Pages

Tampilkan postingan dengan label random. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label random. Tampilkan semua postingan

Terlalu dan Kamu



"(Terlalu) Mudah datang dan pergi.. Kamu,"
Sering sekali mendengar yang lain berkata, jangan ada kata terlalu diantara kata lainnya.

Katanya, yang ada terlalunya pasti menyakitkan. Nahlo. Mungkin bagi sebagian orang yang setuju kata terlalu disitu membuatnya berharap dengan hasil  baik tanpa peduli prosesnya, tapi bagi sebagian orang lainnya mungkin kata terlalu bisa membuatnya lebih optimis menjalani beberapa hal. Seperti kali ini, bangun terlalu pagi selalu membuatku merasa rugi jika tidak melakukan sesuatu. 

Terlalu lainnya di pagi ini tentang kamu. Kamu, yang membuatku berhati-hati memilih hati lagi ! *ups

Hm...
Aku sungguh percaya, ketika seorang perempuan menerima cinta seorang laki-laki itu artinya ada sesuatu diantara mereka yang dirasakan berbeda. Membuatnya sulit bernafas, sulit berbicara, dan rasanya ingin terbang saja. Aku juga selalu tertarik ketika mendengar cerita temanku tentang ini, entah yang terhambat kasta, terhambat restu orang tua, terhambat jarak ribuaan kilometer, terhambat dengan usaha yang minim tapi niat punya pacar yang tinggi, terhambat dengan kewajiban membahagiakan orang tua dan menomerduakan perasaan, apalagi yang terhambat perbedaan cara menyebut namaNya. Ini seperti hiburan ditengah kroditnya kehidupan. Temanku dengan kisah cinta barunya mungkin merasakan apa yang kusebut diawal tadi, ketika mereka memutuskan untuk bersama atau menunda kebersamaan "terlalu" disini juga memainkan peran. Aku percaya Eling (teman makan besarku) tidak akan sekuat itu membawa jiwa rapuhnya untuk LDR jika cintanya tidak terlalu besar untuk kekasihnya, atau mungkin Dwi (teman gila dietku) tidak akan sanggup menunda perasaannya jika memang dia tidak terlalu sayang orang tuanya. Hahaha.. entahlah, aku banyak melihat dari sekitarku. Mereka yang "terlalu" sering ada dan selalu mengajari banyak hal.


Lalu, tentang aku? Lagi-lagi aku belajar dari kamu. Terlalu cepat terbuai dengan hal indah memang susah untuk dikendalikan, seperti yang kesebut diawal tadi (lagi). Rasanya ingin terbang saja. Aku lupa kalau aku tidak bisa terbang dan kalaupun terbang itu juga karena sayap yang kamu ciptakan. Ketika kamu ingin mengambil sayap itu lagi, ya jatuh. Syukur-syukur kalau jatuhnya di atas kasur empuk. Hehehe.. Terlalu galau dipagi ini juga tidak baik ya. Pagi itu awal. Galau itu akhir. Jadi pagi dan galau itu tidak bisa dihubung-hubungkan, tapi bisa terlalu mudah disatukan. haha :p

Intinya, berharap terlalu dalam kepada seseorang sepertinya mulai sekarang harus dibatasi. Manusia akan selalu berkembang, dia harus bisa membatasi segala sesuatunya. Secukupnya. Sesuai porsinya. Kalau memang harus ada kata terlalu, gunakan itu sebaik-baiknya karena selalu ada resiko disetiap kata terlalu.

Tidak ada yang terlalu baik untuk ditunggu, dan terlalu buruk untuk dilupakan sedemikian rupa. Hingga dia tetap menunggu berarti memang ada "terlalu" yang begitu indah yang dipercayanya akan hadir di akhir kisah. Hingga dia bisa tetap tersenyum melihatmu bersama seseorang lainnya, bisa jadi ada "terlalu" cinta yang sedang kau sia-siakan. Tapi, ketika dia memutuskan untuk pergi, mungkin dia tidak "terlalu" cinta padamu hingga memutuskan mencari seseorang yang bisa membuatnya terus bahagia. Lain halnya ketika dia memutuskan untuk pergi karena ingin membahagiakan mu, mungkin kamu harus peka, menoleh sejenak ke belakang, apa dia benar-benar ingin kamu bahagia atau sudah "terlalu" pintar membodohimu dan memulai cinta yang baru dengan seseorang yang "terlalu" bodoh lainnya. Mungkin dia "terlalu" lelah dan kamu juga tidak harus terpaku dengan rasa terlalumu itu.

Manusia memiliki bermiliar pilihan dalam hidupnya. Entah terlalunya itu akan digunakan seperti apa. Ku harap itu pilihan yang sudah tepat. Bukan lagi terlalu tepat ya!

Berakhir di Awal Kepala Dua

Sebentar lagi tanggal 30 Juli berakhir. Huh, entah ini penutup yang indah atau tetap harus disyukuri menjadi penutup yang indah. Saya memang menganggap 30 adalah tanggal terakhir dari bulan sakti yang satu ini. Tanggal ini merupakan tanggal penentu kelangsungan hidup saya. Khususnya di tahun ini. Mungkin terkesan cukup berlebihan, tapi ini serius lho.

Hm.. kuota paket habis, pulsa yang jatahnya satu bulan lenyap, salah kirim pulsa akibat (mendadak) gak inget nomer sendiri, gak bisa tidur, mata udah semakin sipit akibat air mata yang non stop dari sore. Please deh, kacau banget sih hidupmu (ngomong sama kaca). Jadi begini asal muasal bagaimana bisa sekacau ini, ya hari ini hari spesial (seharusnya) untuk seorang mantan pacar saya. Ehem.. serius mantan dan gak bakal pernah jadi pacar apalagi suami. Miris bung. Saya cukup antusias untuk merayakan hari ini, faktor utama bukan karena masih terlalu cinta atau apa, tapi karena kami sudah tidak punya cukup banyak waktu untuk bersenang-senang seperti saat SMA.

Saya dan dia sudah mulai beranjak dewasa dengan umur berkepala dua di bulan kelahiran kami yang sama. Mau tidak mau saya dan dia harus menerima segala tetek bengek beratnya masalah orang dewasa. Sebenarnya dari awal kami bersama (dulu) juga sudah menjadi suatu masalah. Ya kami berbeda keyakinan, berbeda dalam menyebut nama Tuhan. Itu menjadi masalah cukup besar bagi orang-orang dewasa disekitar kami, walaupun sebenarnya dia yang selalu menemani saya keliling sekolah (dulu) untuk sembahyang saat pulang sekolah, dia yang selalu mengingatkan saya untuk menundukan kepala sejenak sebelum makan, dan dia yang selalu mengajarkan saya untuk pasrah kepada Tuhan akan semua masalah yang saya hadapi. Ini bekal hidup, saya dapat dari mantan pacar saya. Bukan dari orang-orang dewasa yang selalu memicingkan mata ketika melihat kami (dulu) bersama. 

Kembali ke masalah orang dewasa, sudah sejak lama. Entah tepatnya kapan, saya lupa atau mungkin malas mengingat. Dia bercerita akan pergi meninggalkan saya untuk mengejar cita-citanya di luar negeri. Begitu antusiasnya dia bercerita, bahkan saya juga telah menemani dia bersama keluarganya menyiapkan segala keperluaannya untuk hidup di luar negeri. Awalnya Jepang sekitar satu tahun, dan tiba-tiba Irlandia sekitar enam bulan. Itu tempat yang (seharusnya) menjadi tujuannya. Satu hal yang membuat saya begitu sedih ketika dia berkata bahwa saya bukan prioritas utamanya lagi, jadi dia tidak ingin saya kecewa dengan membiarkan saya menantinya pulang tapi dia tidak bisa bersama dengan saya ketika saat itu tiba. Jangan berpikir dia jahat, dia baik. Bahkan teramat baik, hingga tidak ingin saya menanti dia  yang fokusnya hanya untuk sukses. Dia tidak ingin saya ikut rumit bahkan sengsara karena menunggu dia. Entah perasaan apa yang saya rasakan ketika pertama kali dia mengatakan itu kepada saya. Ibarat gunung, mungkin saya bisa langsung saja meledak. Semuanya porak-poranda.

Ini awal masalah dewasa terumit, bahkan sangat rumit setelah hubungan beda keyakinan kami. Sebelumnya kami memang sesekali tampak bersama. Jika kami tidak sama-sama sibuk mungkin kami bisa mengalahkan pasangan teromantis sekalipun. Menurutku ini kebiasaan. Kebiasaan yang membuat kami saling membutuhkan. Aku dan dia bisa punya berjuta cerita yang bisa kami tertawakan tiap kali berjumpa. Entah itu lucu atau tidak, ada perutnya yang beranjak buncit yang tetap bisa digoda. Dan akhirnya kami tertawa. Mungkin beberapa orang akan heran dengan hubungan jenis apa yang kami jalani. Aku dan dia pun tak tahu. Dia memang saat ini tidak ingin membuka hatinya untuk wanita lain karena itu bukan prioritas utamanya, walaupun tidak menutup kemungkinan jika ada gadis belia seperti JKT 48 yang jomblo dihadapannya akan disikat pula. Aku tidak mempermasalahkan ini. Tepatnya tidak beranci jamin akan cemburu atau tidak, tapi aku hanya mengizinkannya untuk bersama dengan wanita yang sama keyakinannya dengannya. Sedangkan aku, putus darinya sudah beberapa laki-laki yang wara-wiri di hati. Jangan kira dia tidak tahu, atau dia tidak peduli. Bagiku dia sangat peduli, bahkan ketika aku sedang frustasi dengan laki-laki yang nampak memberi harapan palsu padaku, pelarianku ya padanya. Hanya dia yang komplit tahu mengenai semua laki-laki yang dekat denganku. Kadang dia cemburu, kadang dia memarahiku, kadang dia menegakkan kepalaku supaya tidak membanding-bandingkan laki-laki lain dengannya.

Saat ini kami sama-sama sendiri, aku benar-benar berpikir bagaimana bisa menyenangkannya di detik-detik keberangkatannya. Aku belajar keras semester ini, walaupun tetap tidak bisa mengalahkan IPK sempurnanya. Aku berencana untuk magang di apotek liburan ini, tapi tidak terealisasi karena liburan yang cukup pendek. Aku juga berencana les bahasa inggris, supaya bisa menyainginya niatnya. Tapi, tidak tercapai. Eits, jangan kira aku berhenti. Aku juga diam-diam membeli buku untuk latihan TOEFL dan kamus kok, hanya saja sepertinya dia tidak akan tahu ini jika tidak membaca ini. Entah bagaimana aku ingin sekali terlihat lebih baik sebelum dia meninggalkanku. Dan hasilnya bulan Juli, bulan yang ku takutkan mendatangkan kebahagiaan.

Bahagia karena hasil semester ini cukup memuaskan untuk memperbaiki semester sebelumnya, aku punya teman-teman kos yang begitu hangat merayakan ulang tahunku, dan hari ini. Penutup Juli ini, kami bertemu. Aku berencana pergi bersamanya, entah kemana. Setelah berhari-hari kami tidak saling bicara, hanya perang stiker di Line yang berujung rasa bosan. Rencana hanya tinggal rencana. Aku mengantarkannya ke tempat les bahasa inggris terkemuka di Sesetan, tapi sayang masih libur lebaran. Jadi kami berputar balik pulang. Tibanya di rumah, yang aku dengar hanya adu argumentasi dia dan ayahnya. Masalah masa depan, ini bukan yang pertama. Seringkali kudengar tentang ini, tapi kali ini nampak lebih serius. Gerah rasanya hadir diantara mereka. Syukur, ada komang (adiknya) yang kujadikan pengalihanku. Aku bermain-main dengan spidol dan white board bersamanya, meskipun tetap kupingku tak bisa berhenti untuk peka mendengarkan semua. Akhirnya aku tahu sendiri bagaimana usahanya meyakinkan orang tuanya, aku tahu sendiri bagaimana fokusnya dia, bagaimana ambisinya yang tak bisa dipatahkan. Sejauh ini, dia tidak jadi berangkat ke Irlandia. Ini masalah dengan kampus dan visanya, dan sepertinya dai sudah tidak mengharapkan. Karena ini bukan hanya sekali, sudah beberapa kali dia menaruh harapan tapi tetap tidak ada kabarnya. Sekarang fokusnya meneruskan garment milik keluarganya, entah dia jadi cuti dari kuliahnya atau tidak. Dan tentunya akan tetap tekun belajar bahasa Inggris dan Jepang sembari menanti keberangkatan lainnya. Yap, hari ini aku menyerah. Sungguh berjanji pada diri sendiri tidak akan mengusiknya sedikitpun. Aku tahu bagaiman raut wajahnya yang berubah ceria ketika selesai berargumen dengan ayahnya, wajah yang sebelumnya cemberut tapi berusaha ditutup-tutupi benar-benar berubah ketika dia mantap dengan masa depannya.


Aku menyebut ini pengorbananku untuk sebuah kesuksesan. Tidak ada yang lebih menyenangkan melihat yang disayang bahagia mengejar cita-cita walaupun harus meneteskan air mata melepas semua kebiasaan bersama. Aku memang tidak bisa melakukan ini, tapi aku harus melakukan ini. Aku juga harus mulai dengan sesuatu yang lebih baik sepertinya, bukan malah meratapi kepergiannya. Dia telah membuat hidupku berubah jadi lebih baik, dan itu harus kuteruskan. Meski harus kehilangan sepotong hati. Aku akan mulai semuanya dari awal, mulai menyusun hal-hal menyenangkan yang bisa kulakukan. Mungkin aku tidak akan terburu-buru mencari penggantinya, berkaca dari pengalaman sebelumnya. Tidak ada yang menetap di hati begitu lama, yang diharapkan terbaik malah setengah hati bersama. Hehehe. Ya, setidaknya mencari teman bicara dulu lah ya, yang bisa diajak berbicara dan tertawa ngalur-ngidul. Kalau klik siapa tahu bisa jadi teman hidup. hihihi *promosi* ^^v

Sekian cerita saya, akhirnya kantuk datang juga. Ah, leganya.

Selamat ulang tahun, lebih semangat mengejar cita-cita diumur yang sudah berkepala dua.
Terima kasih untuk semua kenangan yang indah :)

Serius, Ini Makan Hati

"Kenapa masih peduli ? Sudah tahu itu makan hati.."

Ini ibaratnya melihat seseorang yang terkapar, bolak-balik mencari bantal, untuk mencoba terlelap disaat orang-orang sibuk bercengkrama. Mukanya pucat. Badannya terlihat lemas. Tanpa basa-basi langsung saja bertanya, "Kamu sakit ? Sudah Makan ?" setelah pertanyaan itu muncul dan jawaban yang terucap terkesan acuh mungkin yang terbersit diawal "Kok masih nanya-nanya sih,"


"Masih saja dibanggakan, sudah tahu itu bersamanya hanya sebuah khayalan,"

Ketika seseorang sudah menyatakan untuk tidak mengharapkannya, untuk menutup rapat hatimu dan memberikan pada orang yang lebih tepat, cobalah cerna kata-katanya. Jika kamu tidak bisa segera meninggalkannya, coba berhenti untuk menyebut namanya saat kamu berbincang dengan kawan-kawanmu. Ketika kamu masih terus menyebut namanya, kamu akan terus mengingatnya, dan semakin sulit untuk berhenti membanggakannya. Ini masalah besar. Semakin besar ketika kamu tidak sadar realita kehidupan, kalau hal kecil seperti berhenti menyebut namanya dalam hari-harimu adalah hal termudah untuk mengabaikan khayalan indah.

"Sudah tahu menyakitkan, sampai kapan terus diperjuangkan?"


Ini seperti orang-orang di sosmed yang terus memperjuangkan penolakan reklamasi. Segala upaya mereka lakukan untuk menggagalkan niat rakus petinggi negara. Tak terhitung harus berapa kali turun ke jalan. Sama seperti kamu yang terus berjuang hingga kamu lelah dan merasa terabaikan. Apa kamu langsung menyerah ? Tak tahu, yang terpikir hanya setelah matahari datang lagi di keesokan hari rindu itu datang lagi. Sepertinya tidak akan mudah untuk berhenti.


"Manusia hanya butuh teman bicara, yang bisa dengan tulus memeluknya ketika tak sengaja air matanya menetes"

Suata saat mungkin akan terjadi krisis teman bicara. Ketika yang dibutuhkan hanya duduk bersama, saling bertegur sapa, bersendau gurua, atau sekedar bercerita bagaimana hari ini dilaluinya. Saat ini aku begitu sulit menemukan ini. Atau mungkin aku saja yang terlalu senang menyimpan sendiri ? Hingga penuh dan harus membakar sendiri file-file yang tersimpan di hati seperti apa yang dilakukan Spongebob hanya untuk mengingat namanya. Krisis teman bicara ? Sungguh menyedihkan.
 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com