Pages

Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Pantai Pondok Pemuda - Good bye June

"Pagi.. jangan pergi kutakut malam nanti kumasih sendiri dan pagimu tak lagi indah.." Pagi - Dialog Dini Hari

Aku sempat bernyanyi lagu itu, begitu cerah pagi tadi. Siapa yang rela melepas pagi jika berada disini. Rasanya pagi bagitu indah ketika disapa oleh gulungan ombak dan matahari cerah menyambut kehadiran kami. Hai, ini cerita pagi tadi saat kami (akhirnya) ke pantai setelah sekian lama mewacanakan melepas penat ke tempat yang tidak ada matinya ini. 

Pantai Pondok Pemuda Jimbaran - Bali
Pukul 06.30 aku dan Dewi sudah bersiap meninggalkan selimut hangat kami. Antusias begitu besar jadi kami hanya cuci muka dan berangkat. Memang dasarnya males mandi sih, jadi kami saling tidak masalah mencium aroma kurang sedap satu sama lainnya. Oke, abaikan. Hm.. kami mulai perjalanan.
Perjalanan hari ini hanya bermodalkan hasil kepo Dewi di blog orang yang sudah pernah duluan ke pantai ini. Sumbernya memang kurang valid, tapi kami percaya "di balik niat ke pantai yang kuat, ada tujuan yang tepat," Alah. Ngawur lagi. Jadi, setelah 20 menit pertama kira-kira. Jalanan masih sepi. Kami memilih melewati Pantai Jimbaran lalu lurus terus hingga melewati Hotel Four Seasons, lalu belok kiri belok kanan belok kiri belok kanan (percaya blog orang banget). Teng.. Teng.. kami kembali ke jalan besar tempat dimana kami memulai perjalanan. Yes, kami tertawa terbahak-bahak menertawai tingkah bodoh kami yang nyasar (ini nyasar pertama). 
\
Yuk putar balik, Kami masih tetap berusaha. Dan mulai mengandalkan insting dan tetap masih percaya blog orang. Kali ini kami menemukan sebuah petunjuk. Seperti detektif kami segera menyusuri jalan ini. Kata blog, untuk sampai di pantai ini kami harus menyusuri hutan jati. Kami menemukan hutan jati, tapi sungguh malang kami tidak menemukan jalan menuju pantai. Dimana-mana terpajang jelas tulisan "not entry". Sip, kami positif thinking kalau kami nyasar (nyasar kedua) dan mari putar arah lagi. 

Sampailah kami di jalan besar yang mentok ke arah Hotel Ayana dimana belok kirinya (dari arah kami) adalah jalan menuju Pantai Tegal Wangi (ada plang penanda). Kami mulai kehilangan arah tapi belum kehilangan semangat. Oke, sekarang kami mengandalkan insting, blog, dan bertanya dengan warga sekitar. Setelah bertanya sana sini, kami diarahkan ke tempat hutan jati (tempat nyasar kedua) dan kami kembali ke arah hutan itu. Sekarang, mungkin sudah sekitar sejam kami muter-muter di jalan. Sudah ada security yang menjaga proyek di sekitar hutan jati ini. Jadi, setelah kami berkomunikasi jalan ke pantai Pondok Pemuda memang ke arah ini namun sedang ada proyek jadi akses jalannya ditutup dan kami diminta untuk melewati arah ke pantai Tegal Wangi untuk bisa masuk ke pantai yang kami tuju. HAHAHA. Lucu kan cerita nyasar kami? *mangkel*

Balik lah kembali ke arah Pantai Tegal Wangi yang kami abaikan tadi (hiks), lurus terus hingga dikanan jalan terdapat sebuah pohon kayu jati besar dengan hutan jati yang begitu luas. Kami tahu arah ini juga setelah bertanya lagi dengan bapak-bapak dipinggir jalan lho ya. Jadi tanpa pikir panjang mulai lah kami menyusuri HUTAN. Harus dicapslock. Harus banget, karena sepanjang hutan tidak ada penanda akses menuju pantai, hutannya bisa dimasuki kendaaraan roda dua atau empat, tapi karena namanya juga hutan jadi jalannya ya gitu deh ya, sedikit saran akan lebih mudah jika membawa motor matic karena jalannya naik turun walaupun tidak begitu curam, syukur banget kalau di hutan ini kalian bertemu warga (seperti kami tadi) yang bisa kami tanyakan.
Welcome to "HUTAN JATI"
Sepanjang hutan terus kayak gini, ayo pilih jalan yang mana?
Lebih sulit daripada menuju ke jalan hatimu lho *eh

Pura Dalem Batu Meguwung - Ini arah jalan yang sebenarnya.
Akses ke hutan jati yang sedang ditutup karena proyek








Penyelamat kami, bersyukur naik matic *peluk motornya Dewik*

Satu-satunya rumah warga di hutan jati


Hai cantik, abis nyasar ya ? 

Ada pantai dibalik hutan. Motivasi terkuat kami.

Karena kami tadi pagi mengenadari motor, jadi kami dapat mudah parkir di depan pintu masuk. Kalau dengan mobil, bisa saja namun sedikit agak jauh untuk jalan ke arah pantai. Dari jauh kami sudah mendengar suara ombak memanggil-manggil. Langkah kami percepat. Percepat. Percepat. 

Pintu masuk ke arah pantai

Tenang, tangganya dikit kok.
Kalau digendong pacar kamu pasti gak capek *kode
Kalau mulai capek, jangan marah-marah sama pacar
Ajak selfie dengan view tebing gini disepanjang jalan juga bisa kok
Dan... tadaaaaa.. Pantai Pondok Pemudaaaaaaaaaa.. Kira-kira pukul 09.00 kami mulai menikmati pantai berdua ala-ala pantai pribadi karena memang hanya kami berdua yang ada di pantai ini. Suer, ini asyiknya gak nahan.

Pantai Pantai Pantai
Lets take selfie ^ ^





Main sama ombak sepuasnya
Aku dan Dewi setelah cukup lelah (gak begitu sih) berselfie ria mulai duduk di Pondoknya. Anyway, Dewi adalah teman sekampusku. Aku dan Dewi sangat menyukai pantai. Kami mulai mengeksplore keindahan pantai khususnya di Bukit-Jimbaran karena aksesnya mudah dari kos kami. Hahaha.. Pantai sudah seperti rumah bagi kami. Selalu dirindukan untuk dikunjungi. Entahlah bagi kami pantai itu sangat cantik, tidak bosan dipandang sekali atau dua kali. Hm.. Ketika kami duduk, kami mulai mengira-ngira kenapa pantai ini memiliki nama yang unik, hahaha. Tebakan kami sih, karena memang sengaja dibuatkan Pondok di pantai ini dan nantinya pasti banyak orang berkunjung terutama kaum muda (pemuda) entah yang bersama temannya, musuhnya, gebetannya, atau bisa juga bersama kekasihnya. Ciee.. yang punya kekasih pasti mulai baper pengen ngajak sayangnya kesini (curhat). 



Dewi - Partner in crime yang asyik setiap berburu pantai
Pantai ini sungguh tenang, ombaknya bermain teratur, bunga disekitaran pondok juga menggoda, warnanya merah mudah begitu cantik, entah bunga apa namanya yang pasti perpaduan pondok, ombak, bunga, matahari, dan birunya pantai membuat pagi kami kali ini penuh energi. Sang pencipta memang agung. Tidak mungkin ada tempat seindah ini tanpaNya, betapa nikmat pagi kami kali ini. Gumamku dalam hati. 




Bunga Merah Muda cantik yang ada di sepanjang pantai ini
Hah senangnya. Akhir Juni ini ditutup dengan bersenang-senang di tempat kesukaan kami. Satu lagi pantai yang berhasil kami pecahkan nyasarnya. Hahaha. Terima kasih Juni, Salam manis dari Pantai Pondok Pemuda *love*


Welcome July, Im Ready : )





















































Terlalu dan Kamu



"(Terlalu) Mudah datang dan pergi.. Kamu,"
Sering sekali mendengar yang lain berkata, jangan ada kata terlalu diantara kata lainnya.

Katanya, yang ada terlalunya pasti menyakitkan. Nahlo. Mungkin bagi sebagian orang yang setuju kata terlalu disitu membuatnya berharap dengan hasil  baik tanpa peduli prosesnya, tapi bagi sebagian orang lainnya mungkin kata terlalu bisa membuatnya lebih optimis menjalani beberapa hal. Seperti kali ini, bangun terlalu pagi selalu membuatku merasa rugi jika tidak melakukan sesuatu. 

Terlalu lainnya di pagi ini tentang kamu. Kamu, yang membuatku berhati-hati memilih hati lagi ! *ups

Hm...
Aku sungguh percaya, ketika seorang perempuan menerima cinta seorang laki-laki itu artinya ada sesuatu diantara mereka yang dirasakan berbeda. Membuatnya sulit bernafas, sulit berbicara, dan rasanya ingin terbang saja. Aku juga selalu tertarik ketika mendengar cerita temanku tentang ini, entah yang terhambat kasta, terhambat restu orang tua, terhambat jarak ribuaan kilometer, terhambat dengan usaha yang minim tapi niat punya pacar yang tinggi, terhambat dengan kewajiban membahagiakan orang tua dan menomerduakan perasaan, apalagi yang terhambat perbedaan cara menyebut namaNya. Ini seperti hiburan ditengah kroditnya kehidupan. Temanku dengan kisah cinta barunya mungkin merasakan apa yang kusebut diawal tadi, ketika mereka memutuskan untuk bersama atau menunda kebersamaan "terlalu" disini juga memainkan peran. Aku percaya Eling (teman makan besarku) tidak akan sekuat itu membawa jiwa rapuhnya untuk LDR jika cintanya tidak terlalu besar untuk kekasihnya, atau mungkin Dwi (teman gila dietku) tidak akan sanggup menunda perasaannya jika memang dia tidak terlalu sayang orang tuanya. Hahaha.. entahlah, aku banyak melihat dari sekitarku. Mereka yang "terlalu" sering ada dan selalu mengajari banyak hal.


Lalu, tentang aku? Lagi-lagi aku belajar dari kamu. Terlalu cepat terbuai dengan hal indah memang susah untuk dikendalikan, seperti yang kesebut diawal tadi (lagi). Rasanya ingin terbang saja. Aku lupa kalau aku tidak bisa terbang dan kalaupun terbang itu juga karena sayap yang kamu ciptakan. Ketika kamu ingin mengambil sayap itu lagi, ya jatuh. Syukur-syukur kalau jatuhnya di atas kasur empuk. Hehehe.. Terlalu galau dipagi ini juga tidak baik ya. Pagi itu awal. Galau itu akhir. Jadi pagi dan galau itu tidak bisa dihubung-hubungkan, tapi bisa terlalu mudah disatukan. haha :p

Intinya, berharap terlalu dalam kepada seseorang sepertinya mulai sekarang harus dibatasi. Manusia akan selalu berkembang, dia harus bisa membatasi segala sesuatunya. Secukupnya. Sesuai porsinya. Kalau memang harus ada kata terlalu, gunakan itu sebaik-baiknya karena selalu ada resiko disetiap kata terlalu.

Tidak ada yang terlalu baik untuk ditunggu, dan terlalu buruk untuk dilupakan sedemikian rupa. Hingga dia tetap menunggu berarti memang ada "terlalu" yang begitu indah yang dipercayanya akan hadir di akhir kisah. Hingga dia bisa tetap tersenyum melihatmu bersama seseorang lainnya, bisa jadi ada "terlalu" cinta yang sedang kau sia-siakan. Tapi, ketika dia memutuskan untuk pergi, mungkin dia tidak "terlalu" cinta padamu hingga memutuskan mencari seseorang yang bisa membuatnya terus bahagia. Lain halnya ketika dia memutuskan untuk pergi karena ingin membahagiakan mu, mungkin kamu harus peka, menoleh sejenak ke belakang, apa dia benar-benar ingin kamu bahagia atau sudah "terlalu" pintar membodohimu dan memulai cinta yang baru dengan seseorang yang "terlalu" bodoh lainnya. Mungkin dia "terlalu" lelah dan kamu juga tidak harus terpaku dengan rasa terlalumu itu.

Manusia memiliki bermiliar pilihan dalam hidupnya. Entah terlalunya itu akan digunakan seperti apa. Ku harap itu pilihan yang sudah tepat. Bukan lagi terlalu tepat ya!

Akhirnya, berpisah ?

Sabtu, 28 maret 2015
Beberapa jam sebelum pesawat terbang membawamu ke Jepang.
………………………………………………….







Untuk kamu,

Terima kasih tahun-tahun indah bersama atau tidak kamu selalu ada dengan berjuta kejutan di hidupku. Kamu yang ku kenal sejak awal masih di bangku putih abu, teman sepermainan, teman yang selalu ada setiap pelajaran fisika yang tak ku suka itu menggangguku, terima kasih kamu sempat menjadi musuhku, hingga aku tak tahu kamu masih ada atau tidak di sekolah yang sama saat masih sma dulu. Hingga aku menemukanmu saat pacarmu membawakanmu kue di kelas XII IPA 3 itu. Terlalu panjang pastinya jika aku harus menulis semua kisah kita, tapi sungguh terima kasih untuk semua pelajaran hidup yang kamu berikan. Aku tak lagi lupa kalau sebelum makan harus berdoa, aku tau bagaimana caranya menghadapi orang lain, aku tau bagaimana caranya berhenti tampil alay dengan status-status di media sosial, aku tau bagaimana susahnya hidup demi membahagiakan org lain. Aku tau semua itu dari kamu. Cinta pertamaku.

Aku tidak pernah membayangkan bagaimana kita bisa mengakhiri hubungan ini. Hubungan ang memang tak ada awal dan ujungnya. Kita sama-sama sadar tak bisa bersama, selama ini kita hanya bisa berdampingan tanpa bersama dan saling membahagiakan. Kamu dengan segala tingkah polamu, satu-satunya lelaki dengan pikiran dewasa dan sikap manja ketika bersamaku yang selalu ku doakan di setiap perjalananmu. Hingga hari ini tiba, hari yang sungguh mengejutkan untuk kita. Maafkan soal insiden mala mini, semoga caci maki ayahku tidak membuat kamu dan keluargamu kecewa.

Esok keberangkatanmu ke Jepang, aku tak tahu bagaimana jadinya nanti setelah semua bekerja sambil belajarmu disana selesai. Membayangkanmu berangkat saja rasanya sudah rumit, apalagi memikirkan beberapa tahun ke depan. Jadi, apa ini saat yang tepat untuk berpisah?

Hai, kamu yang selalu mengerti aku. Terima kasih, tanpamu mungkin aku tak bisa setegar ini. Kamu yang banyak membawaku mengerti hidup. Nasi bungkus yang kamu berikan saat aku ngambek dulu, sementara kamu menahan lapar karena duitmu pas-pasan dulu saat SMA. Ingat itu? Mulai sejak itu aku paham, membahagiakan yang disayang itu butuh pengorbanan.

Termasuk, perpisahan kali ini. 
Pengorbanan untuk ikhlas dan berbenah diri. Selamat mengejar cita-cita, suatu saat jika masih bisa berjumpa semoga kita dipertemukan dalam doa yang sama.
Jika masih bisa menengok aku, aku pastikan kamu melihatku berada di apotek sebagai apoteker cantik dengan bahasa inggris yang jago sepertimu, dan foto dengan latar Paris itu.. Tunggu, aku pasti bisa mewujudkan itu!
……………………………………………………………….

Untuk kalian yang tersayang,
Maaf aku merepotkan semua orang, maaf aku selalu mengeluh hal yang sama, aaf aku belum bisa murni move on hingga detik ini, maaf aku hanya menjadi beban untuk semuanya. Kalian yang melihat ini mungkin mengira aku sangat jahat dengan kekasihku, sangat jahat dengan kedua orang tuaku, atau begitu dramanya hidupku. Hai, perkenalkan. Aku gadis yang harus bisa melepas orang yang ku cintai dan sangat menyanyangiku, aku harus bisa melihat dia bahagia bersama gadis lainnya yang bisa di ajak pergi ke Gereja bersama setiap minggunya, aku yang sejak awal harus sadar kalau orang yang ku sayang ini bukan segalanya, katanya masih banyak yang sayang aku. Aku mencoba tumbuh dengan orang yang sayang padaku, aku mencoba bangkit dengan segera, tapi tolong jangan desak aku terus menerus untuk hanya mendengarkan kalian. Aku juga butuh waktu untuk berlari kencang melupakan masa lalu dan aku butuh kalian yang bisa menerima masa laluku. Beriringan dengan aku yang sangat enggan mengubur masa lalu bukan hal mudah, jangan kira aku tidak berusaha. Kalau kalian masih memaksa, mungkin kalian belum pernah jatuh cinta. Ditambah deh, terlanjur jatuh cinta dengan kekasih beda agama.


Aku tahu hidup selalu memaksa untuk menerima, sepahit apapun hidup, aku harus tetap bahagia, karena sekantong kenangan masih ada, untuk sesekali dikenang hingga manisnya tak terasa.




Science Camp 2015 : Tamparan untuk (TERUS) Berjuang !

Dua hari lalu, ketika sore berganti malam seperti saat ini aku masih bersama teman-teman panitia di Gedung AS. Ada yang tampak sangat sibuk mendekorasi ruangan dan juga gladi, tapi ada juga yang terlihat sibuk sendiri. Hehe

Kemarin, ketika malam datang di waktu yang kira-kira sama dengan dua hari dan hari ini. Wajah riang dari yang paling sibuk hingga yang sibuk sendiri juga terpancar. Haha

Dan hari ini… aku ingat aku harus mencatat semuanya. Hitung-hitung merapikan kenangan.

……..

Ini tetang kamu. Kamu yang dinamai Science Camp oleh Dekan kami. Hai, kenalan dulu sini *jabat tangan*

SCIENCE CAMP 2015
Science Camp ini serangkaian kegiatan Open Day FMIPA Universitas Udayana, dimana menurut cerita Dekan kesayangan, kegiatan ini bertujuan untuk mempersilahkan seluruh masyarakat untuk mengetahui FMIPA secara bebas. Niatnya sih (suatu saat nanti) orang-orang bisa camping langsung di fakultas kami. Oke, karena hal itu belum terlaksana jadi Science Camp diisi dengan mengajak siswa SMA se-Denpasar dan Badung untuk jalan-jalan mengenal enam jurusan super yang ada di fakultas kami. Lumayan kan mahasiswa yang jenuh sama laporan atau skripsi bisa liat cabe jalan-jalan di kampus *eh :p hahaha

Yuk, lanjut. Alkisah ini kali kedua aku tercelempung dalam kegiatan dahsyat ini. Science Camp adalah program kerja bidang atau dinas satu Badan Eksekutif Mahasiswa FMIPA yang wajib terlaksana dan disukseskan oleh kepala dinasnya *nyengir kecut*. Tahun sebelumnya, saat bergabung di BEM FMIPA kegiatan Science Camp ini lancar, rame, dan melelahkan. Walaupun aku sendiri tidak yakin berperan cukup aktif sebagai anggota acara Kak Ita (Penanggung jawab Acara Science Camp sebelumnya), yang ku ingat selesai kegiatan Kak Ita sangat kelelahan hingga tak satupun panitia berani mengganggunya. Hihi.

Well, Science Camp 2015 is Comingggggg…. 22 Januari 2015.

Science Camp tidak hanya mengajak siswa SMA untuk jalan-jalan, tapi juga kami dari panitia mengundang mereka untuk bertanding ketangkasan dalam Lomba Cerdas Cermat, bertanding merangkai keindahan kata dalam Lomba Esai, dan memacu kreativitas dalam Lomba Poster Digital. Duh, keren banget ya. Ekspektasi sih peserta bakal banyak, panitia bakal kelimpungan melayani peserta, dan semua krodit lah ya intinya. Jeng,,jeng,, Negara Api menyerang. Hingga H-7 hari = SEMINGGU sebelum kegiatan panitia baru mendapatkan sebiji peserta untuk tiap perlombaan. WOW!

Entahlah, bagaimana ekspresi yang sepantasnya aku tunjukan sebagai penanggung jawab Scince Camp tahun ini. Mungkin lebih nyesek dari punya pacar yang gak percayaan sama kamu, atau jomblo berlama-lama gara-gara mantanmu kebelet pacaran sama temen kampusmu sendiri. Ya, lebih nyesek dari apapun.

Mulailah semua isi otak berputar untuk mendapatkan peserta. Promo di radio, bimbel, jemput bola atau panitia yang agresif duluan menjemput pesertanya ke sekolah mereka tanpa menunggu, sebar pamflet, sebar buku petunjuk kegiatan, broadcast info kegiatan via BBM, update kegiatan disosmed, ganti profil picture hingga display picture. RAME INFO SCIENCE CAMP dimana-mana intinya. Tak penting mencari siapa yang salah hingga tak ada peserta atau terlalu perhatian dengan panitia yang setengah hati bekerja, yang penting saat itu peserta datang, acara jalan!

YEAH, 11 Team Lomba Cerdas Cermat dan 5 peserta Esai datang tidak hanya dari Denpasar dan Badung. Ini rasanya seperti terbang naik naganya Raditya Dika *terharu*. Aku dan Eny (Koo Ilmiah-sekaligus rekan curhat galau Science Camp) yang sebelumnya selalu cemas tentang acara ini, setidaknya mulai bisa focus menyiapkan kepuasan peserta yang telah daftar. Eny bertugas membuat soal dan menemani juri lomba sepanjang kegiatan, sedangkan aku bertugas mengatur kelangsungan acara dari sejak Gladi bersih hingga bersih-bersih acara kemarin. Hahaha.

…….

Suasana Penyerahan Hadiah Pemenang Lomba Cerdas Cermat
Puas, lega dan senang. Ketiga itu kata yang menggambarkan perasaan selesai acara berlangsung. Semua berjalan begitu rapi dan lancar. Walaupun tetap ada kritik serta saran dari peserta tentunya itu bisa menjadi bekal untuk penanggung jawab Science Camp berikutnya.

Science Camp kali ini sukses menamparku, kalau ingin hasil yang maksimal kamu harus bekerja dua kali lebih keras dari sebelumnya. Menutup telinga dan mata terhadap orang yang mengabaikan kerja kerasmu terkadang harus kamu lakukan untuk tidak menahan langkahmu berjuang. Kalau sudah semua dikerjakan, jangan takabur. Karena, Yang di Atas tak akan pernah berhenti mengujimu. Bekerja keras, berjuang, berdoa. Bekal hari ini untuk hidup yang lebih menyenangkan.

Terima kasih seluruh panitia yang telah bekerja keras. Kalian LUAR BIASAAAAA ~


“Struggle for existence”

Siapa yang mau berjuang keras, maka ia yang akan bertahan hidup (Charles Darwin)
-Soal Lomba Cerdas Cermat Science Camp 2015-



Kenangan semangat panitia Science Camp 2015

Waktu

Waktu jalan begitu cepat, tak ku sangka kita saling menyapa di bulan yang sama. Sepertinya waktu menyimpan sebuah misteri, hingga dua anak manusia bisa tertawa kembali seperti awal mereka saling bertegur sapa di bulan yang sama. Kata orang tidak ada yang kebetulan, jadi kali ini aku percaya kalau ada yang disembunyikan oleh sang waktu.

Waktu itu kamu terjatuh, terluka, dan duduk di sebelahku. Butuh waktu sekian menit untuk bisa menerjemahkan sinyal dari mata-otak-hati kalau sepertinya ada rasa yang berbeda. Gayung bersambut! Bukan cuma aku, tapi ternyata kamu juga merasakan sinyal yang sama. Waktu begitu cepat kita habiskan dengan saling bercerita, saling mengenal hingga kita merasa saling membutuhkan.

Waktu itu kamu menolong aku yang tergerus ombak, terluka oleh karang, dan menuntunku pulang. Sebuah kenangan kamu ciptakan bersama waktu pendekatan kita. Waktu dimana pertama kali aku tahu kalau kamu yang akan selalu ada bersamaku menghabiskan sisa waktu.

Waktu bisa saja memisahkan kita kapan saja, beberapa kali kita terlempar batu kecil. Jika tidak aku, ya kamu yang terluka oleh batu. Hingga waktu membuat kita bear-benar harus terpisah. Sejenak atau selamanya tidak ada yang tahu, hingga waktu memberikan hadiahnya kembali.

Waktu menuntun mu kembali pada hati yang kamu inginkan sesungguhnya. Seberapa jauh kita saling berusaha tak menatap, seberapa kuat kita saling mengabaikan, angin pun tetap mampu menggoda senyum dari kita ketika hati kita masih saling menginginkan. 

Waktu bisa membuat kita dengan mudah lupa kalau kemarin kita berjumpa dengan sosok lain yang sejenak terlihat sempurna dari pasangan kita, hingga akhirnya kita sadar kalau waktu sedang menguji isi hati kita.

Waktu merubah perasaan naksir menjadi sayang begitu cepat, dan harus kita ingat waktu juga bisa mengubah rasa sayang menjadi biasa saja dengan kecepatan yang sama. Waktu mengajarkan ku untuk memelihara perasaan kita jika tak ingin terpisah untuk kedua kalinya.

Waktu pertama kamu bisa menantapku kamu mengungkapkan isi hatimu dengan malu-malu, kini waktu membuatmu tak ragu memegang tanganku bahkan sebuah kecupan kecil di keningku membuatku percaya kalau kamu ada untuk menyayangiku.

Waktu terus berputar mengikuti menit demi menit dan kamu masih tetap menantapku dengan tatapan itu. Tatapan yang membuatku pertama kali ingin tahu siapa sih kamu ? Hingga kamu dan waktu berhasil mencuri seluruh perhatianku.

Waktu tahu kalau aku dan kamu bisa bersama, hanya saja waktu ingin tahu sanggupkah kita bersama ketika jalanan tidak semulus yang terbayangkan.

Waktu mencoba mengusik kebahagian kita, waktu datang dengan sosok masa laluku dan waktu datang bersama sosok baru untukmu. 

Waktu benar-benar menguji kita. Aku yang merasa tak percaya akan sanggup menghabiskan waktu denganmu, dan kamu yang tak sanggup menahanku membuat waktu menang untuk memisahkan kita


Waktu pun tiba. Dimana kita tak bisa dipermainkan olehnya. Atau benar kita yang tak bisa menghargainya ?


Waktu membuatku atau mungkin kita tersadar.Kalau sebenarnya, waktu punya kisah untuk kita. Waktu sudah memberi kesempatan untuk kita saling bercerita. Waktu sudah memaafkan aku dan kamu yang sudah mengabaikannya. 

Kini saatnya, aku, kamu, dan waktu berjalan bersama. Tak perduli ini waktu yang tepat atau tidak, karena aku percaya ini waktu yang dinanti oleh hati yang rindu akan bersama.

Terima kasih waktu :)






Satu Masa


"Aku pun sadari ini hanyalah sebuah kisah semu yang sesaat. Meski yang kurasa begitu dalam, hasrat terbawa ohh…"
-Satu Masa, Maliq & D'essentials-


Aku menangkap sosok berbeda dari kamu yang tiba-tiba seringkali mulai berjanji, tapi tak ada kabarnya ketika aku menanti. Ini bukan kamu, bahkan sesibuk apapun kamu. Selalu saja kau menepati janji, tapi malam itu tidak. Hingga aku tiba di rumah dengan ransel baruku, handphoneku masih saja tidak bercahaya. Kabarmu lenyap.


Aku bisa melihat itu raut bahagia. Ketika kau bertemu denganku, Tidak biasa kau asyik dengan gadgetmu, tersenyum simpul. Kau pikir mungkin aku tak melihatnya. Atau memang sengaja kau pamerkan? Aku hanya mereka-reka, terdiam, dan melihat senyum itu lagi yang tak hanya sekali.



Kalian bertegur sapa di sosial media, muncul di timelineku.. Entahlah, dia mungkin orang berikutnya yang setelah sekian lama tak ada yang menggoda kamu di sosial media setelah aku. Aku memilih menutup akun ku daripada aku harus terkena serangan jantung di usia muda. Cukup melihat, cukup tahu.

Dan malam itu ketika kau begitu lemah, datang menghampiriku. Aku memilih diam dan menurunkan suhu tubuhmu dengan kain hangat yang ku tempelkan berulang kali di leher dan perutmu. Aku termenung, melihat kau mengigau sekian kali dan menarik tanganku. Aku menangis, entah karena melihat kau terbaring begitu lemah atau karena aku tahu kenyataaan sebenarnya dari handphonemu yang tergeletak di sebelahmu. Firasat memang bukan hanya harus dipercaya, tapi dibuktikan. Walaupun kenyataannya pahit, setidaknya kamu tidak harus berlama-lama dengan asumsimu. Sama sepertimu yang begitu lemah hadir kepadaku, entah karena penyakit yang sebanarnya atau sakit patah hati yang pertama kali setelah sekian lama ?

Karena kenyataan tidak selalu menyenangkan, bahkan saat hatimu sakit kamu tetap harus menghibur yang sedang melawan sakitnya. Bahkan kini aku mulai bertanya, jika ada satu masa untuk kita kembali mengulang, masihkah getar itu sama ?

Cepat sembuh, hati dan raga ya *senyum*

Belajar dari Owner Kedai Kopi

Malam ini, 06 Agustus 2014 pukul 21.00 saya janjian bertemu dengan seorang owner kedai kopi yaitu M*C* di Jalan Hayam Wuruk Denpasar. 

Saya menulis identitas lengkap pertemuan saya diatas karena saya tidak akan melupakan pertemuan saya malam ini. Walaupun harus ada bagian yang disensor, demi kebaikan bersama. Jadi ceritanya saya hadir ontime di kedai kopi ini, saya hadir bersama anggota saya (namanya Ana). Kebetulan saya orang beruntung yang memegang tanggung jawab menjadi Koordinator Penggalian Dana dalam kegiatan Hut kampus saya yang puncaknya akan diselenggarakan bulan Oktober nanti. Terkait dengan tanggung jawab itu, jelas kan apa tugas saya ? Iya, mencari dana sebanyak-banyaknya demi suksesnya acara. Dana yang diperoleh dari hubungan kerja sama (sponsorship) bukan sekedar donasi. Oke lanjut, sesuai dengan bayangan saya. Kedai kopi ini memang tidak pernah sepi, jadi saya bersyukur telah mengajak seseorang untuk menemani saya dalam situasi seramai ini menanti datangnya owner yang baru hadir 30 menit kemudian.

Singkatnya perasaan saya memang tidak enak dengan owner ini sejak awal menghubunginya untuk menanyakan kelanjutan proposal yang saya ajukan. Saat itu yang terdengar hanya suara yang tanpa ekspresi, sungguh flat mengatakan bahwa belum membaca proposal saya. Minggu berikutnya (sore tadi) saya menghubunginya kembali, dan jawabannya langsung "nanti ketemu di M*C* jam 9 malem ya," Oke fix, saya langsung mempelajari seluruh konsep acara dan harus siap untuk presentasi dihadapannya. Hanya itu yang ada dipikiran saya setelah mengakhiri pembicaraan via telepon dengannya.

Dan... tibalah saat itu..


Presentasi saya selesai, dan wajah itu berubah. "Lomba yang tentang F* (baca: kampus saya) kok gak ada dalam Hut kampusnya ?" Duarrrr.. petir menyambar saya. Ini pointnya malam ini.

Saya bertemu dengan orang cerdas malam ini. Dia bukan pemilik sembarang kedai kopi, saya berani bertaruh jika ada 10 orang saja yang memiliki otak dan pendirian yang sama sepertinya tidak akan ada lagi orang miskin di Bali. Orang ini benar-benar menampar psikis saya malam ini, dengan membuat saya diam tanpa kata dengan nada bicaranya yang sangat tegas membuka pandangan saya yang biasa. Bisa dibilang sangat mainstream. Mungkin bisa saya bocorkan sedikit apa yang dia katakan :


"Seharusnya kalian membuat suatu acara yang berkaitan dengan profesi kalian ke depannya, jangan hanya sekedar having fun dengan acara ala anak-anak banjar merayakan 17 Agustusan. Capek-capek buat acara, cari sponsor banyak-banyak, tapi hanya sekedar untuk hura-hura. Apalagi kalian sekarang mahasiswa yang pikirannya bukan lagi sama dengan anak SMA. Kalian bangga tidak kalau bisa membuat lomba desaian obat herbal, pemenangnya bisa membuat obat sebelum lepas menjadi seorang yang kesehariannya memang akan kerja di apotek nantinya, harusnya kalian malah ikut berpikir bagaiamana konsumen yang minum obat selama bertahun-tahun bisa nyaman dengan obatnya," ujar seorang owner kedai kopi yang namanya dilengkapi dengan gelar S.Ked.

Saya terpaku. Dan rasanya ingin lari kembali pada rapat dan mengubah konsep acara. Entah bagaimana dari sekian banyak peserta rapat (sebelumnya) tidak ada yang bisa mengguncang rapat dengan ide baru seperti ini. Termasuk saya. Jangan kira saya hanya diam setelah mendapatkan omongan ini, saya langsung membagi kekecewaan saya ini dengan Ketua dan Koordinator Acara kegiatan saya ini. Tapi ? Nothing.

Entah ini "nasi sudah jadi bubur" atau semacam "yang penting kerjaan selesai, yaudah". Kegalauan maksimal saya malam ini adalah, bagaimana kamu bisa puas dengan kegiatan yang "super biasa" dan kamu ulang tiap tahunnya padahal kamu punya kesempatan untuk bisa merubah itu. Kamu, dengan segala kemahasiswaanmu, seharusnya mulai berpikir bahwa puasnya kamu sebagai orang ketika kamu berhasil menciptakan sesuatu yang baru, yang berbeda, karena dari sinilah awalmu mengenal hidup. Hidup yang keras dan selalu butuh akal yang berkembang untuk bisa terus hidup. Jadi bisa di bilang, malam ini saya mati konyol karena gagal menyakinkan teman saya untuk ikut merasa kecewa dengan ide "biasa" yang dirancang.

Tapi katanya, kalau kalian tidak bisa merubah sistem yang ada harusnya kalian berdua yang mulai merubah diri kalian. "Saya hanya ingin anak muda sekarang mandiri, dan membuka ide yang ada dalam kepalanya" katanya lagi sambil menunjuk buku menu dan seluruh isi kedai kopinya yang memang sangat unik dan dirancang sendiri oleh seorang dokter ini.

Semoga yang membaca tulisan ini juga berhenti terlalu "biasa" seperti saya, karena owner ini tidak hanya sekedar memberi bekal hidup tapi menghidupi kegiatan saya dengan memberi produk yang menguntungkan. Baik sekali bukan ? saya ditampar dan setelah itu diberi hadiah. Luar biasa. Saya sepertinya harus lebih sering ditampar dengan orang-orang seperti ini deh ^^


(sembarang dari google, tapi pas ya. Kopi dan Obat)
nb : kedai kopi ini tempatnya asik, dan harganya juga terjangkau. Bisa dibilang murah bahkan, ditambah dengan varian kopi yang beraneka ragam. Jangan ragu untuk mampir, yang ingin tahu bisa tanya secara personal dengan saya ya :)

Berakhir di Awal Kepala Dua

Sebentar lagi tanggal 30 Juli berakhir. Huh, entah ini penutup yang indah atau tetap harus disyukuri menjadi penutup yang indah. Saya memang menganggap 30 adalah tanggal terakhir dari bulan sakti yang satu ini. Tanggal ini merupakan tanggal penentu kelangsungan hidup saya. Khususnya di tahun ini. Mungkin terkesan cukup berlebihan, tapi ini serius lho.

Hm.. kuota paket habis, pulsa yang jatahnya satu bulan lenyap, salah kirim pulsa akibat (mendadak) gak inget nomer sendiri, gak bisa tidur, mata udah semakin sipit akibat air mata yang non stop dari sore. Please deh, kacau banget sih hidupmu (ngomong sama kaca). Jadi begini asal muasal bagaimana bisa sekacau ini, ya hari ini hari spesial (seharusnya) untuk seorang mantan pacar saya. Ehem.. serius mantan dan gak bakal pernah jadi pacar apalagi suami. Miris bung. Saya cukup antusias untuk merayakan hari ini, faktor utama bukan karena masih terlalu cinta atau apa, tapi karena kami sudah tidak punya cukup banyak waktu untuk bersenang-senang seperti saat SMA.

Saya dan dia sudah mulai beranjak dewasa dengan umur berkepala dua di bulan kelahiran kami yang sama. Mau tidak mau saya dan dia harus menerima segala tetek bengek beratnya masalah orang dewasa. Sebenarnya dari awal kami bersama (dulu) juga sudah menjadi suatu masalah. Ya kami berbeda keyakinan, berbeda dalam menyebut nama Tuhan. Itu menjadi masalah cukup besar bagi orang-orang dewasa disekitar kami, walaupun sebenarnya dia yang selalu menemani saya keliling sekolah (dulu) untuk sembahyang saat pulang sekolah, dia yang selalu mengingatkan saya untuk menundukan kepala sejenak sebelum makan, dan dia yang selalu mengajarkan saya untuk pasrah kepada Tuhan akan semua masalah yang saya hadapi. Ini bekal hidup, saya dapat dari mantan pacar saya. Bukan dari orang-orang dewasa yang selalu memicingkan mata ketika melihat kami (dulu) bersama. 

Kembali ke masalah orang dewasa, sudah sejak lama. Entah tepatnya kapan, saya lupa atau mungkin malas mengingat. Dia bercerita akan pergi meninggalkan saya untuk mengejar cita-citanya di luar negeri. Begitu antusiasnya dia bercerita, bahkan saya juga telah menemani dia bersama keluarganya menyiapkan segala keperluaannya untuk hidup di luar negeri. Awalnya Jepang sekitar satu tahun, dan tiba-tiba Irlandia sekitar enam bulan. Itu tempat yang (seharusnya) menjadi tujuannya. Satu hal yang membuat saya begitu sedih ketika dia berkata bahwa saya bukan prioritas utamanya lagi, jadi dia tidak ingin saya kecewa dengan membiarkan saya menantinya pulang tapi dia tidak bisa bersama dengan saya ketika saat itu tiba. Jangan berpikir dia jahat, dia baik. Bahkan teramat baik, hingga tidak ingin saya menanti dia  yang fokusnya hanya untuk sukses. Dia tidak ingin saya ikut rumit bahkan sengsara karena menunggu dia. Entah perasaan apa yang saya rasakan ketika pertama kali dia mengatakan itu kepada saya. Ibarat gunung, mungkin saya bisa langsung saja meledak. Semuanya porak-poranda.

Ini awal masalah dewasa terumit, bahkan sangat rumit setelah hubungan beda keyakinan kami. Sebelumnya kami memang sesekali tampak bersama. Jika kami tidak sama-sama sibuk mungkin kami bisa mengalahkan pasangan teromantis sekalipun. Menurutku ini kebiasaan. Kebiasaan yang membuat kami saling membutuhkan. Aku dan dia bisa punya berjuta cerita yang bisa kami tertawakan tiap kali berjumpa. Entah itu lucu atau tidak, ada perutnya yang beranjak buncit yang tetap bisa digoda. Dan akhirnya kami tertawa. Mungkin beberapa orang akan heran dengan hubungan jenis apa yang kami jalani. Aku dan dia pun tak tahu. Dia memang saat ini tidak ingin membuka hatinya untuk wanita lain karena itu bukan prioritas utamanya, walaupun tidak menutup kemungkinan jika ada gadis belia seperti JKT 48 yang jomblo dihadapannya akan disikat pula. Aku tidak mempermasalahkan ini. Tepatnya tidak beranci jamin akan cemburu atau tidak, tapi aku hanya mengizinkannya untuk bersama dengan wanita yang sama keyakinannya dengannya. Sedangkan aku, putus darinya sudah beberapa laki-laki yang wara-wiri di hati. Jangan kira dia tidak tahu, atau dia tidak peduli. Bagiku dia sangat peduli, bahkan ketika aku sedang frustasi dengan laki-laki yang nampak memberi harapan palsu padaku, pelarianku ya padanya. Hanya dia yang komplit tahu mengenai semua laki-laki yang dekat denganku. Kadang dia cemburu, kadang dia memarahiku, kadang dia menegakkan kepalaku supaya tidak membanding-bandingkan laki-laki lain dengannya.

Saat ini kami sama-sama sendiri, aku benar-benar berpikir bagaimana bisa menyenangkannya di detik-detik keberangkatannya. Aku belajar keras semester ini, walaupun tetap tidak bisa mengalahkan IPK sempurnanya. Aku berencana untuk magang di apotek liburan ini, tapi tidak terealisasi karena liburan yang cukup pendek. Aku juga berencana les bahasa inggris, supaya bisa menyainginya niatnya. Tapi, tidak tercapai. Eits, jangan kira aku berhenti. Aku juga diam-diam membeli buku untuk latihan TOEFL dan kamus kok, hanya saja sepertinya dia tidak akan tahu ini jika tidak membaca ini. Entah bagaimana aku ingin sekali terlihat lebih baik sebelum dia meninggalkanku. Dan hasilnya bulan Juli, bulan yang ku takutkan mendatangkan kebahagiaan.

Bahagia karena hasil semester ini cukup memuaskan untuk memperbaiki semester sebelumnya, aku punya teman-teman kos yang begitu hangat merayakan ulang tahunku, dan hari ini. Penutup Juli ini, kami bertemu. Aku berencana pergi bersamanya, entah kemana. Setelah berhari-hari kami tidak saling bicara, hanya perang stiker di Line yang berujung rasa bosan. Rencana hanya tinggal rencana. Aku mengantarkannya ke tempat les bahasa inggris terkemuka di Sesetan, tapi sayang masih libur lebaran. Jadi kami berputar balik pulang. Tibanya di rumah, yang aku dengar hanya adu argumentasi dia dan ayahnya. Masalah masa depan, ini bukan yang pertama. Seringkali kudengar tentang ini, tapi kali ini nampak lebih serius. Gerah rasanya hadir diantara mereka. Syukur, ada komang (adiknya) yang kujadikan pengalihanku. Aku bermain-main dengan spidol dan white board bersamanya, meskipun tetap kupingku tak bisa berhenti untuk peka mendengarkan semua. Akhirnya aku tahu sendiri bagaimana usahanya meyakinkan orang tuanya, aku tahu sendiri bagaimana fokusnya dia, bagaimana ambisinya yang tak bisa dipatahkan. Sejauh ini, dia tidak jadi berangkat ke Irlandia. Ini masalah dengan kampus dan visanya, dan sepertinya dai sudah tidak mengharapkan. Karena ini bukan hanya sekali, sudah beberapa kali dia menaruh harapan tapi tetap tidak ada kabarnya. Sekarang fokusnya meneruskan garment milik keluarganya, entah dia jadi cuti dari kuliahnya atau tidak. Dan tentunya akan tetap tekun belajar bahasa Inggris dan Jepang sembari menanti keberangkatan lainnya. Yap, hari ini aku menyerah. Sungguh berjanji pada diri sendiri tidak akan mengusiknya sedikitpun. Aku tahu bagaiman raut wajahnya yang berubah ceria ketika selesai berargumen dengan ayahnya, wajah yang sebelumnya cemberut tapi berusaha ditutup-tutupi benar-benar berubah ketika dia mantap dengan masa depannya.


Aku menyebut ini pengorbananku untuk sebuah kesuksesan. Tidak ada yang lebih menyenangkan melihat yang disayang bahagia mengejar cita-cita walaupun harus meneteskan air mata melepas semua kebiasaan bersama. Aku memang tidak bisa melakukan ini, tapi aku harus melakukan ini. Aku juga harus mulai dengan sesuatu yang lebih baik sepertinya, bukan malah meratapi kepergiannya. Dia telah membuat hidupku berubah jadi lebih baik, dan itu harus kuteruskan. Meski harus kehilangan sepotong hati. Aku akan mulai semuanya dari awal, mulai menyusun hal-hal menyenangkan yang bisa kulakukan. Mungkin aku tidak akan terburu-buru mencari penggantinya, berkaca dari pengalaman sebelumnya. Tidak ada yang menetap di hati begitu lama, yang diharapkan terbaik malah setengah hati bersama. Hehehe. Ya, setidaknya mencari teman bicara dulu lah ya, yang bisa diajak berbicara dan tertawa ngalur-ngidul. Kalau klik siapa tahu bisa jadi teman hidup. hihihi *promosi* ^^v

Sekian cerita saya, akhirnya kantuk datang juga. Ah, leganya.

Selamat ulang tahun, lebih semangat mengejar cita-cita diumur yang sudah berkepala dua.
Terima kasih untuk semua kenangan yang indah :)
 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com