Pages

Mama & Pertambahan Usia

"Pasti dah sibuk pratikum sama kuliah, sampe ngucapin selamet ke mamanya aja gak ada lho," ucap ibu cantik yang berusia 42 tahun pada anak pertamanya yang tak kalah cantik Selasa, 8 Oktober 2013 kemarin.

itu ucapan mama yang pertama kali muncul waktu liat anaknya dateng dari bukit. sukses memberi kejutan dengan tidak mengabari mama seharian, cukup membuat terharu ketika mendengar ucapan itu. hahaha. ampun mak :p

Oke, pos ini sebenernya hanya untuk kesenangan pribadi penulis. Berhubung blog udah lama tidak disinggahi dan di malam yang indah ini, dengan kecepatan modem baru dan foto-foto cantik yang menghiasi hp tak tahan ingin digoda. Yasudah, langsung saja ~


Semua berawal dari siang hari, selepas perkuliahan berakhir. Langsung saja berangkat menuju Denpasar dari Bukit Jimbaran. Eits, mampir dulu di Kantin AF deh. Isi perut biar motornya gak jalannya sendiri ntar. Lalalala ~ perjalanan lancar, aman, dan tidak mengantuk. Sampai di Denpasar langsung berburu kado dan tetek bengeknya.. Dan sampai akhirnya di TKP. Dibukakan pintu oleh si gembul yang selalu buat kangen. Hingga akhirnya kami bergurau penuh tawa. Muncullah dialog ini :

aku : Mang, gak kasi mama kado?
gita : Nanti mang gita mau petik bunga, terus iketin pake pita ya kak ani
aku : Oke deh. Isiin tulisan buat mama yok, kak ani yang kasi tau mang gita yang nulis yaaa
gita : *gebur tas nyari kertas dan pulpen*
aku : *ketawa devil*

Gita sedang merangkai kata

Ekspresi bahagia selesai merangkai surat cinta untuk mama

Tujuan semua ini hanya ingin membuat dia semakin lancar membaca dan menulis. Dan sungguh hasilnya diluar dugaan.. anak ini memang cerdas.. *ketjup*

Taraaaaaaaa.. ini hasilnya sodara-sodara

By :  Ni Komang Gita Maheswari Pratiwi
Yup. Akhirnya sekitar jam 7 malam mama tiba di rumah. Dengan wajah gembira langsung saja diserah terimakan segala jenis tetek bengek ini. Hasilnya kami (aku, fina, gita) saling tersenyum dan tertawa.

Kado, bunga, kue (rainbow cup dan sus buah) dari ku, surat cinta dan bunga jepun dari gita, dan gelas cantik dari fina
Kebahagian kami pun berlanjut dengan sesi foto-foto sebelum melahap kue yang sudah menggoda kedua adikku ini -_-

mama & gita

Tampak ceria ekspresi Gita menyuapi mamanya

Ini edisi "megarang" (rebutan) kue dengan pelaku Gita, Fina dan Mama

Yaa, itulah serangkaian singkat upacara pertambahan usia ibunda kami. Hm, sederhana. Tapi berhasil membuat kami berkumpul dan saling bertukar senyuman.

SELAMAT ULANG TAHUN, MAMA ^^

Tidak ada wanita secantik dan sehebat kau mama. Semakin bertambah usia, semoga kami selalu bisa membuatmu bahagia. Walaupun dengan hal-hal sederhana, ku yakini kau sangat berharga.

Jurnalistik itu (harusnya) Menjanjikan

"Banyak orang mengatakan kerja atau menekuni bidang jurnalistik itu tidak menjanjikan. Apa yang menjadi motivasi Bapak hingga saat ini masih setia dengan jurnalistik,?" tanya salah seorang peserta Akademika National Talkshow dengan tema Ini Kisahku, Jurnalis Indonesia (16/09) di Ruang Teater Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Tersenyum. Itu yang tampak dari kedua pembicara talkshow yaitu Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda (Putu Setia) dan Andreas Harsono ketika ditimpali pertanyaan seperti itu. Peserta talkshow lainnya pun tampak antusias menanti jawaban apa yang akan terpapar dari kedua wartawan senior ini.

Menggeluti dunia jurnalistik memang hal yang menyenangkan. Ibaratnya melalui media jurnalistik kamu bisa menguasai isi dunia. Bisa dikuasai untuk kepentingan masyarakat luas dan tidak menutup kemungkinan dikuasai oleh oknum-oknum tertentu guna memenuhi hasrat pribadi mereka. Hal ini pula yang menjadikan susahnya menjadi jurnalis yang independent. "Jarang sekali ada wartawan yang bebas merdeka meliput berita di papua nugini, peristiwa berbau konflik atas nama agama, dan peristiwa sengketa tanah," ungkap Andreas Harsono.Tak jarang wartawan mendapatkan teror dan kecaman keras dari pihak-pihak yang tidak terima dibongkar aibnya oleh seorang pengungkap kebenaran ini. Bahkan, berita kekerasaan fisik hingga kematian yang diterima oleh seorang wartawan kerap kali menghiasi wajah media televisi.

Tak heran jika pada talkshow ini, peserta menanyakan hal menarik di atas. Hal menarik yang menjadi motivasi wartawan senior ini tetap bertahan di dunia kejam jurnalistik. "Bidang Jurnalistik atau pekerjaan menjadi wartawan sangat baik jika kita berada pada pihak media yang memiliki sistem kerja yang menjanjikan," tutur Mpu Jaya Prema. Menurut pandita yang sesekali melemparkan lawakan ini, banyak media yang hingga saat ini mampu mengolah hasil liputan atau riset mereka tanpa perlu dibuatkan berita yang mengolok-olok masyarakatnya sendiri. Tak hanya itu, "Saat ini jadilah wartawan atau reporter yang handal karena menguasai media atau multi media," imbuh Andreas.

Ini dia point jawaban yang sesungguhnya harus mulai dicermati mulai detik ini oleh para penggiat pers atau jurnalistik, menjadi seorang jurnalis pada masa sekarang  sudah menjadi kewajiban untuk dapat menguasai teknologi yang ada. "Memiliki twitter, mampu menggunakan slide, memiliki blog, mengupdate info peristiwa melalui media sosial, dan masih banyak lagi," tutur Andreas Harsono. Jangan hanya menulis saja, tapi gunakan sebanyak-banyaknya media yang ada untuk berbagi informasi. Karena pers harus dapat meminimalisir disinformasi ditengah tsunami informasi seperti saat ini.

Bikini Bottom Ceria

" Who lives in a pinapple under the sea? Spongebob Squarepants! "


Ini bikini bottom versi kami. Penuh suka ria dalam mengais kerang, menata kerang, hingga menghancurkan kerang. *eh

Rekan sejawat sedang mengais kerang :p

Sepintas memang terlihat sederhana. Biasa saja. Tapi ini berhasil mengukir senyuman diantara kami. Sama seperti keluarga bikini bottom lainnya, yang selalu ramai, akur, dan indah.

Bikini bottom dengan beraneka kerang
Ditengah penatnya masalah orang dewasa, mengajak seseorang tertawa dengan hal-hal konyol seperti ini setidaknya sejenak bisa mengalihkan bebannya. Yup, sekali lagi aku berhasil membuktikan bahwa bahagia itu sederhana. 

KAMIS KE – 300


Kisah singkat Perjuangan Keadilan dalam Bingkai Sinema

Judul Film                    : Kamis ke-300
Ide Cerita                    : Happy Salma
Penulis Naskah            : Putu Wijaya
Sutradara                     : Happy Salma
Produksi                      : Titi Mangsa Foundation 2013
Pemain                        
: Amoroso Katamsi,Aji Santosa,Sita Nursanti,Nugie Durasi                          : 13 menit

“Aparicion con Vida, Aparicion con Vida, lepaskan mereka hidup-hidup..” seruan kakek dengan bahasa Argentina kepada cucunya diawal cuplikan film pendek ini.

            Film ini mengisahkan tentang seorang ibu dan keluarganya yang menuntut dikembalikannya keluarga mereka yang hilang begitu saja kepada pemerintah. Setiap kamis, di depan istana negara sekelompok orang berdiri dengan baju hitam-hitam dan paying hitam yang bertuliskan kasus-kasus pelanggaran HAM yang hingga detik ini belum tuntus di negeri ini.
            Melalui sepenggal kisah tersebutlah, perpaudaan antara kisah fiksi dan film dokumenter melahirkan film pendek ini. sebuah keluarga yang kehilangan salah satu anggota keluarganya. Hilang dalam sebuah sebuah peristiwa dan tetap selalu dinanti kedatangannya. Sang kakek yang diperankan oleh Amoroso Katamsi merupakan sosok utama dalam film ini yang ditangah ketidakmampuan fisiknya, tetap bersemangat dan pantang menyerah menanti serta menuntut kedatangan anaknya kembali. Melalui cucunya, Markus yang diperankan oleh Aji Santoso, kakek menaruh harapan-harapannya. Setting utama film ini adalah di rumah kakek, dengan semua elemen visual yang mencerminkan kehidupan sehari-hai kakek dan keluarganya.
            Kisah ini dikemas apik dengan pemilihan sinematografi warna hitam-putih yang membuat film ini menyatu dengan beberapa cuplikan film documenter yang memang sengaja disisipkan dibeberapa adegan dengan menggunakan teknik editing kuleshov (menggabungkan satu dengan gambar lain dengan tujuan menghasilkan pemahaman serta dampak emosi tertentu). Seperti saat kakek yang terlihat resah digabungkan dengan shot film dokumenter ketika anaknya disergap oleh tentara militer. Tentunya teknik ini dapat membuat emosi penonton ikut terpancing dalam menyaksikan film yang disutradarai kedua kalinya oleh Happy Salama setelah film pertamanya Rectoverso.
            Masih banyak adegan perngharapan, perjuangan, dan semangat yang tak henti jua ditampilkan dalam film ini. Semakin terasa komplit dengan bumbu-bumbu penayangan kasus sadis pelanggaran HAM di negeri yang terkenal dengan budaya ramah tamahnya ini. Menarik memang namun, dibalik itu semua durasi film yang terlalu cepat berakhir dengan adegan akhir yang menggantung menjadikan penonton bertanya-tanya bagaimana kisah selanjutnya. Tapi, hal tersebut tertutupi dengan keinginan film ini yang sangat terlihat ingin memanggil jutaan hati penontonnya agar terus tergerak memperjuangkan bersama keadilan sosial yang merata bagi seluruh masyarakat Indonesia. Aparicion con Vida ! (cah)






Hadiah jadi EDITOR !

Sejelek itu ya tulisan saya sampai habis-habisan waktu itu dirombak..” curhat gadis itu pada seorang senior saat Wisata Jurnalistik di Danau Buyan  beberapa bulan lalu.


Untaian kata selalu terngiang ketika ku tatap wajah gadis itu. Ada perasaan mengganjal yang hingga detik ini ku rasakan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya serasa menerkamku. Setiap baris yang tertulis olehnya seperti mengingatkanku akan semua hal yang ku lakukan pada tulisan indahnya itu. Ya, tulisan indah yang seharusnya tidak perlu dipotong sana-sini. Duh, tak indah lagi kan!

Semuanya berawal dari sebuah ide melakukan ajang duel kelompok. Kami –anggota magang- yang saat itu dipecah menjadi dua kelompok diwajibkan untuk menulis sebuah bulletin. Awalnya merasa tertantang dengan kegiatan ini. Sudah cukup lama tak mengasah otak dan jari-jari tangan yang mulai kaku. Rindu rasanya bertemu dengan orang-orang baru yang bisa berbagi ilmu dan menginsipirasi ketika ditanya ini itu. Saat itu tiap kelompok dipimpin oleh satu pemred (Pemimpin Redaksi) yang tidak lain adalah senior kami yang bukan seperti kami –anggota magang- tentunya. Okelah, pemrednya bisa diajak bekerja sama.

Berhari-hari kami berdikskusi. Melakukan kewajiban kami masing-masing, mencari sumber kesana-sini, ya intinya kami berjuang sematang mungkin. Totalitas. Entah, aku sedikit melupakan kejadian saat itu. Yang ku ingat aku sempat dipercaya untuk mengingatkan teman kelompokku akan batas waktu penulisan rubrik mereka dan juga mengedit tulisan mereka karena mereka sendiri yang menginginkan aku menjadi ‘editor’ amatiran. Ini tidak mudah bung.  Rasanya lebih baik menjadi penulis disbanding harus membaca, mencerna, lalu memperbaiki untain kata yang melenceng namun tetap sejalan dengan pemikiran penulis aslinya. Rasanya saat itu ingin sekali memeluk editor yang selama ini setia mengawasi tulisan yang ku buat. Singkatnya aku berusaha melakukan semuanya dengan totalitas. Potong sana potong sini, tambah ini tambah itu. Tapi tetap, mengikuti alur keinginan penulis menyampaikan maksud tulisannya. Hingga akhirnya semua beres. BERES. 

Aku benar-benar menganggap semuanya selesai hingga bulletin itu diterbitkan. Dan ternyata, sebuah luka muncul karena editor amatiran ini. Sial. Seperti membuka memori lama. Semua yang kulakukan rasanya harus dibuka perlahan, kuingat semua yang kulakukan. Ya seingatku saja tentunya.

Oh, jadi editor amatiran itu yang menjadikan tatapan menusuk yang kau berikan ketika menatapku? 
Rasanya yang ku lakukan tak berlebihan. Hanya mencoba menjadi sedikit lebih diantara kalian yang baru saja mengenal asiknya menulis. Membantu mempercantik tulisan kalian karena memang sejak awal keputusan kalian yang membuatku melakukan semua itu. Sebagai manusia ya aku juga berusaha membela diriku sekaligus berusaha memperbaiki diri. Waktu memang berhasil membuat semuanya sirna, tapi tatapan itu. Entah memang aku yang terlalu gede rasa atau mungkin kau juga merasa hal yang sama,  kau masih tak terima akan semuanya.

Ya, terimakasih untuk pecutanmu. Kau dan tulisanmu memang cantik. Tanpa harus dipercantik lagi. Dan itu cukup membuatku terbangun dan sadar akan tujuan awalku ada di dalam satu payung bersama nona cantik sepertimu. Bukan menjadi  nona tercantik, melainkan untuk mempercantik  tingkah dan hati senada dengan untaian kata indah kita. 


Special for WM

beberapa ekspresi jail perayaan hari besar kelahiran si kurus (30/07/12)

buka kadonya, buka kadonya, buka kadonya sekarang jugaaaa

SELAMAT ULANG TAHUN ^^

Setahun kemarin masih bisa gila-gilaan bersama, tahun ini mungkin berbeda tapi jangan khawatir yang selalu sama ya doa kita. Doa yang selalu bisa menguatkan kita jadi lebih baik. Lebih baik seperti saat ini. Maaf, aku terlalu mengkhawatirkan situasi hari ini, rasanya nyaliku sangat kecil untuk berani bertatap muka hanya untuk sekedar mengucapkan selamat. Ku doakan selalu yang terbaik untukmu, cinta putih abu-abu ku ...

sebenernya mau kasi ini ><

Kagum dengan "Si Hukum"

Perjalanan waktu membawanya menjadi sosok yang tangguh. Segala jenis rintangan pasti dihadapinya demi membahagiakan orang-orang yang telah membesarkannya. Kini yang terlihat hanyalah hiruk pikuk kesehariaannya yang tak pernah lepas dari kepenatan.Sejenak terbersit, "Hebat yaa, rasanya aku juga ingin sepertimu.."

Dari awal, dari mulai aku tahu tentang beberapa 'kebadunganmu' aku tak pernah menyangka kamu bisa sesukses hari ini. Kamu yang katanya tidak pernah absen menghisap batang-batang nikotin itu, kamu yang sangat akrab dengan minuman maksiat itu, dan kamu yang bercerita sangat ekspresif kepadaku tentang hepatitis yang pernah menghampirimu akibat semua ulah 'badung' mu itu. Sebagai pendengar yang baik, saat itu aku hanya memperhatikan mimik wajahmu itu. Lucu. Sesekali aku ikut tertawa dan tetap setia mendengarkan nostalgia masa putih abu-abumu itu. Tapi semuanya berbeda detik ini, kau tumbuh menjadi sosok yang membuatku bangga, sosok yang membuat orang disekitarku juga ikut bangga ketika aku atau orang-orang lainnya yang hanya menyebut namamu saja.

Kini kau telah menjadi seorang sarjana. Sarjana yang kau tempuh hanya dengan sekejap mata, yang disusul dengan indeks prestasi yang membuatku tak henti-hentinya terpukau. Sepertinya kau tak puas sampai disitu ya? ku dengar dari ibuku, kau bekerja di salah satu media di Bali. Hm.. awalnya terasa mengganjal dihati, bagaimana seorang Sarjana Hukum yang sebelumnya badungan itu bisa bekerja di media televisi itu? pertanyaan ini pun terjawab ketika beberapa bulan kemarin kita (aku dan ia) kembali bertegur sapa setelah sekian lama aku hanya tahu dan mengaguminya tanpa terikat oleh 'tali' apapun. Kembali ku dengar ceritanya ketika ia mulai membanting tulang sembari melanjutkan sekolah S2 nya demi keinginannya menjadi seorang notaris. Diusianya yang muda itu, dengan segala tingkah pola kehidupannya rasanya tak berlebihan aku mengaguminya :)

Ketika perasaan kagum itu mulai menjadi bunga-bunga kecil yang indah, segera aku petik dan ku taruh pada vas bunga di pojok kamar itu. Aku tak ingin dan tak akan pernah berusaha membiarkannya tumbuh semakin tinggi, panjang, besar, mekar bahkan sangat indah. Aku tahu masa depanmu pasti cerah, dan aku selalu mendukung itu. Mendukung dengan berbagi hal, termasuk memetik segera harapan-harapan yang bisa muncul kapan saja itu. Walaupun tak bisa ku pungkiri, beberapa ungkapan manis itu sempat membuatku bersemangat untuk dapat meloncat sangat tinggi seperti apa yang kau perlihatkan padaku. "Hay kak, jangan paksakan aku mengikuti mau mu bila tak kau indahkan mimpi tentang kita," 

Kejarlah semua keinginanmu, gapai semua bintang-bintang itu. Aku tak ingin menjadi bebanmu, dan perasaanku juga tak ingin kau gantungkan terlalu tinggi seperti mimpi dan bintangmu itu. Cukup, ku kagumi kau saja. *senyum*



 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com