Pages

Tampilkan postingan dengan label moment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label moment. Tampilkan semua postingan

Kehilangan Cinta yang Baik

“Apa kamu gak takut kehilangan cinta yang baik? Haha..”

Sekiranya begitulah BBM yang ku terima dari kelanjutan percakapan minta tolong mengirimkan surat pembicara ke salah satu koordinatorku panitiaku. Aku melihat pesan itu lebih lama dari pesannya sebelumnya. Iya ya, aku takut gak sih itu terjadi ? hmm.. 

Hingga detik ini, aku terus berjalan mengikuti isi kepalaku. Sesekali aku menuruti isi hatiku. Walaupun tau pada akhirnya akan galau sendiri, ku coba untuk mengabaikan isi hati. Demi kedamaian mood, sebaiknya ini mulai dibiasakan. Pikir ku begitu. Aku masih kembali beradaptasi dengan dunia yang baru, yang apa-apa mesti dikerjakan sendiri. Bahkan kali ini lebih parah, ketika benar-benar tidak ada yang dekat yang bisa ku keluhkan ini itu. Tidak ada yang datang tiba-tiba membawa makanan apalagi senyuman ke kos ku. Oke, ini siklus hidup. Berputar. Semua akan baik-baik saja. Semua akan kembali indah pada waktunya. Sekali lagi aku sedang dan akan terus berusaha berdamai dengan ini semua.

Sepertinya damai itu yang membuatku tenang melangkah sendiri. Aku sesungguhnya tidak yakin dengan ini, tapi satu hal yang aku percaya kalau cinta yang (katanya) baik tidak akan sepenuhnya pergi meninggalkan. Mungkin dia pergi saat ini, tapi Tuhan selalu membenturkan masalah atau kondisi apapun yang sama pada manusia yang berjodoh. Kalau pernyataan yang  ini aku sangat yakin. Seberapa jauh pun kita (aku dan kamu) berjalan, saling melupakan, atau berusaha saling mengabaikan ketika Tuhan berencana lain selalu saja ada cara untuk membuat kita saling tersenyum satu sama lainnya.

Cinta yang baik tau harus kemana dia pulang. Rumahnya ya aku, sejauh apapun dia berkelana menyusuri semua musim itu.

Satu lagi yang membuatku terusik, ku pikir cinta yang baik tidak pernah meninggalkan. Bahkan sekalipun dia terpisah satu sama lainnya. Dia akan tetap ada, mungkin dengan versi cinta yang berbeda. Level cinta tertinggi kan katanya kasih sayang tak terhingga sepanjang masa. Hehe, bahkan ketika dia bukan jadi kekasihmu, biasanya saat ini level sayangmu akan semakin tinggi. Dan ini terkesan lebih mengerikan bagiku. Ketika kamu begitu sayang padanya, tapi tak bisa memiliki.
*gigit bantal*

Oke, selamat pagi dari Giri Kencana.
Pagi ini begitu dingin, hingga aku harus bangkit dari selimut tebalku untuk mematikan kipas angin. Dan akhirnya duduk dengan laptop dihadapanku. Hai, tetaplah begitu bawa cinta yang baik itu berkeliling bersamamu. 
Jadikan temanmu, teman yang paling kau cinta.


Akhirnya, berpisah ?

Sabtu, 28 maret 2015
Beberapa jam sebelum pesawat terbang membawamu ke Jepang.
………………………………………………….







Untuk kamu,

Terima kasih tahun-tahun indah bersama atau tidak kamu selalu ada dengan berjuta kejutan di hidupku. Kamu yang ku kenal sejak awal masih di bangku putih abu, teman sepermainan, teman yang selalu ada setiap pelajaran fisika yang tak ku suka itu menggangguku, terima kasih kamu sempat menjadi musuhku, hingga aku tak tahu kamu masih ada atau tidak di sekolah yang sama saat masih sma dulu. Hingga aku menemukanmu saat pacarmu membawakanmu kue di kelas XII IPA 3 itu. Terlalu panjang pastinya jika aku harus menulis semua kisah kita, tapi sungguh terima kasih untuk semua pelajaran hidup yang kamu berikan. Aku tak lagi lupa kalau sebelum makan harus berdoa, aku tau bagaimana caranya menghadapi orang lain, aku tau bagaimana caranya berhenti tampil alay dengan status-status di media sosial, aku tau bagaimana susahnya hidup demi membahagiakan org lain. Aku tau semua itu dari kamu. Cinta pertamaku.

Aku tidak pernah membayangkan bagaimana kita bisa mengakhiri hubungan ini. Hubungan ang memang tak ada awal dan ujungnya. Kita sama-sama sadar tak bisa bersama, selama ini kita hanya bisa berdampingan tanpa bersama dan saling membahagiakan. Kamu dengan segala tingkah polamu, satu-satunya lelaki dengan pikiran dewasa dan sikap manja ketika bersamaku yang selalu ku doakan di setiap perjalananmu. Hingga hari ini tiba, hari yang sungguh mengejutkan untuk kita. Maafkan soal insiden mala mini, semoga caci maki ayahku tidak membuat kamu dan keluargamu kecewa.

Esok keberangkatanmu ke Jepang, aku tak tahu bagaimana jadinya nanti setelah semua bekerja sambil belajarmu disana selesai. Membayangkanmu berangkat saja rasanya sudah rumit, apalagi memikirkan beberapa tahun ke depan. Jadi, apa ini saat yang tepat untuk berpisah?

Hai, kamu yang selalu mengerti aku. Terima kasih, tanpamu mungkin aku tak bisa setegar ini. Kamu yang banyak membawaku mengerti hidup. Nasi bungkus yang kamu berikan saat aku ngambek dulu, sementara kamu menahan lapar karena duitmu pas-pasan dulu saat SMA. Ingat itu? Mulai sejak itu aku paham, membahagiakan yang disayang itu butuh pengorbanan.

Termasuk, perpisahan kali ini. 
Pengorbanan untuk ikhlas dan berbenah diri. Selamat mengejar cita-cita, suatu saat jika masih bisa berjumpa semoga kita dipertemukan dalam doa yang sama.
Jika masih bisa menengok aku, aku pastikan kamu melihatku berada di apotek sebagai apoteker cantik dengan bahasa inggris yang jago sepertimu, dan foto dengan latar Paris itu.. Tunggu, aku pasti bisa mewujudkan itu!
……………………………………………………………….

Untuk kalian yang tersayang,
Maaf aku merepotkan semua orang, maaf aku selalu mengeluh hal yang sama, aaf aku belum bisa murni move on hingga detik ini, maaf aku hanya menjadi beban untuk semuanya. Kalian yang melihat ini mungkin mengira aku sangat jahat dengan kekasihku, sangat jahat dengan kedua orang tuaku, atau begitu dramanya hidupku. Hai, perkenalkan. Aku gadis yang harus bisa melepas orang yang ku cintai dan sangat menyanyangiku, aku harus bisa melihat dia bahagia bersama gadis lainnya yang bisa di ajak pergi ke Gereja bersama setiap minggunya, aku yang sejak awal harus sadar kalau orang yang ku sayang ini bukan segalanya, katanya masih banyak yang sayang aku. Aku mencoba tumbuh dengan orang yang sayang padaku, aku mencoba bangkit dengan segera, tapi tolong jangan desak aku terus menerus untuk hanya mendengarkan kalian. Aku juga butuh waktu untuk berlari kencang melupakan masa lalu dan aku butuh kalian yang bisa menerima masa laluku. Beriringan dengan aku yang sangat enggan mengubur masa lalu bukan hal mudah, jangan kira aku tidak berusaha. Kalau kalian masih memaksa, mungkin kalian belum pernah jatuh cinta. Ditambah deh, terlanjur jatuh cinta dengan kekasih beda agama.


Aku tahu hidup selalu memaksa untuk menerima, sepahit apapun hidup, aku harus tetap bahagia, karena sekantong kenangan masih ada, untuk sesekali dikenang hingga manisnya tak terasa.




Terlalu Manis untuk Di-Buang

Selamat Pagi Sabtu pertama di Bulan Maret ^^


Melihat entri tulisan sebelumnya, sedih rasanya tidak ada satupun tulisan di bulan kasih sayang kemarin. Saking terbuainya sampai dilewatkan ya. Sungguh, menyedihkan *drama* T-T

Pagi ini, diawali dengan membersihkan rumah yang hingga tak terlalu bersih *masih ngantuk* dan niatnya sih buat jurnal awal praktikum, udah antusias buka sekian word jurnal kakak kelas sebelumnya buat dibaca, namun sungguh menyedihkan (kedua) terpaku sana sini baca blog yang lainnya. Oke, nanti deh buatnya *penundaan di pagi hari*

Mungkin telat jika menyapa bulan ini sekarang, bahkan terlalu basi mungkin buat orang lain mengingat kejadian sebulan kemarin. Tapi sayang, Februari 2015 terlalu manis untuk dibuang. Tahu kenapa ?

Pertama,
Aku tidak begitu menunggu bulan ini, tapi katanya sih bulan ini sungguh special. Terutama mungkin untuk pedagang bunga dan cokelat. Hm.. ini pertama kalinya aku mengungkapkan siapa pemilik nomer 15 yang selama ini setia disampingku. Entahlah, awalnya ku pikir ini akan menjadi sangat kontroversi bagi banyak pihak, Next, abaikan dan jalani saja ._.

Kedua,
Aku kehilangan yang seharusnya pertama. Ini membuat linglung bahkan hingga detik ini. Aku belum menemukan solusinya, Yang ku tahu, ini membuatku sulit berkata.

Ketiga,
Selasa akhir bulan Februari 2015 kemarin, Mama meneleponku. Biasanya kalau telpon dari orang tua pada jam kuliah, pasti ada yang gawat. Ini sudah mutlak sering terjadi. Saat itu, aku dan temanku Dwi serta Coktik sedang makan siang kesorean di Kantin AF. Telepon ku angkat, dan benar! Suara Mama berbeda. Katanya aku harus segera pulang, Kakek ku sudah tidak ada. Deng! Aku terhenti menguyah, dan segera balik ke kos bersama Dwi untuk segera mengambil jacket dan motor. Pikiranku saat itu, aku harus segera tiba di Denpasar entah bagaimanapun caranya. Bagaimanapun caranya ini sungguh berbahaya, berapa banyak hal buruk terjadi di jalan. Sebainya tidak ku ceritakan. Setibanya di rumah, aku bersiap untuk pulang ke kampung di Tabanan. Singkatnya sudah di kampung, dan memang benar. Aku yang dari kantin hingga perjalanan ke kampung masih belum percaya, kini benar-benar lemas berdiri menatap kakek ku yang tertidur untuk selamanya. Hei, aku memang pernah menangis ketika harus berpisah dengan orang yang ku sayangi, tapi kali ini sungguh berbeda. Ini kali pertamaku, berpisah untuk selamanya dengan orang yang begitu menyayangiku. Tidak ada lagi yang memarahiku ketika berlama-lama memegang piring di dapur, katanya "mau disuapin makan, biar cepet selesai makan?" kalau ingat-ingat ini, rasanya ingin berlama-lama makan lagi. Biar dimarahin lagi.


Aku dan Bulan Kasih Sayang kemarin,
Aku sepertinya masih belum bisa bangkit dari bulan sebelumnya. Terlalu banyak yang mengganjal di hati dan pikiran.
Sekrodit apapun suasana kuliah bulan ini, tetap saja rasanya masih berbeda.
Ada yang kurang, ada yang hilang.
Hingga lebih banyak diam, lebih sulit berkata, lebih sulit berpikir secepat hari-hari sebelumnya.
Mungkin, ini adalah bangun dari mimpi buruk bulan indah kemarin yang akan paling sulit dari apapun. Bahkan ketika aku berharap semuanya berjalan baik-baik saja, kakek ke menyapa lagi untuk kedua kalinya di mimpi ku pagi ini ^^

Hm.. (segera) Berdamailah kau hati dan pikiran.
Tuntun cucumu dari sana ya Pekak :)

Foto pertama dan terakhir - Bersama yang tersayang ^^

Berakhir di Awal Kepala Dua

Sebentar lagi tanggal 30 Juli berakhir. Huh, entah ini penutup yang indah atau tetap harus disyukuri menjadi penutup yang indah. Saya memang menganggap 30 adalah tanggal terakhir dari bulan sakti yang satu ini. Tanggal ini merupakan tanggal penentu kelangsungan hidup saya. Khususnya di tahun ini. Mungkin terkesan cukup berlebihan, tapi ini serius lho.

Hm.. kuota paket habis, pulsa yang jatahnya satu bulan lenyap, salah kirim pulsa akibat (mendadak) gak inget nomer sendiri, gak bisa tidur, mata udah semakin sipit akibat air mata yang non stop dari sore. Please deh, kacau banget sih hidupmu (ngomong sama kaca). Jadi begini asal muasal bagaimana bisa sekacau ini, ya hari ini hari spesial (seharusnya) untuk seorang mantan pacar saya. Ehem.. serius mantan dan gak bakal pernah jadi pacar apalagi suami. Miris bung. Saya cukup antusias untuk merayakan hari ini, faktor utama bukan karena masih terlalu cinta atau apa, tapi karena kami sudah tidak punya cukup banyak waktu untuk bersenang-senang seperti saat SMA.

Saya dan dia sudah mulai beranjak dewasa dengan umur berkepala dua di bulan kelahiran kami yang sama. Mau tidak mau saya dan dia harus menerima segala tetek bengek beratnya masalah orang dewasa. Sebenarnya dari awal kami bersama (dulu) juga sudah menjadi suatu masalah. Ya kami berbeda keyakinan, berbeda dalam menyebut nama Tuhan. Itu menjadi masalah cukup besar bagi orang-orang dewasa disekitar kami, walaupun sebenarnya dia yang selalu menemani saya keliling sekolah (dulu) untuk sembahyang saat pulang sekolah, dia yang selalu mengingatkan saya untuk menundukan kepala sejenak sebelum makan, dan dia yang selalu mengajarkan saya untuk pasrah kepada Tuhan akan semua masalah yang saya hadapi. Ini bekal hidup, saya dapat dari mantan pacar saya. Bukan dari orang-orang dewasa yang selalu memicingkan mata ketika melihat kami (dulu) bersama. 

Kembali ke masalah orang dewasa, sudah sejak lama. Entah tepatnya kapan, saya lupa atau mungkin malas mengingat. Dia bercerita akan pergi meninggalkan saya untuk mengejar cita-citanya di luar negeri. Begitu antusiasnya dia bercerita, bahkan saya juga telah menemani dia bersama keluarganya menyiapkan segala keperluaannya untuk hidup di luar negeri. Awalnya Jepang sekitar satu tahun, dan tiba-tiba Irlandia sekitar enam bulan. Itu tempat yang (seharusnya) menjadi tujuannya. Satu hal yang membuat saya begitu sedih ketika dia berkata bahwa saya bukan prioritas utamanya lagi, jadi dia tidak ingin saya kecewa dengan membiarkan saya menantinya pulang tapi dia tidak bisa bersama dengan saya ketika saat itu tiba. Jangan berpikir dia jahat, dia baik. Bahkan teramat baik, hingga tidak ingin saya menanti dia  yang fokusnya hanya untuk sukses. Dia tidak ingin saya ikut rumit bahkan sengsara karena menunggu dia. Entah perasaan apa yang saya rasakan ketika pertama kali dia mengatakan itu kepada saya. Ibarat gunung, mungkin saya bisa langsung saja meledak. Semuanya porak-poranda.

Ini awal masalah dewasa terumit, bahkan sangat rumit setelah hubungan beda keyakinan kami. Sebelumnya kami memang sesekali tampak bersama. Jika kami tidak sama-sama sibuk mungkin kami bisa mengalahkan pasangan teromantis sekalipun. Menurutku ini kebiasaan. Kebiasaan yang membuat kami saling membutuhkan. Aku dan dia bisa punya berjuta cerita yang bisa kami tertawakan tiap kali berjumpa. Entah itu lucu atau tidak, ada perutnya yang beranjak buncit yang tetap bisa digoda. Dan akhirnya kami tertawa. Mungkin beberapa orang akan heran dengan hubungan jenis apa yang kami jalani. Aku dan dia pun tak tahu. Dia memang saat ini tidak ingin membuka hatinya untuk wanita lain karena itu bukan prioritas utamanya, walaupun tidak menutup kemungkinan jika ada gadis belia seperti JKT 48 yang jomblo dihadapannya akan disikat pula. Aku tidak mempermasalahkan ini. Tepatnya tidak beranci jamin akan cemburu atau tidak, tapi aku hanya mengizinkannya untuk bersama dengan wanita yang sama keyakinannya dengannya. Sedangkan aku, putus darinya sudah beberapa laki-laki yang wara-wiri di hati. Jangan kira dia tidak tahu, atau dia tidak peduli. Bagiku dia sangat peduli, bahkan ketika aku sedang frustasi dengan laki-laki yang nampak memberi harapan palsu padaku, pelarianku ya padanya. Hanya dia yang komplit tahu mengenai semua laki-laki yang dekat denganku. Kadang dia cemburu, kadang dia memarahiku, kadang dia menegakkan kepalaku supaya tidak membanding-bandingkan laki-laki lain dengannya.

Saat ini kami sama-sama sendiri, aku benar-benar berpikir bagaimana bisa menyenangkannya di detik-detik keberangkatannya. Aku belajar keras semester ini, walaupun tetap tidak bisa mengalahkan IPK sempurnanya. Aku berencana untuk magang di apotek liburan ini, tapi tidak terealisasi karena liburan yang cukup pendek. Aku juga berencana les bahasa inggris, supaya bisa menyainginya niatnya. Tapi, tidak tercapai. Eits, jangan kira aku berhenti. Aku juga diam-diam membeli buku untuk latihan TOEFL dan kamus kok, hanya saja sepertinya dia tidak akan tahu ini jika tidak membaca ini. Entah bagaimana aku ingin sekali terlihat lebih baik sebelum dia meninggalkanku. Dan hasilnya bulan Juli, bulan yang ku takutkan mendatangkan kebahagiaan.

Bahagia karena hasil semester ini cukup memuaskan untuk memperbaiki semester sebelumnya, aku punya teman-teman kos yang begitu hangat merayakan ulang tahunku, dan hari ini. Penutup Juli ini, kami bertemu. Aku berencana pergi bersamanya, entah kemana. Setelah berhari-hari kami tidak saling bicara, hanya perang stiker di Line yang berujung rasa bosan. Rencana hanya tinggal rencana. Aku mengantarkannya ke tempat les bahasa inggris terkemuka di Sesetan, tapi sayang masih libur lebaran. Jadi kami berputar balik pulang. Tibanya di rumah, yang aku dengar hanya adu argumentasi dia dan ayahnya. Masalah masa depan, ini bukan yang pertama. Seringkali kudengar tentang ini, tapi kali ini nampak lebih serius. Gerah rasanya hadir diantara mereka. Syukur, ada komang (adiknya) yang kujadikan pengalihanku. Aku bermain-main dengan spidol dan white board bersamanya, meskipun tetap kupingku tak bisa berhenti untuk peka mendengarkan semua. Akhirnya aku tahu sendiri bagaimana usahanya meyakinkan orang tuanya, aku tahu sendiri bagaimana fokusnya dia, bagaimana ambisinya yang tak bisa dipatahkan. Sejauh ini, dia tidak jadi berangkat ke Irlandia. Ini masalah dengan kampus dan visanya, dan sepertinya dai sudah tidak mengharapkan. Karena ini bukan hanya sekali, sudah beberapa kali dia menaruh harapan tapi tetap tidak ada kabarnya. Sekarang fokusnya meneruskan garment milik keluarganya, entah dia jadi cuti dari kuliahnya atau tidak. Dan tentunya akan tetap tekun belajar bahasa Inggris dan Jepang sembari menanti keberangkatan lainnya. Yap, hari ini aku menyerah. Sungguh berjanji pada diri sendiri tidak akan mengusiknya sedikitpun. Aku tahu bagaiman raut wajahnya yang berubah ceria ketika selesai berargumen dengan ayahnya, wajah yang sebelumnya cemberut tapi berusaha ditutup-tutupi benar-benar berubah ketika dia mantap dengan masa depannya.


Aku menyebut ini pengorbananku untuk sebuah kesuksesan. Tidak ada yang lebih menyenangkan melihat yang disayang bahagia mengejar cita-cita walaupun harus meneteskan air mata melepas semua kebiasaan bersama. Aku memang tidak bisa melakukan ini, tapi aku harus melakukan ini. Aku juga harus mulai dengan sesuatu yang lebih baik sepertinya, bukan malah meratapi kepergiannya. Dia telah membuat hidupku berubah jadi lebih baik, dan itu harus kuteruskan. Meski harus kehilangan sepotong hati. Aku akan mulai semuanya dari awal, mulai menyusun hal-hal menyenangkan yang bisa kulakukan. Mungkin aku tidak akan terburu-buru mencari penggantinya, berkaca dari pengalaman sebelumnya. Tidak ada yang menetap di hati begitu lama, yang diharapkan terbaik malah setengah hati bersama. Hehehe. Ya, setidaknya mencari teman bicara dulu lah ya, yang bisa diajak berbicara dan tertawa ngalur-ngidul. Kalau klik siapa tahu bisa jadi teman hidup. hihihi *promosi* ^^v

Sekian cerita saya, akhirnya kantuk datang juga. Ah, leganya.

Selamat ulang tahun, lebih semangat mengejar cita-cita diumur yang sudah berkepala dua.
Terima kasih untuk semua kenangan yang indah :)

June and Beach !


Tegal Wangi Beach

Hi dunia, Hi Juni, Hi yang lagi iseng gak ada kerjaan nengok blog yang gak pernah update ini. Gak kerasa ya tahun ini udah berjalan setengahnya, ini sudah bulan keenam lho pemirsa. Jadi ceritanya, karena kurang kerjaan, iseng buka file foto di laptop. Entah kenapa, album BEACH berisi foto narsis terbanyak. Selain karena memang suka pantai dan bangga menjadi anak pantai, banyak sekali foto bahagia yang membuat good mood di malam awal bulan Juni ini. Nih, aku tunjukin beberapa foto menarik. Lumayan kan buat jadi refrensi jalan-jalan men kalian saat libur semester nanti. Kalo lagi musim ujian gini, foto-foto ini dicetak dulu aja. Tempel deket meja belajar, dijamin jadi ngebet ke pantai eh jadi ngebet belajar biar ujian lancar dan ngebolang ke pantai jadi terasa lebih cepat *ngelesss. Oke, cekidot ~

PANDAWA BEACH 

Pantai Pandawa ini terletak Bali Selatan, tepatnya di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Dahulu pantai ini dikenal sebagai Secret Beach karena lokasinya yang berada di belakang tebing-tebing tinggi ditumbuhi oleh semak belukar.

Tebing seperti ini berada membelah disepanjang jalan menuju pantai. Model di atas adalah kakak sepupu saya namanya Dian. Cantikan tebing atau modelnya ayo ? :))
Nama Pandawa dari pantai ini berasal dari Panca Pandawa, yang sangat apik terlihat di pinggir pantai seperti patung Yudistira, Bima, Nakula, Sadewa, dan Arjuna. 
Ini saya dengan salah satu patung Panca Pandawa
Waktu itu, saya dan Dian pergi ke pantai ini masih cukup pagi sekitar pukul 07.00. Pantai ini masih sangat sepi, jadi kami merasa seperti pantai ini milik kami berdua. Kami asyik berkeliling, berfoto, bermain pasir, loncat tebing sana-sini, hingga akhirnya kami lelah dan tetap berfoto hingga ribuan foto. Sungguh narsis kakak beradik ini ~

Saya, Jukung, dan Senyuman bahagia
Entah dikejar siapa, tapi foto ini sungguh tanpa rekayasa
Lihat tebingnya jangan lihat modelnya, indahnyaaa
Akhirnyaaaa ada orang selain kami di pantai ini, so cheerssssss
*maksa minta di fotoin berdua*
Matahari sudah begitu terik, dengan berat hati kami terpaksa meninggalkan tempat ini. Sungguh menyenangkan, walaupun kami hanya berdua di pantai ini. Tapi kenangannya membekas indah. haha *lebay



Terakhir, Ini pemandangan dari atas pantai. Gimana, Oke kan?
 JIMBARAN BEACH

Yuhuu, ini pantai berikutnya. Lokasinya di Kedonganan, Bali Selatan. Awalnya saya mengenal pantai ini dari seseorang teman *uhuk yang ingin menunjukkan sesuatu kepada saya. Sungguh indah, lukisan wajah dan pemandangan indah. Lukisan wajah -saya- yang tidak saya ambil sebenernya diberikan untuk saya, tapi ya gimana ya, tidak ingin membuat orang GR jadi lebih baik tidak diambil walaupun sebenarnya saya sangat suka dengan lukisan itu *oke abaikan* Bagaiamana soal pemandangan indah ? Ini dia !

Saya ke pantai ini (lagi) dengan teman sepantaian (sebutan untuk anak penggila pantai) yaitu Dewi. Yap, anak ini sudah sama gilanya dengan saya. Pantai adalah surga buat kami. Jadi ketika saya berkata, "wik, pantai yuk bosen nih abis pulang praktikum !" Dewik berkata "YUK !" dan berangkatlah kami ~


Dewik sedang berpose
Ini karang cantik dan cewek yang nebeng cantik

Pantai Jimbaran
Dua kali ke pantai ini, sebenarnya terbilang pantai yang menenangkan. Namun kondisinya yang selalu ramai dengan wisatawan menjadikan pantai ini tampak seperti Pantai Sanur, atau pantai yang sudah biasa dikunjungi oleh masyarakat Bali Selatan.

Hotel disekeliling pantai Jimbaran 
Pecalang pengaman sekeliling keadaan hotel 

TEGAL WANGI BEACH

Byurrrrrrrr.. byurrrrr.. byurrrrrr.. Ingatan badai ombak terbayang ketika membuka album foto dari pantai ini. Yes, ini dia. Pantai yang ditemukan dengan menuju bekas hotel Ritz Carlton ke arah Pura Tegalwangi. Tepat di depan Pura Tegalwangi kita akan melihat pantai dari atas bukit. Ini asli keren men ! 

Saya pergi ke pantai ini selepas kuliah, tepat setelah penat praktikum bersama geng Farmasi Terjang Pantai *nama geng ini fiktif belaka. Jadi rame, yeyeyeye. Eh gak cuman anak farmasi sih, ada juga Ratna, Agus, dan Purwa (sebut saja mereka penyusup). hahaha =P


Dipilih-dipilih, dijual terpisah *eh

Ini adalah pantai yang sungguh luar biasa dahsyar ombaknya. Entah karena cuaca atau apa, yang pasti kami sudah terserat ke kanan ke kiri oleh ombak di pantai ini. Asyik dan Bahaya. Itu dua kata yang membuat kami berteriak bahagia dan mengundang kami untuk waspada ketika salah satu dari kami yang terseret cukup jauh. Oke, syukurnya kami dilindungi oleh Tuhan dan dua orang ini. 

Agus dan Purwa
Tim Sar yang sangat kompak menyelamatkan kami dari amukan ombak :))
Entah bagaimana, saya merasa ini benar-benar anugrah, Ketika kami ramai-ramai ke pantai, ternyata pantainya sungguh WOW. Beruntung sekali ada dua orang ini yang bertaruh jiwa dan harta. Ini serius men, mereka luka-luka karena terbentur tebing, belum lagi flashdisk hilang dan hp rusak total. Kurang ekstrim apalagi coba ?



INI GAMBARAN OMBAKNYA ! COBA PERHATIKAN DAN BAYANGKAN 
*SERU KAN? *EH *BAHAYA INI !!!

hahaha, ini adalah pengalaman ke pantai paling ekstrim yang pernah saya alami. Benar-benar basah, benar-benar totalitas menjadi anak pantai. Tapi ini tidak menghalangi kami untuk tetap mencuri-curi waktu untuk mengabadikan moment. Dengan tetap memperhatikan ombak disekitar kami =P
Saya dan Ratna cantik :))
Awas OMBAKKKKK
model ceritanya 
Ini kami, ini pantai, ini ombak, dan ini kebahagian kami.
Saling menggenggam, berpegangan.
Ini cerita bagi kami, cerita bahagia keesokan hari.

GREEN BOWL BEACH

Pantai ini masih terletak di kawasan Jimbaran, berdekatan dengan Pantai Pandawa. Pantai ini tersembunyi di balik tebing, membuat pantai ini selalu terjaga dan bebas polusi. Sangat sepi tidak seperti kebanyakan pantai lainnya di Bali. Untuk mencapai pantai ini, pengunjung harus berjuang untuk menuruni ratusan anak tangga yang curam. Saya sempat iseng menghitung, sekitar 317 anak tangga. Keren kan? *ngelap keringet


Keringat menuruni anak tangga, terbayar dengan indahnya ini.
Gimana dong ya ? *terharu
Pantai ini sepi, kalian mau jungkir balik, salto, atau joged oplosan juga tidak akan ada yang tahu. Sungguh menyenangkan =))




Kami menghabiskan waktu dengan menyusuri sepanjang pantai, memperhatikan beberapa turis yang sedang bermain bola, dan pada akhirnya kami berpose. Jangan salahkan kami narsis ya, ini hanya bagian dari mengabadikan momen yang akan sangat menyenangkan ketika suntuk seperti saat ini melihat moment-moment seperti ini. 




Dalam foto ini ada Dewik, Gek In, Dwi, Coktik, dan Saya :)
dan Moment ter-asyik dari pantai ini adalah ini. ini dia. silahkan perhatikan wajah di bawah ini. Saya yang berusaha keras menyemangati teman saya ini untuk berjuang pulang. Naik 317 ANAK TANGGA. SELAMAT GEMPOR :))

no caption JUST FIGHTING ! HAHAHA

KARMA KANDARA BEACH

Ini pantai yang pilih kasih dan buat iri. Tapi, gak kalah keren dengan pantai lainnya. Mau tahu kenapa pilih kasih dan buat iri ? Karena pantai yang terletak di Unggasan ini memiliki dua jalur untuk sampai di pantai setelah memarkir kendaraan. Ada jalur bayar dan jalur gratisan. Oke, mungkin belum bisa dikatakan membuat iri. 

Jalur bayar ini ditempuh dengan menuruni jalan menuju pantai menggunakan lift yang harus dibayar per orangnya 250.000. Oke, mulai kebakaran jenggot. Tapi sesungguhnya jika berduit, jalur ini juga menyenangkan dan sebanding dengan kocek yang harus dikeluarkan. Perhatikan deh gambar di bawah ini 


Inclinator (lift) sedang turun menuju Karma Kandara Beach
yang berada di bawah tebing.


Dan, karena kami masih mahasiswa yang belum bisa menghasilkan duit sebanyak itu sendiri. Kami memilih jalur nomer dua. Yuhuu.. apapun kami lakukan demi pantai. *ngeles
Pertama kami melewati ini dulu

Lorong sempit menuju Pantai Karma Kandara

Lalu, lagi-lagi harus menuruni ini. Walaupun jumlahnya tidak sebanyak di green bowl lho ya. Aman deh !


Anak tangga menuju Pantai Karma Kandara


Dan setelah bersusah payah, mau tahu hasilnya. taraaaaaaaa ^^

Karma Kandara Beach
Sungguh bening air pantai disini, sungguh membuat takjub, dan tak henti-hentinya saya berlari kesana kemari walaupun angin sangat kencang dan langit mendung. Kami tetap berbahagia berada disini walaupun pulang dari pantai kami harus naik tangga lagi dengan diguyur hujan. Swingggggg ~

Gek in, Eling, Dewik, dan Saya :))

Bukti angin begitu kencang, dan tetep maksa fotoan biar keliatan semua.
Oke, ini kegilaan kami *perhatikan rambut*
Dan kami terpaksa pulang, karena mendung ini telah berubah menjadi hujan. Sampai Jumpa Karma Kandara :))

Yaps, jadi baru sekian pantai di Bali Selatan yang telah mengukir banyak cerita antara saya dan mereka. Hai Juni, mari selesaikan segera bulan ini karena saya sudah tak sabar bergembira menyusuri pantai-pantai lainnya ~

REFRESH OR DELETE

Aku sedang membiasakan diri untuk tidak bergantung terlalu banyak pada siapapun. Awalnya, ketika aku tidak bisa mengerjakan soal Farmasi Fisika, pikiranku langsung tertuju pada nama itu. Ketika aku kelelahan harus bolak-balik Jimbaran-Denpasar untuk praktikum dan kuliah super pagi itu, hatiku menyebut nama itu lagi. Ketika aku melihat handphone disaat hariku begitu krodit dan ingin mengetik sebuah pesan singkat kepadamu, kali ini aku berupaya tegas pada diriku. Ah, rasanya itu semua tidak perlu. Yasudahlah. 

Aku mulai, sudah, dan ingin sekali terbiasa seperti ini. Terbiasa sendiri walaupun kata temanku "kamu naif, nanti juga dekat lagi," Terserah. Aku tak peduli, yang ku tahu. aku pasti bisa melakukan segalanya sendiri. 

Hai, malam ini aku begitu kacau. Sungguh segala sesuatu terlihat buruk dihadapanku. Aku sedang menata mood dan pikiranku dengan menulis ini. Menatanya mungkin harus sangat cepat, mengingat tumpukan kertas tugas, laporan praktikum, dan UTS besok memanggilku begitu manja. Ini sepertinya bukan hal baru, aku sudah amat terbiasa dengan sifat burukku ini, jangan pikir aku tak ingin mengubahnya ya. Berubah juga butuh waktu kan, sama seperti terbiasa untuk berjuang dan tidak merengek-rengek pada siapapun juga butuh waktu yang tidak instan seperti merebus mie goreng.

Tuhan seandainya ada satu hari untuk aku bisa meluapkan semua ini, andaikan ada satu hari aku bisa berjalan sendiri di antara ombak, andaikan ada satu hari aku bisa bermain ayunan sekencang-kencangnya sendiri, dan andaikan ada satu hari aku bisa duduk santai di atap kos menetap langit senja rasanya itu semua cukup untuk menyegarkan pikiran dan jiwa ini. Atau Tuhan jika itu semua kau pikir tidak perlu, kau rasa aku terlalu banyak meminta, atau terlalu cengeng, bantu aku menghapus semua yang mengganggu pikiranku. Itu mungkin lebih dari cukup. 

Oke, mari menunggu. Kau lemparkan penghapus atau penyegar ruangan ke arahku.

Tanpa Judul

"Aku jatuh cinta padamu diam-diam, karena aku tahu tak ada hari yang akan kita kenyam."Malam ini sepertinya hari terakhir aku menulis ini untukmu. Sangat berharap setelah ini aku bisa benar-benar mengikhlaskan kepergianmu. Seperti biasa, sejak aku memutuskan untuk berusaha tidak berkomunikasi denganmu walaupun pada akhirnya upaya tahu diriku gagal (lagi). Ini bukan kali pertama, sudah berkali-kali aku berupaya untuk menjauh, atau sekedar berusaha untuk tidak mengecek setiap detik handphoneku, atau berharap kamu mengabariku meski hanya sekedar kata 'Hai'. Tetap saja pada akhirnya aku gagal, aku kembali menghubungimu dan kamu tetap hangat menyambutku. Rasanya seperti dibawa terbang oleh bidadari dari khayangan. Sejak pertemuan terakhir kita, pertemuan yang mana ? pertemuan saat aku berupaya melngukir senyum terakhirmu itu. Setelah beberapa minggu kita tidak bertegur sapa, aku masih ingin meilhat rupa itu untuk terakhir kalinya. Aku senang masih sempat memberikan sesuatu untukmu, semoga itu bisa membuatmu senang seperti bagaimana senangnya aku ketika menyiapkan itu untukmu. Ku pikir hari itu hari terakhir kita berjumpa. Tuhan sungguh baik, masih saja dia membuatku bahagia. Menemani-mu berbelanja ini itu, menyiapkan segala kebutuhanmu disana sungguh membuatku merasa tak karuan. Disatu sisi aku merasa sangat senang, merasa menjadi orang yang kau sayang ketika masih sempat-sempatnya kau bercanda denganku, kau menarik-narikku seperti anak kecil, sekedar memegang tanganku seakan takut aku tersesat ditengah keramaian, atau sesekali mengelus-elus rambutku. Sudah lama aku tidak menghabiskan waktu seperti itu denganmu. Ditambah perasaan bahagia bisa jalan-jalan bersama ibu dan adikmu itu. Kapan lagi kita bisa seperti ini ?Selepas hari itu, selepas kepulanganku dari hari itu aku merasa seperti itu kebahagiaan terakhir yang paling indah yang sengaja Tuhan beri untukku. Tak ada lagi air mata, tak ada lagi kecemasan, tak ada lagi keraguan, tak ada lagi rasa sayang yang harus dipaksakan. Sepertinya itu semua yang diharapkan-Nya setelah dia memberikan segala keindahan itu berturut-turut kepadaku secara nyata tanpa perlu aku berhara hal ini terjadi padaku sebelumnya. Ya, dan ternyata memang semua seperti yang ku pikirkan. Aku berjalan sendiri, tepatnya aku selalu merasa sendiri walaupun aku bisa saja jungkir balik tertawa dan menjaili semua teman-temanku. Aku merasa memang saatnya sekarang aku fokus untuk menenangkan hatiku.Perjalanan ini masih panjang. Aku tidak tahu pastinya bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku. Aku tidak tahu apa besok kamu masih ada dimimpiku atau benar-benar telah jadi debu. Aku mencoba berjalan di jalanku, sesekali menengokmu, ya jika kupikir aku merindukanmu aku bersyukur masih punya kotak terindah. Kotak ingatan akan semua kenangan indah. Jangan paksa aku untuk melempar kotak ini ke pantai, atau menguburnya di bawah tanah, jika kau sudah siap pergi, lakukanlah. Aku sudah cukup bahagia dengan kotak yang ketika ku rindu dapat kubuka dimanapun, kapanpun aku berada.Senang rasanya bisa melihatmu bahagia, bertumbuh dewasa, begitu semangat mengejar cita-cita, begitu angkuhnya aku ketika ingin menghentikan itu semua hanya karena sebuah rasa. Pergilah, selamat menjalani hidup yang lebih indah. Tak ada lagi aku yang merengek-rengek ini itu kepadamu. Aku juga ingin sepertimu, yang begitu luar biasa dimataku. Suatu saat jika Tuhan masih berbaik hati pada kita, semoga masih disisakannya serpihan hati yang diciptakannya dulu untuk kita saling melempar canda tawa. Satu hal yang perlu kau inget, aku setia mendoakan yang terbaik bagimu. 


Bikini Bottom Ceria

" Who lives in a pinapple under the sea? Spongebob Squarepants! "


Ini bikini bottom versi kami. Penuh suka ria dalam mengais kerang, menata kerang, hingga menghancurkan kerang. *eh

Rekan sejawat sedang mengais kerang :p

Sepintas memang terlihat sederhana. Biasa saja. Tapi ini berhasil mengukir senyuman diantara kami. Sama seperti keluarga bikini bottom lainnya, yang selalu ramai, akur, dan indah.

Bikini bottom dengan beraneka kerang
Ditengah penatnya masalah orang dewasa, mengajak seseorang tertawa dengan hal-hal konyol seperti ini setidaknya sejenak bisa mengalihkan bebannya. Yup, sekali lagi aku berhasil membuktikan bahwa bahagia itu sederhana. 

Sekedar Pertemuan


“Hari ini kita bertemu, mungkin besok kau jadi temanku. Sekedar pertemuan tapi bukan..”

Pantai kuta malam itu berawal dari keinginan kita untuk berjalan-jalan. Bukan pantai tujuannya, sekedar pergi menghibur diri. Sudah tahu tiket menonton cinta brontosaurus sudah habis, aku tetap menurutinya untuk pergi mengikutinya. Di benakku, “ya apa salahnya sesekali bersenang-senang..”

Pantai kuta malam itu menjadi tujuan berikutnya ketika ia masih tetap ingin bepergian. Rasanya enggan, melihat waktu yang sudah cukup malam. Tapi, ia masih berhasil membujukku. “okelah.. toh besok tidak ada matakuliah yang membangunkan ku..”
Pantai kuta malam itu terlihat tidak seramai biasanya. Rasanya heran melihat suasana itu. Tap cukup membuat tenang. Seperti bias, antusias melihat pantai masih tetap ku rasakan. Yang beda hanya kini antusias itu bukan bersama orang yang sama. Rasanya sesak jika diingat, tapi syukurnya dinginnya pantai bisa membuat semua lebih baik. “mikirin apa kamu? Duduk sini..” “eh iyaa..”

Pantai kuta malam itu membuatku bercengkrama lebih banyak dari awal pertemuan dengannya. Aku mengenalnya sudah cukup baik. Tapi kami jarang bertemu. Dan memang tidak akan bertemu jika tidak kami rencanakan. Awalnya canggung, namun semakin gelap, semakin banyak bintang, semakin banyak pesawat yang terlihat, semakin dingin semilir angin, semakin besar ombak yang bergulung, semakin hangat pula pembicaraan kami. Aku tak peduli kami bercerita tentang apa. Yang kurasa hanya nyaman. “setidaknya ini lebih baik.. disbanding harus memeluk guling dan memandangi langit-langit kamar sendirian..”

Pantai kuta malam itu memberikan kenangan. Kenangan akan pasir yang menjadi bahan guruan kami. Yang menjadi suasana baru yang ku rasa. “Hay, pantai kuta? Terima kasih untuk malam itu J” #13 Mei 2013
 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com