Pages

Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Pantai Pondok Pemuda - Good bye June

"Pagi.. jangan pergi kutakut malam nanti kumasih sendiri dan pagimu tak lagi indah.." Pagi - Dialog Dini Hari

Aku sempat bernyanyi lagu itu, begitu cerah pagi tadi. Siapa yang rela melepas pagi jika berada disini. Rasanya pagi bagitu indah ketika disapa oleh gulungan ombak dan matahari cerah menyambut kehadiran kami. Hai, ini cerita pagi tadi saat kami (akhirnya) ke pantai setelah sekian lama mewacanakan melepas penat ke tempat yang tidak ada matinya ini. 

Pantai Pondok Pemuda Jimbaran - Bali
Pukul 06.30 aku dan Dewi sudah bersiap meninggalkan selimut hangat kami. Antusias begitu besar jadi kami hanya cuci muka dan berangkat. Memang dasarnya males mandi sih, jadi kami saling tidak masalah mencium aroma kurang sedap satu sama lainnya. Oke, abaikan. Hm.. kami mulai perjalanan.
Perjalanan hari ini hanya bermodalkan hasil kepo Dewi di blog orang yang sudah pernah duluan ke pantai ini. Sumbernya memang kurang valid, tapi kami percaya "di balik niat ke pantai yang kuat, ada tujuan yang tepat," Alah. Ngawur lagi. Jadi, setelah 20 menit pertama kira-kira. Jalanan masih sepi. Kami memilih melewati Pantai Jimbaran lalu lurus terus hingga melewati Hotel Four Seasons, lalu belok kiri belok kanan belok kiri belok kanan (percaya blog orang banget). Teng.. Teng.. kami kembali ke jalan besar tempat dimana kami memulai perjalanan. Yes, kami tertawa terbahak-bahak menertawai tingkah bodoh kami yang nyasar (ini nyasar pertama). 
\
Yuk putar balik, Kami masih tetap berusaha. Dan mulai mengandalkan insting dan tetap masih percaya blog orang. Kali ini kami menemukan sebuah petunjuk. Seperti detektif kami segera menyusuri jalan ini. Kata blog, untuk sampai di pantai ini kami harus menyusuri hutan jati. Kami menemukan hutan jati, tapi sungguh malang kami tidak menemukan jalan menuju pantai. Dimana-mana terpajang jelas tulisan "not entry". Sip, kami positif thinking kalau kami nyasar (nyasar kedua) dan mari putar arah lagi. 

Sampailah kami di jalan besar yang mentok ke arah Hotel Ayana dimana belok kirinya (dari arah kami) adalah jalan menuju Pantai Tegal Wangi (ada plang penanda). Kami mulai kehilangan arah tapi belum kehilangan semangat. Oke, sekarang kami mengandalkan insting, blog, dan bertanya dengan warga sekitar. Setelah bertanya sana sini, kami diarahkan ke tempat hutan jati (tempat nyasar kedua) dan kami kembali ke arah hutan itu. Sekarang, mungkin sudah sekitar sejam kami muter-muter di jalan. Sudah ada security yang menjaga proyek di sekitar hutan jati ini. Jadi, setelah kami berkomunikasi jalan ke pantai Pondok Pemuda memang ke arah ini namun sedang ada proyek jadi akses jalannya ditutup dan kami diminta untuk melewati arah ke pantai Tegal Wangi untuk bisa masuk ke pantai yang kami tuju. HAHAHA. Lucu kan cerita nyasar kami? *mangkel*

Balik lah kembali ke arah Pantai Tegal Wangi yang kami abaikan tadi (hiks), lurus terus hingga dikanan jalan terdapat sebuah pohon kayu jati besar dengan hutan jati yang begitu luas. Kami tahu arah ini juga setelah bertanya lagi dengan bapak-bapak dipinggir jalan lho ya. Jadi tanpa pikir panjang mulai lah kami menyusuri HUTAN. Harus dicapslock. Harus banget, karena sepanjang hutan tidak ada penanda akses menuju pantai, hutannya bisa dimasuki kendaaraan roda dua atau empat, tapi karena namanya juga hutan jadi jalannya ya gitu deh ya, sedikit saran akan lebih mudah jika membawa motor matic karena jalannya naik turun walaupun tidak begitu curam, syukur banget kalau di hutan ini kalian bertemu warga (seperti kami tadi) yang bisa kami tanyakan.
Welcome to "HUTAN JATI"
Sepanjang hutan terus kayak gini, ayo pilih jalan yang mana?
Lebih sulit daripada menuju ke jalan hatimu lho *eh

Pura Dalem Batu Meguwung - Ini arah jalan yang sebenarnya.
Akses ke hutan jati yang sedang ditutup karena proyek








Penyelamat kami, bersyukur naik matic *peluk motornya Dewik*

Satu-satunya rumah warga di hutan jati


Hai cantik, abis nyasar ya ? 

Ada pantai dibalik hutan. Motivasi terkuat kami.

Karena kami tadi pagi mengenadari motor, jadi kami dapat mudah parkir di depan pintu masuk. Kalau dengan mobil, bisa saja namun sedikit agak jauh untuk jalan ke arah pantai. Dari jauh kami sudah mendengar suara ombak memanggil-manggil. Langkah kami percepat. Percepat. Percepat. 

Pintu masuk ke arah pantai

Tenang, tangganya dikit kok.
Kalau digendong pacar kamu pasti gak capek *kode
Kalau mulai capek, jangan marah-marah sama pacar
Ajak selfie dengan view tebing gini disepanjang jalan juga bisa kok
Dan... tadaaaaa.. Pantai Pondok Pemudaaaaaaaaaa.. Kira-kira pukul 09.00 kami mulai menikmati pantai berdua ala-ala pantai pribadi karena memang hanya kami berdua yang ada di pantai ini. Suer, ini asyiknya gak nahan.

Pantai Pantai Pantai
Lets take selfie ^ ^





Main sama ombak sepuasnya
Aku dan Dewi setelah cukup lelah (gak begitu sih) berselfie ria mulai duduk di Pondoknya. Anyway, Dewi adalah teman sekampusku. Aku dan Dewi sangat menyukai pantai. Kami mulai mengeksplore keindahan pantai khususnya di Bukit-Jimbaran karena aksesnya mudah dari kos kami. Hahaha.. Pantai sudah seperti rumah bagi kami. Selalu dirindukan untuk dikunjungi. Entahlah bagi kami pantai itu sangat cantik, tidak bosan dipandang sekali atau dua kali. Hm.. Ketika kami duduk, kami mulai mengira-ngira kenapa pantai ini memiliki nama yang unik, hahaha. Tebakan kami sih, karena memang sengaja dibuatkan Pondok di pantai ini dan nantinya pasti banyak orang berkunjung terutama kaum muda (pemuda) entah yang bersama temannya, musuhnya, gebetannya, atau bisa juga bersama kekasihnya. Ciee.. yang punya kekasih pasti mulai baper pengen ngajak sayangnya kesini (curhat). 



Dewi - Partner in crime yang asyik setiap berburu pantai
Pantai ini sungguh tenang, ombaknya bermain teratur, bunga disekitaran pondok juga menggoda, warnanya merah mudah begitu cantik, entah bunga apa namanya yang pasti perpaduan pondok, ombak, bunga, matahari, dan birunya pantai membuat pagi kami kali ini penuh energi. Sang pencipta memang agung. Tidak mungkin ada tempat seindah ini tanpaNya, betapa nikmat pagi kami kali ini. Gumamku dalam hati. 




Bunga Merah Muda cantik yang ada di sepanjang pantai ini
Hah senangnya. Akhir Juni ini ditutup dengan bersenang-senang di tempat kesukaan kami. Satu lagi pantai yang berhasil kami pecahkan nyasarnya. Hahaha. Terima kasih Juni, Salam manis dari Pantai Pondok Pemuda *love*


Welcome July, Im Ready : )





















































Terlalu dan Kamu



"(Terlalu) Mudah datang dan pergi.. Kamu,"
Sering sekali mendengar yang lain berkata, jangan ada kata terlalu diantara kata lainnya.

Katanya, yang ada terlalunya pasti menyakitkan. Nahlo. Mungkin bagi sebagian orang yang setuju kata terlalu disitu membuatnya berharap dengan hasil  baik tanpa peduli prosesnya, tapi bagi sebagian orang lainnya mungkin kata terlalu bisa membuatnya lebih optimis menjalani beberapa hal. Seperti kali ini, bangun terlalu pagi selalu membuatku merasa rugi jika tidak melakukan sesuatu. 

Terlalu lainnya di pagi ini tentang kamu. Kamu, yang membuatku berhati-hati memilih hati lagi ! *ups

Hm...
Aku sungguh percaya, ketika seorang perempuan menerima cinta seorang laki-laki itu artinya ada sesuatu diantara mereka yang dirasakan berbeda. Membuatnya sulit bernafas, sulit berbicara, dan rasanya ingin terbang saja. Aku juga selalu tertarik ketika mendengar cerita temanku tentang ini, entah yang terhambat kasta, terhambat restu orang tua, terhambat jarak ribuaan kilometer, terhambat dengan usaha yang minim tapi niat punya pacar yang tinggi, terhambat dengan kewajiban membahagiakan orang tua dan menomerduakan perasaan, apalagi yang terhambat perbedaan cara menyebut namaNya. Ini seperti hiburan ditengah kroditnya kehidupan. Temanku dengan kisah cinta barunya mungkin merasakan apa yang kusebut diawal tadi, ketika mereka memutuskan untuk bersama atau menunda kebersamaan "terlalu" disini juga memainkan peran. Aku percaya Eling (teman makan besarku) tidak akan sekuat itu membawa jiwa rapuhnya untuk LDR jika cintanya tidak terlalu besar untuk kekasihnya, atau mungkin Dwi (teman gila dietku) tidak akan sanggup menunda perasaannya jika memang dia tidak terlalu sayang orang tuanya. Hahaha.. entahlah, aku banyak melihat dari sekitarku. Mereka yang "terlalu" sering ada dan selalu mengajari banyak hal.


Lalu, tentang aku? Lagi-lagi aku belajar dari kamu. Terlalu cepat terbuai dengan hal indah memang susah untuk dikendalikan, seperti yang kesebut diawal tadi (lagi). Rasanya ingin terbang saja. Aku lupa kalau aku tidak bisa terbang dan kalaupun terbang itu juga karena sayap yang kamu ciptakan. Ketika kamu ingin mengambil sayap itu lagi, ya jatuh. Syukur-syukur kalau jatuhnya di atas kasur empuk. Hehehe.. Terlalu galau dipagi ini juga tidak baik ya. Pagi itu awal. Galau itu akhir. Jadi pagi dan galau itu tidak bisa dihubung-hubungkan, tapi bisa terlalu mudah disatukan. haha :p

Intinya, berharap terlalu dalam kepada seseorang sepertinya mulai sekarang harus dibatasi. Manusia akan selalu berkembang, dia harus bisa membatasi segala sesuatunya. Secukupnya. Sesuai porsinya. Kalau memang harus ada kata terlalu, gunakan itu sebaik-baiknya karena selalu ada resiko disetiap kata terlalu.

Tidak ada yang terlalu baik untuk ditunggu, dan terlalu buruk untuk dilupakan sedemikian rupa. Hingga dia tetap menunggu berarti memang ada "terlalu" yang begitu indah yang dipercayanya akan hadir di akhir kisah. Hingga dia bisa tetap tersenyum melihatmu bersama seseorang lainnya, bisa jadi ada "terlalu" cinta yang sedang kau sia-siakan. Tapi, ketika dia memutuskan untuk pergi, mungkin dia tidak "terlalu" cinta padamu hingga memutuskan mencari seseorang yang bisa membuatnya terus bahagia. Lain halnya ketika dia memutuskan untuk pergi karena ingin membahagiakan mu, mungkin kamu harus peka, menoleh sejenak ke belakang, apa dia benar-benar ingin kamu bahagia atau sudah "terlalu" pintar membodohimu dan memulai cinta yang baru dengan seseorang yang "terlalu" bodoh lainnya. Mungkin dia "terlalu" lelah dan kamu juga tidak harus terpaku dengan rasa terlalumu itu.

Manusia memiliki bermiliar pilihan dalam hidupnya. Entah terlalunya itu akan digunakan seperti apa. Ku harap itu pilihan yang sudah tepat. Bukan lagi terlalu tepat ya!

Science Camp 2015 : Tamparan untuk (TERUS) Berjuang !

Dua hari lalu, ketika sore berganti malam seperti saat ini aku masih bersama teman-teman panitia di Gedung AS. Ada yang tampak sangat sibuk mendekorasi ruangan dan juga gladi, tapi ada juga yang terlihat sibuk sendiri. Hehe

Kemarin, ketika malam datang di waktu yang kira-kira sama dengan dua hari dan hari ini. Wajah riang dari yang paling sibuk hingga yang sibuk sendiri juga terpancar. Haha

Dan hari ini… aku ingat aku harus mencatat semuanya. Hitung-hitung merapikan kenangan.

……..

Ini tetang kamu. Kamu yang dinamai Science Camp oleh Dekan kami. Hai, kenalan dulu sini *jabat tangan*

SCIENCE CAMP 2015
Science Camp ini serangkaian kegiatan Open Day FMIPA Universitas Udayana, dimana menurut cerita Dekan kesayangan, kegiatan ini bertujuan untuk mempersilahkan seluruh masyarakat untuk mengetahui FMIPA secara bebas. Niatnya sih (suatu saat nanti) orang-orang bisa camping langsung di fakultas kami. Oke, karena hal itu belum terlaksana jadi Science Camp diisi dengan mengajak siswa SMA se-Denpasar dan Badung untuk jalan-jalan mengenal enam jurusan super yang ada di fakultas kami. Lumayan kan mahasiswa yang jenuh sama laporan atau skripsi bisa liat cabe jalan-jalan di kampus *eh :p hahaha

Yuk, lanjut. Alkisah ini kali kedua aku tercelempung dalam kegiatan dahsyat ini. Science Camp adalah program kerja bidang atau dinas satu Badan Eksekutif Mahasiswa FMIPA yang wajib terlaksana dan disukseskan oleh kepala dinasnya *nyengir kecut*. Tahun sebelumnya, saat bergabung di BEM FMIPA kegiatan Science Camp ini lancar, rame, dan melelahkan. Walaupun aku sendiri tidak yakin berperan cukup aktif sebagai anggota acara Kak Ita (Penanggung jawab Acara Science Camp sebelumnya), yang ku ingat selesai kegiatan Kak Ita sangat kelelahan hingga tak satupun panitia berani mengganggunya. Hihi.

Well, Science Camp 2015 is Comingggggg…. 22 Januari 2015.

Science Camp tidak hanya mengajak siswa SMA untuk jalan-jalan, tapi juga kami dari panitia mengundang mereka untuk bertanding ketangkasan dalam Lomba Cerdas Cermat, bertanding merangkai keindahan kata dalam Lomba Esai, dan memacu kreativitas dalam Lomba Poster Digital. Duh, keren banget ya. Ekspektasi sih peserta bakal banyak, panitia bakal kelimpungan melayani peserta, dan semua krodit lah ya intinya. Jeng,,jeng,, Negara Api menyerang. Hingga H-7 hari = SEMINGGU sebelum kegiatan panitia baru mendapatkan sebiji peserta untuk tiap perlombaan. WOW!

Entahlah, bagaimana ekspresi yang sepantasnya aku tunjukan sebagai penanggung jawab Scince Camp tahun ini. Mungkin lebih nyesek dari punya pacar yang gak percayaan sama kamu, atau jomblo berlama-lama gara-gara mantanmu kebelet pacaran sama temen kampusmu sendiri. Ya, lebih nyesek dari apapun.

Mulailah semua isi otak berputar untuk mendapatkan peserta. Promo di radio, bimbel, jemput bola atau panitia yang agresif duluan menjemput pesertanya ke sekolah mereka tanpa menunggu, sebar pamflet, sebar buku petunjuk kegiatan, broadcast info kegiatan via BBM, update kegiatan disosmed, ganti profil picture hingga display picture. RAME INFO SCIENCE CAMP dimana-mana intinya. Tak penting mencari siapa yang salah hingga tak ada peserta atau terlalu perhatian dengan panitia yang setengah hati bekerja, yang penting saat itu peserta datang, acara jalan!

YEAH, 11 Team Lomba Cerdas Cermat dan 5 peserta Esai datang tidak hanya dari Denpasar dan Badung. Ini rasanya seperti terbang naik naganya Raditya Dika *terharu*. Aku dan Eny (Koo Ilmiah-sekaligus rekan curhat galau Science Camp) yang sebelumnya selalu cemas tentang acara ini, setidaknya mulai bisa focus menyiapkan kepuasan peserta yang telah daftar. Eny bertugas membuat soal dan menemani juri lomba sepanjang kegiatan, sedangkan aku bertugas mengatur kelangsungan acara dari sejak Gladi bersih hingga bersih-bersih acara kemarin. Hahaha.

…….

Suasana Penyerahan Hadiah Pemenang Lomba Cerdas Cermat
Puas, lega dan senang. Ketiga itu kata yang menggambarkan perasaan selesai acara berlangsung. Semua berjalan begitu rapi dan lancar. Walaupun tetap ada kritik serta saran dari peserta tentunya itu bisa menjadi bekal untuk penanggung jawab Science Camp berikutnya.

Science Camp kali ini sukses menamparku, kalau ingin hasil yang maksimal kamu harus bekerja dua kali lebih keras dari sebelumnya. Menutup telinga dan mata terhadap orang yang mengabaikan kerja kerasmu terkadang harus kamu lakukan untuk tidak menahan langkahmu berjuang. Kalau sudah semua dikerjakan, jangan takabur. Karena, Yang di Atas tak akan pernah berhenti mengujimu. Bekerja keras, berjuang, berdoa. Bekal hari ini untuk hidup yang lebih menyenangkan.

Terima kasih seluruh panitia yang telah bekerja keras. Kalian LUAR BIASAAAAA ~


“Struggle for existence”

Siapa yang mau berjuang keras, maka ia yang akan bertahan hidup (Charles Darwin)
-Soal Lomba Cerdas Cermat Science Camp 2015-



Kenangan semangat panitia Science Camp 2015

Apa Resolusimu ?

Tahun 2014 berakhir. Selamat datang tahun yang begitu cepat berganti. Ah, tutup tahun sudah merenungi berapa kebaikan yang sudah dilakukan? Hehe.. masih ada tahun baru buat memperbaiki kesalahan tahun kemarin ya? (tiap tahun seperti ini, hitung aja akumulasi dosa mu :p)

Tahun baru identik dengan harapan baru. Berbagai resolusi bermunculan di otak untuk mewujudkan dengan semangat yang baru. Termasuk juga menyelesaikan kebaikan yang tertunda di tahun sebelumnya. Mau tidak mau, sebelum dosa terakumulasi hingga over dose lebih baik diteruskan deh ya resolusi yang belum tercapai dari tahun yang tidak enak ke tahun yang baru ini. Hore, merdeka. Hihihi

Lalu, apa resolusimu?




Kalau aku sih secara umum ingin sekali tumbuh menjadi perempuan mandiri mulai dari tahun yang baru ini. Resolusi yang menurutku cukup menantang. Mandiri bukan sekedar kata yang mudah diucap dan dikerjakan. Bahkan ketika aku harus menulisnya disini, aku berpikir “apa tidak ada kata yang lebih sederhana dari kata mandiri?” karena aku yakin, aku belum bisa untuk tidak menyolek bapak atau ibuku untuk meminta uang jajan sebelum berangkat kuliah atau jalan-jalan dengan uang sekedarnya yang ku miliki.

Resolusi besar ini aku buat sesederhana mungkin dengan berbagai cara. Misalnya, meningkatkan nafsu berhemat dengan menyisihkan uang mingguan sejak awal diberikan, tidak berbelanja yang hanya menyenangkan mata dan mengenyangkan perut sesaat, memilih tidak ke bioskop tapi merampok semua film dari laptop temen, atau banyak lainnya yang benar-benar harus diterapkan. Mandiri ini sebenarnya banyak sekali persepsi yang bisa dihadirkan, bahkan ketika kamu sudah mampu mengangkat sendiri air galonmu saja kamu sudah terbilang mandiri jika dibandingkan dengan kamu yang masih minta tolong ayangmu untuk mengurus hal ini (bangga). Atau membersihkan kamar mandi sendiri, ketika sebelumnya ayahmu yang bertugas sepenuhnya akan hal ini. Mau nelpon bapak lho setiap minggu ke kos buat bersihin kamar mandi ? langsung di kutuk malin kundang deh ya. (bangga lagi). Dan yang paling keren sesungguhnya, ketika bisa bekerja sambil kuliah. Ini sungguh menyenangkan ketika melihat teman yang bisa mengatur waktunya dengan focus pada dua hal penting itu. Karena masa depan tidak bisa ditebak, menyiapkan diri sejak dini itu kunci bila ingin hidup yang layak.

Hm.. Jadi, sebenarnya mandiri bisa ditaruh dimana saja ya. Hanya saja, kali ini ingin mencoba menjadi perempuan yang bisa mengatur keuangannya dengan baik. Mandiri finansial ceritanya. Mulai dari hal kecil, fokus sama hal kecil, lama-lama mestakung bisa jadi sesuatu yang besar. Kalau sudah niat, yang namanya resolusi mau besar atau kecil, seharusnya sih tercapai ya.

Hai 2015, bantu aku untuk konsisten menjaga semangat ini ya!
Sekali lagi.. Resolusi itu aksi, bukan sekedar janji yang tiap tahun terakumulasi ^^





Belajar dari Owner Kedai Kopi

Malam ini, 06 Agustus 2014 pukul 21.00 saya janjian bertemu dengan seorang owner kedai kopi yaitu M*C* di Jalan Hayam Wuruk Denpasar. 

Saya menulis identitas lengkap pertemuan saya diatas karena saya tidak akan melupakan pertemuan saya malam ini. Walaupun harus ada bagian yang disensor, demi kebaikan bersama. Jadi ceritanya saya hadir ontime di kedai kopi ini, saya hadir bersama anggota saya (namanya Ana). Kebetulan saya orang beruntung yang memegang tanggung jawab menjadi Koordinator Penggalian Dana dalam kegiatan Hut kampus saya yang puncaknya akan diselenggarakan bulan Oktober nanti. Terkait dengan tanggung jawab itu, jelas kan apa tugas saya ? Iya, mencari dana sebanyak-banyaknya demi suksesnya acara. Dana yang diperoleh dari hubungan kerja sama (sponsorship) bukan sekedar donasi. Oke lanjut, sesuai dengan bayangan saya. Kedai kopi ini memang tidak pernah sepi, jadi saya bersyukur telah mengajak seseorang untuk menemani saya dalam situasi seramai ini menanti datangnya owner yang baru hadir 30 menit kemudian.

Singkatnya perasaan saya memang tidak enak dengan owner ini sejak awal menghubunginya untuk menanyakan kelanjutan proposal yang saya ajukan. Saat itu yang terdengar hanya suara yang tanpa ekspresi, sungguh flat mengatakan bahwa belum membaca proposal saya. Minggu berikutnya (sore tadi) saya menghubunginya kembali, dan jawabannya langsung "nanti ketemu di M*C* jam 9 malem ya," Oke fix, saya langsung mempelajari seluruh konsep acara dan harus siap untuk presentasi dihadapannya. Hanya itu yang ada dipikiran saya setelah mengakhiri pembicaraan via telepon dengannya.

Dan... tibalah saat itu..


Presentasi saya selesai, dan wajah itu berubah. "Lomba yang tentang F* (baca: kampus saya) kok gak ada dalam Hut kampusnya ?" Duarrrr.. petir menyambar saya. Ini pointnya malam ini.

Saya bertemu dengan orang cerdas malam ini. Dia bukan pemilik sembarang kedai kopi, saya berani bertaruh jika ada 10 orang saja yang memiliki otak dan pendirian yang sama sepertinya tidak akan ada lagi orang miskin di Bali. Orang ini benar-benar menampar psikis saya malam ini, dengan membuat saya diam tanpa kata dengan nada bicaranya yang sangat tegas membuka pandangan saya yang biasa. Bisa dibilang sangat mainstream. Mungkin bisa saya bocorkan sedikit apa yang dia katakan :


"Seharusnya kalian membuat suatu acara yang berkaitan dengan profesi kalian ke depannya, jangan hanya sekedar having fun dengan acara ala anak-anak banjar merayakan 17 Agustusan. Capek-capek buat acara, cari sponsor banyak-banyak, tapi hanya sekedar untuk hura-hura. Apalagi kalian sekarang mahasiswa yang pikirannya bukan lagi sama dengan anak SMA. Kalian bangga tidak kalau bisa membuat lomba desaian obat herbal, pemenangnya bisa membuat obat sebelum lepas menjadi seorang yang kesehariannya memang akan kerja di apotek nantinya, harusnya kalian malah ikut berpikir bagaiamana konsumen yang minum obat selama bertahun-tahun bisa nyaman dengan obatnya," ujar seorang owner kedai kopi yang namanya dilengkapi dengan gelar S.Ked.

Saya terpaku. Dan rasanya ingin lari kembali pada rapat dan mengubah konsep acara. Entah bagaimana dari sekian banyak peserta rapat (sebelumnya) tidak ada yang bisa mengguncang rapat dengan ide baru seperti ini. Termasuk saya. Jangan kira saya hanya diam setelah mendapatkan omongan ini, saya langsung membagi kekecewaan saya ini dengan Ketua dan Koordinator Acara kegiatan saya ini. Tapi ? Nothing.

Entah ini "nasi sudah jadi bubur" atau semacam "yang penting kerjaan selesai, yaudah". Kegalauan maksimal saya malam ini adalah, bagaimana kamu bisa puas dengan kegiatan yang "super biasa" dan kamu ulang tiap tahunnya padahal kamu punya kesempatan untuk bisa merubah itu. Kamu, dengan segala kemahasiswaanmu, seharusnya mulai berpikir bahwa puasnya kamu sebagai orang ketika kamu berhasil menciptakan sesuatu yang baru, yang berbeda, karena dari sinilah awalmu mengenal hidup. Hidup yang keras dan selalu butuh akal yang berkembang untuk bisa terus hidup. Jadi bisa di bilang, malam ini saya mati konyol karena gagal menyakinkan teman saya untuk ikut merasa kecewa dengan ide "biasa" yang dirancang.

Tapi katanya, kalau kalian tidak bisa merubah sistem yang ada harusnya kalian berdua yang mulai merubah diri kalian. "Saya hanya ingin anak muda sekarang mandiri, dan membuka ide yang ada dalam kepalanya" katanya lagi sambil menunjuk buku menu dan seluruh isi kedai kopinya yang memang sangat unik dan dirancang sendiri oleh seorang dokter ini.

Semoga yang membaca tulisan ini juga berhenti terlalu "biasa" seperti saya, karena owner ini tidak hanya sekedar memberi bekal hidup tapi menghidupi kegiatan saya dengan memberi produk yang menguntungkan. Baik sekali bukan ? saya ditampar dan setelah itu diberi hadiah. Luar biasa. Saya sepertinya harus lebih sering ditampar dengan orang-orang seperti ini deh ^^


(sembarang dari google, tapi pas ya. Kopi dan Obat)
nb : kedai kopi ini tempatnya asik, dan harganya juga terjangkau. Bisa dibilang murah bahkan, ditambah dengan varian kopi yang beraneka ragam. Jangan ragu untuk mampir, yang ingin tahu bisa tanya secara personal dengan saya ya :)

Duniamu bukan Kemauanmu

Dulu aku tak pernah berpikir untuk masuk jurusan ini. Jurusan yang kata dosenku hanya orang yang siap cari-cari masalah saja yang mau dengan ikhlas berada di jurusan ini. Farmasi membuat duniaku sepintas terlihat sangat terbatas, isinya ya hanya laboratorium, praktikum, pretest, postest, laporan, jurnal, presentasi, nangis gak lulus pretest, kehabisan waktu belajar perhitungan, dan masih banyak hal terbatas lainnya yang sesungguhnya tidak terbatas tapi terbatas dalam dunia farmasi (ngawur). Tapi siapa sangka, ditengah kerumitan ini masih ada kok pasangan cinlok yang sempet-sempetnya bermesraan diantara ocehan dosen di depan kelas, atau mungkin pasangan yang asik makan bareng di kantin sambil tetep diskusiin pretest sebelum mereka terpisah oleh praktikum (aciee.. *banting laptop). Oke, kembali fokus ke awal. Dulu aku yang bermimpi menjadi seorang dokter, karena tidak berhasil lulus dalam segala jenis tes kedokteran, dan dengan hati yang lapang sekarang aku belajar menjadi seorang peracik obat yang sesungguhnya tidak kalah berat tugasnya dari seorang dokter (bangga).

Sudah ada bayangan ? Belum ya ?

Jadi, ini dia :

Kamu harus Mulai Mengerti Kalau Dunia Ini Nggak Berjalan Atas  Kemauanmu.


coba baca berulang-ulang, dan pikirkan apakah hari ini kamu sudah menerapkan itu ? 

Aku sangat yakin harus menerapkan kata-kata itu dalam segala aspek kehidupan. Seperti ceritaku diawal tadi, mungkin dulu diawal perkuliahan aku merasa harapan-harapanlu kandas tapi satu hal penting yaitu sampai saat ini aku tak putus asa dan melanjutkan kehidupan rumit eh indah di Farmasi. Atau ini juga, saat aku kelaparan dan bapakku bertanya "lagi cari apa ?", spontan aku kaget dan nyengir "cari sebongkah emas yang bisa mengisi perut," jawabku sambil mengais-ngais makanan di dapur. Selang beberapa menit tanpa perlu banyak bicara, bapak datang dengan dua piring mie goreng lengkap dengan telur (satu porsi lagi untuk adikku lho ya). Dan aku sangat bahagia ~
Saat seperti ini selalu membuatku merasa bersalah ketika suatu saat sebelumnya tanpa sengaja atau disengaja marah-marah kepada bapak dengan berbagai alasan. Hei nak, ayolah. Tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan, mengertilah bahwa dunia tidak berjalan sesuai dengan kemauanmu.

Hm.. bisa juga diterapkan disini sepertinya. Mungkin kamu suka seseorang yang nggak membalas dengan perasaan yang sama. Atau, kamu yang menunggu kabar (sms, telepon, bbm, etc) dari seseorang, hampir setiap menit melirik handphone tapi tidak sedikitpun handphone menunjukkan kabar bahagia itu, lantas kamu bisa apa ? Selain hanya terdiam ya mungkin kamu bisa berusaha lebih keras untuk membuatnya menyukaimu sehingga handphonemu akan selalu berdering bahagia tanpa perlu menunggu sekian lama kabar dari dia.

Aku tahu hidup nggak selalu berjalan sesuai mauku, dan aku berusaha menerima itu. Yakinlah, setelah kesulitan datang selalu ada kemudahan, yang belum tentu esoknya kesulitan tak datang lagi, kemudahan lagi, kesulitan lagi, dan kemudahan lagi. 


Ibaratnya, jika lampu belajarmu mati, kamu bisa pakai sinar dari handphonemu, jika sudah lowbat kamu bisa pakai cahaya lilin, jika itu juga sudah habis coba cari penerangan cahaya lainnya. Kamu kreatifkan? Dunia memang ngga bisa berjalan semaumu, tapi manusia punya banyak cara untuk membuat dunia seperti berada digenggaman tangannya ^^


REFRESH OR DELETE

Aku sedang membiasakan diri untuk tidak bergantung terlalu banyak pada siapapun. Awalnya, ketika aku tidak bisa mengerjakan soal Farmasi Fisika, pikiranku langsung tertuju pada nama itu. Ketika aku kelelahan harus bolak-balik Jimbaran-Denpasar untuk praktikum dan kuliah super pagi itu, hatiku menyebut nama itu lagi. Ketika aku melihat handphone disaat hariku begitu krodit dan ingin mengetik sebuah pesan singkat kepadamu, kali ini aku berupaya tegas pada diriku. Ah, rasanya itu semua tidak perlu. Yasudahlah. 

Aku mulai, sudah, dan ingin sekali terbiasa seperti ini. Terbiasa sendiri walaupun kata temanku "kamu naif, nanti juga dekat lagi," Terserah. Aku tak peduli, yang ku tahu. aku pasti bisa melakukan segalanya sendiri. 

Hai, malam ini aku begitu kacau. Sungguh segala sesuatu terlihat buruk dihadapanku. Aku sedang menata mood dan pikiranku dengan menulis ini. Menatanya mungkin harus sangat cepat, mengingat tumpukan kertas tugas, laporan praktikum, dan UTS besok memanggilku begitu manja. Ini sepertinya bukan hal baru, aku sudah amat terbiasa dengan sifat burukku ini, jangan pikir aku tak ingin mengubahnya ya. Berubah juga butuh waktu kan, sama seperti terbiasa untuk berjuang dan tidak merengek-rengek pada siapapun juga butuh waktu yang tidak instan seperti merebus mie goreng.

Tuhan seandainya ada satu hari untuk aku bisa meluapkan semua ini, andaikan ada satu hari aku bisa berjalan sendiri di antara ombak, andaikan ada satu hari aku bisa bermain ayunan sekencang-kencangnya sendiri, dan andaikan ada satu hari aku bisa duduk santai di atap kos menetap langit senja rasanya itu semua cukup untuk menyegarkan pikiran dan jiwa ini. Atau Tuhan jika itu semua kau pikir tidak perlu, kau rasa aku terlalu banyak meminta, atau terlalu cengeng, bantu aku menghapus semua yang mengganggu pikiranku. Itu mungkin lebih dari cukup. 

Oke, mari menunggu. Kau lemparkan penghapus atau penyegar ruangan ke arahku.

"Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah"

Dini hari ini, terlalu banyak isi otak yang ingin ditumpahkan. Tapi sebelum mengembalikan buku yang telah disewa berhari-hari, dan tidak juga kunjung dikembalikan oleh pembaca nakal ini. Jadi, ya karena saya terlalu jatuh cinta dengan isi novel ini dan juga waktu liburan saya telah habis. Otomatis esok hari saya harus mengembalikan buku ini ke rental buku itu. Biarkanlah pembaca ini mengutip dan membagi beberapa kata indah dari 507 halaman isi novel "Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah" 


Kata Pujangga, "Hidup untuk bekerja. Kalau kau pemalas, duduklah di depan gerbang kampung menjadi peminta-minta." (p 20)

Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu menjadi buram padahal dunia sedang terang benderang (p 132)

Sembilan dari sepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri, dibesar-besarkan sendiri. Nyatanya seperti apa ? Boleh jadi tidak. (p 133)

Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong. (p 173) Cinta adalah komitmen tidak terbatas, untuk saling mendukung, untuk selalu ada, baik senang maupun duka (p 221)

Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. (p 194)

Terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar menunggu rencana terbaik datang. Sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan (p 210)

Ah, Cinta selalu misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri. (p 288)

Bukan masalah harganya, tapi coba bayangkan, berapa hari gadis itu mencari tahu tentang buku ini, berusaha memilih buku tentang mesin paling baik yang tidak pernah seorang pecinta mesin baca. Maka dari itu, jika dia memberikan hadiah sebuah buku pada seorang laki-laki, terlebih buku kesukaan atau hobi laki-laki itu, maka laki-laki itu amat panting bagi gadis itu. Bukan sekedar teman. (p 333) "Berikanlah hadiah buku kepada seorang yang amat kau hargai," (p 500)

Jika kau tiba-tiba memaksa bertanya saat gadismu sedang gundah, frustasi, marah, dan kau meminta penjelasan sekarang juga, kau hanya akan membuat gelas retak menjadi pecah. Berantakan. Biarkan gadis kau itu sendirian dulu, berpikir, menenangkan diri. (p 400)

Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi dipamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu (p 428)

Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan. (p 429)

Boleh jadi ketika seorang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi kau masih memiliki separuh hati yang tersisa bukan ? Maka jangan ikut kau merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang berharga (p 479)



Lengkapnya, silahkan membaca novel karangan Darwis Tere Liye ini. Bukan untuk promosi, hanya berbagi terutama sekedar menyenangkan hati karena terlalu jatuh hati dengan isi novel ini. Semoga saja mas penjaga rental jatuh hati kepada pembaca ini, dan lupa saya telat mengambalikan buku indah ini. Hahaha.





Mengintip Kisah Unik “Bekal Makanan” di Balik Sebuah Kesuksesan

 Saya tidak malu membawa bekal makanan sendiri dari rumah, karena dengan itu saya bisa menghemat waktu dengan menggunakan waktu makan siang untuk bekerja dan tentunya lebih irit bukan? Simple, Life is choise,” tutur wanita berambut sebahu ini sembari tersenyum.

Ellies Sutrisna (image from google)
          Ellies Sutrisna. Ya, siapa kiranya yang tak kenal dengan wanita yang satu ini. Ellies –sapaannya- adalah seorang book writer, entrepreneur, speaker sekaligus trainer handal yang terkenal dengan the best bussines coach. Pencapaiannya saat ini tidaklah serta-merta didapatkannya, berbagai upaya dilakukan oleh perempuan yang pada bulan April ini genap berusia 50 tahun untuk mencapai kesuksesan hingga saat ini. “Kehidupan saya dulu sangat sederhana, makan pun susah hanya 1 telur untuk makan dan itupun harus dibagi menjadi 7 bagian  untuk keluarga saya lainnya dan kami hanya makan daging saat ada kelurga atau tetangga yang berulang tahun,”ungkap Ellies yang selalu memotivasi dirinya agar anak-anaknya tidak mengalami kehidupan yang sulit seperti dirinya terdahulu.
            Hal inilah yang mendesak perempuaan lulusan terbaik di University of Wollongong New South Wales ini untuk menciptakan kehidupan yang layak dan nyaman. Berbagai pekerjaan dilakoninya untuk dapat bertahan hidup dan meneruskan kuliahnya di negeri kangguru tersebut. “Setiap malam saya kerja di restoran dari hari Senin-Jumat dan kerja di toko ikan pada hari Sabtu dan Minggu dari pukul 4 sore-6 sore,”kenang ibu yang saat kecil juga memiliki hobi menyanyi dan menari ini.
            Hingga pada tahun 1989 Ellies memulai karirnya di Indonesia. Hampir setiap tahun ia meraih penghargaan “Top Achiever“ dari perusahaannya. Tak hanya itu, wanita yang telah memutuskan pensiun pada tahun 2005 ini juga sempat menjadi direktur termuda dari beberapa anak perusahaan Teknologi Informasi Public terbesar di Indonesia karena karirnya yang melesat begitu cepat. Ada satu rahasia unik sejak dulu dari Ellies yang hingga saat ini masih terus dilakukannya. Saya tidak malu membawa bekal makanan sendiri dari rumah, karena dengan itu saya bisa menghemat waktu dengan menggunakan waktu makan siang untuk bekerja dan tentunya lebih irit bukan? Simple, Life is choise,” tutur wanita berambut sebahu ini sembari tersenyum. Ya, Ellies tidak pernah malu walaupun sering dihina oleh teman di kantornya terdahulu, karena baginya sejak dahulu ia terbiasa tidak memiliki uang dan kesuksesan itu ada karena pilihan diri sendiri.
            Tak henti sampai di sana, di tengah perkembangan jaman yang segala sesuatunya menjadi sangat mudah dijangkau namun seharusnya tak menjadikan seseorang terlena akan perkembangan teknologi yang ada melahirkan idealisme Ellies untuk membangun sebuah tayangan yang mampu menginspirasi, memotivasi, memberikan ide dan peluang baru, serta mengedukasi melalui tv streaming di www.tvexelent.com.Saya ingin terus mendalami tentang leadership yang benar dan berbagi kepada masyarakat,” ungkap perempuan yang juga  menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) perusahaan PMA & Joint Venture ini. Ellies selalu berupaya membagikan ilmu dan pengalamannya melalui banyak media seperti buku, majalah, online, dan yang sedang giat-giatnya dibesarkan adalah tv streamingnya. “Mulailah menjadi anak muda yang terbaik dimata orang tua lalu menjadi mahasiswa terbaik, dan ketika anda bekerja jadilah karyawan atau pengusaha terbaik. Selalu pastikan saat ada pekerjaan maka lakukan yang terbaik. Work smart, work hard, and be the best,” tutup Ellies yang telah menerbitkan banyak buku mengenai pengembangan diri dan bisnis  seperti “12 Jurus Jitu Meroketkan Bisnis” dan “Achieving Financial Independence”. (cah)





 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com