kelurga atau tetangga yang berulang tahun,”ungkap Ellies yang selalu memotivasi dirinya agar anak-anaknya tidak mengalami kehidupan yang sulit seperti dirinya terdahulu.
            Hal inilah yang mendesak perempuaan lulusan terbaik di University of Wollongong New South Wales ini untuk menciptakan kehidupan yang layak dan nyaman. Berbagai pekerjaan dilakoninya untuk dapat bertahan hidup dan meneruskan kuliahnya di negeri kangguru tersebut. “Setiap malam saya kerja di restoran dari hari Senin-Jumat dan kerja di toko ikan pada hari Sabtu dan Minggu dari pukul 4 sore-6 sore,”kenang ibu yang saat kecil juga memiliki hobi menyanyi dan menari ini.
            Hingga pada tahun 1989 Ellies memulai karirnya di Indonesia. Hampir setiap tahun ia meraih penghargaan “Top Achiever“ dari perusahaannya. Tak hanya itu, wanita yang telah memutuskan pensiun pada tahun 2005 ini juga sempat menjadi direktur termuda dari beberapa anak perusahaan Teknologi Informasi Public terbesar di Indonesia karena karirnya yang melesat begitu cepat. Ada satu rahasia unik sejak dulu dari Ellies yang hingga saat ini masih terus dilakukannya. Saya tidak malu membawa bekal makanan sendiri dari rumah, karena dengan itu saya bisa menghemat waktu dengan menggunakan waktu makan siang untuk bekerja dan tentunya lebih irit bukan? Simple, Life is choise,” tutur wanita berambut sebahu ini sembari tersenyum. Ya, Ellies tidak pernah malu walaupun sering dihina oleh teman di kantornya terdahulu, karena baginya sejak dahulu ia terbiasa tidak memiliki uang dan kesuksesan itu ada karena pilihan diri sendiri.
            Tak henti sampai di sana, di tengah perkembangan jaman yang segala sesuatunya menjadi sangat mudah dijangkau namun seharusnya tak menjadikan seseorang terlena akan perkembangan teknologi yang ada melahirkan idealisme Ellies untuk membangun sebuah tayangan yang mampu menginspirasi, memotivasi, memberikan ide dan peluang baru, serta mengedukasi melalui tv streaming di www.tvexelent.com.Saya ingin terus mendalami tentang leadership yang benar dan berbagi kepada masyarakat,” ungkap perempuan yang juga  menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) perusahaan PMA & Joint Venture ini. Ellies selalu berupaya membagikan ilmu dan pengalamannya melalui banyak media seperti buku, majalah, online, dan yang sedang giat-giatnya dibesarkan adalah tv streamingnya. “Mulailah menjadi anak muda yang terbaik dimata orang tua lalu menjadi mahasiswa terbaik, dan ketika anda bekerja jadilah karyawan atau pengusaha terbaik. Selalu pastikan saat ada pekerjaan maka lakukan yang terbaik. Work smart, work hard, and be the best,” tutup Ellies yang telah menerbitkan banyak buku mengenai pengembangan diri dan bisnis  seperti “12 Jurus Jitu Meroketkan Bisnis” dan “Achieving Financial Independence”. (cah)





Reportase Jurnalistik Fenomena Bali dalam Sebuah Bali Benteng Terbuka

Judul               : Bali Benteng Terbuka 1995-2005 : Otonomi Daerah, Demokrasi Elektoral, dan Identitas-Identitas Defensif              
Penulis             : Henk Schulte Nordholt
Pengantar        : AA GN Ari Dwipayana
Penerjemah      : Arif B. Prasetyo
Penerbit           : Pustaka Larasan
Tahun              : Cetakan pertama Juni 2010
Halaman          : xxx-120


“Mereka takut pembangunan fisik yang tidak terkontrol serta pesatnya perluasan sektor pariwisata dapat menyebabkan kerusakan lingkungan besar-besaran,” keluh wakil pakar berbagai sektor seperti pariwisata, ekonomi, pertanian, dan lain-lain dalam bab pertama yang berjudul Mencari Kestabilan dalam buku ini.

            Bali Benteng Terbuka 1995-2005. Begitulah judul buku dengan cover berlatar klasik berupa pintu ukiran bali lengkap dengan kunci gembok sebuah minuman produksi luar negeri yang juga menggantungkan huruf I dari kata Bali. Buku yang ditulis oleh Henk Schulte Nordholt ini merupakan rangkuman kajian kontemporer terhadap Bali sejak tahun 1995-2005. Fokus penulisan pada buku ini lebih condong ke arah politik. Sajian politik yang diulas dengan apik dalam buku ini memberikan pandangan kepada pembaca mengenai bagaimana caranya melihat aktivitas politik, yang sesungguhnya politik bukanlah milik rakyat. Politik hanya milik orang konglomerat dengan segala pencitraannya dan ambisi berkuasa. Terlebih saat ini, politik tidak jauh berbeda dengan gaya hidup atau life style. Sayang sekali dalam kenyataan ini, rakyat dilibatkan padahal rakyat sendiri sebenarnya tidak tahu-menahu dengan kegiatan politik.

            Tak hanya hal politik, buku ini juga tidak beranjak dari persoalan klasik Bali. Bali yang dilukiskan sebagai cagar budaya dengan segala dilematika nasional hingga internasional. Bali yang dicirikan oleh Henk Schulte Nordholt sebagai benteng terbuka, yang menerima pengaruh luar seraya berjuang melindungi dirinya ini mengupas bagaimana reformasi di Indonesia telah mempengaruhi hubungan kasta dan merombak hubungan kekuasaan di tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga di desa. Peran geng-geng kriminal, hingga fenomena munculnya ajeg Bali juga disoroti dengan kritis oleh penulis yang merupakan seorang Guru Besar Sejarah Asia Tenggara di Universitas Erasmus Rotterdam yang juga menuliskan disertasi tentang sejarah sistem politik di Bali dan telah diterbitkan oleh KITLV Press tahun 1996 dengan judul The Spell of power; A history of Balinese Politics 1650–1940 ini.

            Buku yang dibagi menjadi delapan bab ulasan permasalahan ini mengajak pembaca untuk melihat lebih dalam lagi mengenai Bali sebagai benteng terbuka. Bali memang membutuhkan dunia luar baik dari segi wisatawan, modal, dan tenaga kerja murah, akan tetapi disadari atau tidak rakyat pulau Bali juga merasa terancam oleh kekuatan luar seperti investor besar, dekadensi Barat, dan Islam. Namun sayang, pada buku ini ulasan-ulasan pada tiap babnya terasa sebagai ulasan realitas pulau Bali yang sudah ”biasa” dan kurang bermakna. Penulis menyajikan peristiwa-peristiwa yang menjadi laporan utama atau laporan khusus dari berbagai media yang sengaja disiapkan redaksi dalam rangka memperingati kejadian disajikan dalam buku ini sehingga menyerupai reportase jurnalistik. Tidak ada kajian yang mendalam atau penggunaan teori mutakhir dalam mengkaji permasalahan yang diulas dalam buku ini. Sehingga, buku ini lebih sebagai suatu penjelasan tentang apa yang terjadi di Bali pada kurun waktu tersebut.

            Hanya saja pada bab mengenai fenomena Ajeg Bali, Prof. Henk. menyoroti dengan kritis yang terlihat dari analisis yang tidak hanya berdasarkan informasi media surat kabar, majalah, atau opini masyarakat, tetapi Prof. Henk memverifikasi informasi yang didapatnya dengan pihak penggagas ajeg Bali, yaitu Satria Narada. Memang ada asa dengan gerakan ajeg Bali tersebut, namun menurut penulis buku ini, untuk memproteksi diri secara berlebihan melalui ajage bali ini akan berdampak kurang baik bagi Bali yang berada di wilayah NKRI. Buku yang telah diterbitkan dengan versi bahasa Indonesia ini sangat relevan dan tentunya mempermudahkan pembaca dari segala lapisan untuk mengetahui bagaimana konstruksi peta dan dinamika politik lokal di Bali khususnya sejak tahun 1995-2005. Tak hanya itu, buku ini juga mengulas efek-efek desentralisasi dan demokratisasi terhadap perpolitikan Bali, meninjau peran yang dimainkan cendekiawan urban dalam memperkuat identitas Bali, serta tawaran Schulte Nordholt tentang pertimbangan janji yang ditawarkan demokrasi local. (cah)

Musker Pers Akademika 2013 : Baru dan Seru !

"iyaa.. LPJ diterima.," riuh sorak sorai, tepuk tangan, dan senyum lebar pun memecah dinginnya suasana malam ini. Ah, sudah pagi untuk dikatakan malam. Dini hari ini.

Sekiranya itu suasana yang paling ditunggu-tunggu sejak tadi oleh beberapa orang peserta Musyawarah Kerja (Musker) Akademika 2013 ini. Peserta tidak terlalu banyak, hanya sekitar 15 orang, dan inipun sudah mengalami Quorum 2x15 menit. Huh, kesal juga menanti datangnya kawan-kawan lainnya. Sudah ngaret diawal, bahkan untuk Pra Sidang (pertengahan sidang/awal sidang pleno) lagi-lagi harus menunggu. Syukur masih ada rekan yang bisa diajak bersenda gurau.

Yap, ini dia agenda rutin Pers Akademika Universitas Udayana. Musyawarah Kerja atau lebih akrab dikenal musker ini merupakan agenda menggulingkan KU/PU sebelumnnya atau bahasa sopannya agenda laporan kegiatan yang telah dilakukan sekaligus mengevaluasi dan merencanakan kegiatan Pers berikutnya. Kegiatan ini berlangsung tiga hari dua malam di Hotel Dewi Karya. Hari ini, 15 Oktober 2013 merupakan hari pertama kegiatan ini berlangsung. Sejak pukul 20.00 WITA kegiatan ini berlangsung di Lantai II Aula Hotel Dewi Karya, kegiatan yang harusnya sudah mulai sejak pukul 17.30 WITA ini ya terpaksa dingaretkan dengan beberapa alasan penting. (ngaret =budaya).

Dalam kegiatan ini, kebetulan aku menjadi panitia sie acara yang tidak tahu menahu mengenai acara -_-"
kegiatan ini memang mepet, baru saja selesai mengadakan Bali Journalist Week lalu Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa, langsung ditabrak dengan kegiatan ini. Ikut rapat juga tidak pernah, yang ini karena disrempet dengan kuliah dan pratikum. Ya, lengkaplah sudah. Tapi tenang. Ini tdak menyurutkan niatku menjadi peserta dalam kegiatan Akademika yang satu ini.

Dan, tidak sia-sia. Sidang yang harusnya selesai pukul 22.30 WITA baru selesai pukul 00.00 WITA, jadi ceritanya sidang pleno 1 mengenai Laporan Pertanggungjawaban KU/PU yang dilaksanakan besok disepakati oleh seluruh peserta dimajukan hari ini. Ya, anak muda biasa belum dini hari, belum ada kata semangat hilang. Aku mengikuti kegiatan ini cukup serius, kebetulan sebagai notulen jadi memang harus serius dan fokus ya. Kegiatan yang baru dan seru. Itu kata kuncinya.

Semua organisasi pasti akan melaksanan hal seperti ini, tapi entah mengapa lagi-lagi selalu merasa senang dan bersyukur berkecimpung dengan dunia seperti ini. Terus berinovasi dengan tulisan, mengenal banyak sosok baru yang menginspirasi, melatih diri menahan ego dalam organisasi, hingga mengerti soal presidium, arti ketukan sidang, LPJ, sidang pleno, dan lain-lain ini membuatku berpikir di sepanjang perjalanan pulang untuk tidak menyesal sudah hampir setahun turut mengabdi dalam Pers Kampus ini. Dan terus mengabdi, hingga menjadi alumni. Menulis memang bukan sebagai profesi tetapku, tapi dengan menulis aku bisa mendapatkan pengalaman sekeren ini. Sumpah, asik gila deh pokoknya. *kesenengan sidang*



Jurnalistik itu (harusnya) Menjanjikan

"Banyak orang mengatakan kerja atau menekuni bidang jurnalistik itu tidak menjanjikan. Apa yang menjadi motivasi Bapak hingga saat ini masih setia dengan jurnalistik,?" tanya salah seorang peserta Akademika National Talkshow dengan tema Ini Kisahku, Jurnalis Indonesia (16/09) di Ruang Teater Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Tersenyum. Itu yang tampak dari kedua pembicara talkshow yaitu Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda (Putu Setia) dan Andreas Harsono ketika ditimpali pertanyaan seperti itu. Peserta talkshow lainnya pun tampak antusias menanti jawaban apa yang akan terpapar dari kedua wartawan senior ini.

Menggeluti dunia jurnalistik memang hal yang menyenangkan. Ibaratnya melalui media jurnalistik kamu bisa menguasai isi dunia. Bisa dikuasai untuk kepentingan masyarakat luas dan tidak menutup kemungkinan dikuasai oleh oknum-oknum tertentu guna memenuhi hasrat pribadi mereka. Hal ini pula yang menjadikan susahnya menjadi jurnalis yang independent. "Jarang sekali ada wartawan yang bebas merdeka meliput berita di papua nugini, peristiwa berbau konflik atas nama agama, dan peristiwa sengketa tanah," ungkap Andreas Harsono.Tak jarang wartawan mendapatkan teror dan kecaman keras dari pihak-pihak yang tidak terima dibongkar aibnya oleh seorang pengungkap kebenaran ini. Bahkan, berita kekerasaan fisik hingga kematian yang diterima oleh seorang wartawan kerap kali menghiasi wajah media televisi.

Tak heran jika pada talkshow ini, peserta menanyakan hal menarik di atas. Hal menarik yang menjadi motivasi wartawan senior ini tetap bertahan di dunia kejam jurnalistik. "Bidang Jurnalistik atau pekerjaan menjadi wartawan sangat baik jika kita berada pada pihak media yang memiliki sistem kerja yang menjanjikan," tutur Mpu Jaya Prema. Menurut pandita yang sesekali melemparkan lawakan ini, banyak media yang hingga saat ini mampu mengolah hasil liputan atau riset mereka tanpa perlu dibuatkan berita yang mengolok-olok masyarakatnya sendiri. Tak hanya itu, "Saat ini jadilah wartawan atau reporter yang handal karena menguasai media atau multi media," imbuh Andreas.

Ini dia point jawaban yang sesungguhnya harus mulai dicermati mulai detik ini oleh para penggiat pers atau jurnalistik, menjadi seorang jurnalis pada masa sekarang  sudah menjadi kewajiban untuk dapat menguasai teknologi yang ada. "Memiliki twitter, mampu menggunakan slide, memiliki blog, mengupdate info peristiwa melalui media sosial, dan masih banyak lagi," tutur Andreas Harsono. Jangan hanya menulis saja, tapi gunakan sebanyak-banyaknya media yang ada untuk berbagi informasi. Karena pers harus dapat meminimalisir disinformasi ditengah tsunami informasi seperti saat ini.

Hadiah jadi EDITOR !

Sejelek itu ya tulisan saya sampai habis-habisan waktu itu dirombak..” curhat gadis itu pada seorang senior saat Wisata Jurnalistik di Danau Buyan  beberapa bulan lalu.


Untaian kata selalu terngiang ketika ku tatap wajah gadis itu. Ada perasaan mengganjal yang hingga detik ini ku rasakan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya serasa menerkamku. Setiap baris yang tertulis olehnya seperti mengingatkanku akan semua hal yang ku lakukan pada tulisan indahnya itu. Ya, tulisan indah yang seharusnya tidak perlu dipotong sana-sini. Duh, tak indah lagi kan!

Semuanya berawal dari sebuah ide melakukan ajang duel kelompok. Kami –anggota magang- yang saat itu dipecah menjadi dua kelompok diwajibkan untuk menulis sebuah bulletin. Awalnya merasa tertantang dengan kegiatan ini. Sudah cukup lama tak mengasah otak dan jari-jari tangan yang mulai kaku. Rindu rasanya bertemu dengan orang-orang baru yang bisa berbagi ilmu dan menginsipirasi ketika ditanya ini itu. Saat itu tiap kelompok dipimpin oleh satu pemred (Pemimpin Redaksi) yang tidak lain adalah senior kami yang bukan seperti kami –anggota magang- tentunya. Okelah, pemrednya bisa diajak bekerja sama.

Berhari-hari kami berdikskusi. Melakukan kewajiban kami masing-masing, mencari sumber kesana-sini, ya intinya kami berjuang sematang mungkin. Totalitas. Entah, aku sedikit melupakan kejadian saat itu. Yang ku ingat aku sempat dipercaya untuk mengingatkan teman kelompokku akan batas waktu penulisan rubrik mereka dan juga mengedit tulisan mereka karena mereka sendiri yang menginginkan aku menjadi ‘editor’ amatiran. Ini tidak mudah bung.  Rasanya lebih baik menjadi penulis disbanding harus membaca, mencerna, lalu memperbaiki untain kata yang melenceng namun tetap sejalan dengan pemikiran penulis aslinya. Rasanya saat itu ingin sekali memeluk editor yang selama ini setia mengawasi tulisan yang ku buat. Singkatnya aku berusaha melakukan semuanya dengan totalitas. Potong sana potong sini, tambah ini tambah itu. Tapi tetap, mengikuti alur keinginan penulis menyampaikan maksud tulisannya. Hingga akhirnya semua beres. BERES. 

Aku benar-benar menganggap semuanya selesai hingga bulletin itu diterbitkan. Dan ternyata, sebuah luka muncul karena editor amatiran ini. Sial. Seperti membuka memori lama. Semua yang kulakukan rasanya harus dibuka perlahan, kuingat semua yang kulakukan. Ya seingatku saja tentunya.

Oh, jadi editor amatiran itu yang menjadikan tatapan menusuk yang kau berikan ketika menatapku? 
Rasanya yang ku lakukan tak berlebihan. Hanya mencoba menjadi sedikit lebih diantara kalian yang baru saja mengenal asiknya menulis. Membantu mempercantik tulisan kalian karena memang sejak awal keputusan kalian yang membuatku melakukan semua itu. Sebagai manusia ya aku juga berusaha membela diriku sekaligus berusaha memperbaiki diri. Waktu memang berhasil membuat semuanya sirna, tapi tatapan itu. Entah memang aku yang terlalu gede rasa atau mungkin kau juga merasa hal yang sama,  kau masih tak terima akan semuanya.

Ya, terimakasih untuk pecutanmu. Kau dan tulisanmu memang cantik. Tanpa harus dipercantik lagi. Dan itu cukup membuatku terbangun dan sadar akan tujuan awalku ada di dalam satu payung bersama nona cantik sepertimu. Bukan menjadi  nona tercantik, melainkan untuk mempercantik  tingkah dan hati senada dengan untaian kata indah kita. 


 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com