Pages

Imajinasi (masih) tentang Kamu

Hujan turun semalam, tepatnya dini hari sekitar pukul tiga pagi. Tiba-tiba mataku terbuka, dan yang terlintas bayanganmu. Secepat mungkin kutarik selimut dan bantal guling yang sudah tidak karuan larinya kemana. Udara sangat panas, tapi entah mengapa aku butuh selimut itu untuk menutupi ingatanku. Tapi sayangnya ini tidak berpengaruh banyak, aku memang kembali tertidur lelap tapi ketika pagi benar-benar datang kembali ingatan itu datang lagi.

Hm.. ini masih teramat pagi untuk berbicara urusan hati, tapi apa daya ini pagi keempat ku tanpa bertegur sapa denganmu. Baru keempat, belum selamanya kan? tapi ini sudah cukup membuatku tak terarah memikirkan semuanya. Diammu semakin membuatku, pikiranku, dan hati ini menjadi me-'reka-reka ' keadaan sesuai dengan imajinasiku. Diammu semakin membuatku untuk terbiasa kembali seperti dahulu saat kau online, kau ada, kau tahu, kau lihat tapi tak sedikitpun dari kita saling menyapa. Aku tidak akan mempermasalahkan diammu itu, imajinasiku mengajakku bersahabat dengan diammu juga dan melihat apa yang akan terjadi. Tapi, sanggupkah?

Hai, pagi. Hai, senin pagi yang cerah. Hai, Hai, dan Hai kamu yang di sana. Imajinasi tentangmu pagi ini sungguh membuatku tak sadar menulis ini untukmu lagi. Walaupun yang terlintas samar-samar, hanya sesosok pria kurus dengan wajah yang ku rindukan. Tapi terima kasih masih terlintas di imajinasiku. Lebih tepatnya ingatanku.

Kenalan dulu yuk

EDISI 1 

Kamu itu teman SMA yang sangat aneh sejak awal kita kenal dimulai dari tugas fisika itu

Kamu itu pacar sejak masa putih abu yang paling romantis yang ku miliki

Kamu itu punya nama yang selalu membuat orang bertanya “Kok namamu ada Made-nya?”

Kamu itu memiliki banyak panggilan nama dan aku sangat suka dengan nama belakangmu

Kamu itu adalah lelaki terganteng dengan bulu mata super lentik

Kamu itu hitam manis dan aku sangat suka membandingkan warna kulitku denganmu karena akibatnya aku terlihat lebih putih

Kamu itu kurus dan ini membuatku menjadi parno ketika berat badanku bertambah

Kamu itu tinggi atau mungkin hanya beberapa centi meter lebih tinggi dariku

Kamu itu berkacamata sebelum akhirnya kamu memakai softlens. Aku pernah melarang ini karena khawatir dengan kesehatan matamu dan sebenarnya bagiku kau terlihat lebih tampan dengan kaca matamu

Kamu itu tak pernah (jarang) memiliki rambut panjang atau gondrong. Selalu terlihat rapi khusus dibagian rambut

Kamu itu memiliki telapak tangan seperti bayi. Sebelum kamu mulai bersentuhan dengan dunia pariwisatamu itu

Kamu itu memiliki aroma tubuh yang selalu membuatku tergila-gila

Kamu itu orang yang selalu berpakaian rapi dan sederhana

Kamu itu sangat menyenangi salah satu pakaianmu dan akan menggunakan baju itu dalam frekuensi yang lebih sering dari pakaian lainnya. Seperti baju bonsai, baju putih polosmu dan jaket abu-abu.

Kamu itu terlihat sangat tampan saat menggunakan kemeja putihmu

Kamu itu sedikit bicara dengan orang-orang yang baru kamu kenal

Kamu itu selalu terlihat jutek dan hal ini juga diiyakan oleh teman-temanku yang mengenalmu

Kamu itu sanggup membuatku diam atau tepatnya syok hanya dengan sedikit kata yang keluar dari mulutmu

Kamu itu rekan terkonyol yang selalu membuatku ngakak dengan segala ceritamu


Kamu itu …………………….. (bersambung)

Bukan keluhan, Tapi keterlambatan ?

Jujur saja, rasanya tidak tenang. Hp tidak menerima pesan satupun dari kamu jika aku tidak memulai mengirim pesan terlebih dahulu. Itupun dengan perasaab ragu aku mengirimnya. Yah, dibales. Rasanya bukan senang, tapi yaa ... Katamu tidak boleh mengeluh, aku mencoba mempraktekan ini secara nyata. Lihat berapa lama aku bisa bertahan 'tanpa mengeluh kepadamu' dan orang lain selain kamu.

Postingan ini juga bukan keluhan ya. Tepatnya mencurahkan isi hati, anggap saja blog ini diari online malam ini. Aku mulai sering merasa tidak tenang belakangan ini. Mungkin iya jadi lebih terbuka, bercerita apa adanya, bahkan terlalu jujur bagiku untuk kita yang sama-sama ingin bersama tapi tak bisa berbuat apa. Yah, tapi inilah kita. Kita bisa bercerita begitu banyak hal ketika bersama dan itu belum bisa digantikan oleh siapapun. Kembali ke perasaan tidak tenang, rasanya memang tidak membayangkan akan ditinggalkan dua bulas bulan atau enam bulan (katamu) walaupun aku bukan siapa-siapamu lagi. Tapi (bukan keluhan), ada sesuatu yang mengganjal.

Waktu bersama terasa semakin sedikit, waktu untuk mengganggumu saja rasanya sudah tidak ada. Dan memang sebaiknya tidak mengganggumu, kecuali kamu menggangguku untuk sekedar makan es krim goreng di tengah-tengah sawah itu lagi aku tak pernah akan menolak. Bukan hanya karna es krim gorengnya, tapi karena waktu bersamanya. Tak tau hingga kapan kita bisa seperti ini. Ada perasaan yang berkata ikhlaskan. Toh kamu mengejar impianmu, dan aku sudah tentu sangat bahagia ketika semua impianmu terukir nyata. Tapi (bukan keluhan), berlebihan ya ketika aku khawatir akan hari yang tersisa atau tentang kamu yang akan pergi dalam waktu yang tidak sebentar?

Entah aku yang terlalu khawatir atau terlambat menyadari semuanya. Ketika ku rasa semuanya akan berlalu, saat itu sungguh ku rasa arti keberadaanmu.

Mama & Pertambahan Usia

"Pasti dah sibuk pratikum sama kuliah, sampe ngucapin selamet ke mamanya aja gak ada lho," ucap ibu cantik yang berusia 42 tahun pada anak pertamanya yang tak kalah cantik Selasa, 8 Oktober 2013 kemarin.

itu ucapan mama yang pertama kali muncul waktu liat anaknya dateng dari bukit. sukses memberi kejutan dengan tidak mengabari mama seharian, cukup membuat terharu ketika mendengar ucapan itu. hahaha. ampun mak :p

Oke, pos ini sebenernya hanya untuk kesenangan pribadi penulis. Berhubung blog udah lama tidak disinggahi dan di malam yang indah ini, dengan kecepatan modem baru dan foto-foto cantik yang menghiasi hp tak tahan ingin digoda. Yasudah, langsung saja ~


Semua berawal dari siang hari, selepas perkuliahan berakhir. Langsung saja berangkat menuju Denpasar dari Bukit Jimbaran. Eits, mampir dulu di Kantin AF deh. Isi perut biar motornya gak jalannya sendiri ntar. Lalalala ~ perjalanan lancar, aman, dan tidak mengantuk. Sampai di Denpasar langsung berburu kado dan tetek bengeknya.. Dan sampai akhirnya di TKP. Dibukakan pintu oleh si gembul yang selalu buat kangen. Hingga akhirnya kami bergurau penuh tawa. Muncullah dialog ini :

aku : Mang, gak kasi mama kado?
gita : Nanti mang gita mau petik bunga, terus iketin pake pita ya kak ani
aku : Oke deh. Isiin tulisan buat mama yok, kak ani yang kasi tau mang gita yang nulis yaaa
gita : *gebur tas nyari kertas dan pulpen*
aku : *ketawa devil*

Gita sedang merangkai kata

Ekspresi bahagia selesai merangkai surat cinta untuk mama

Tujuan semua ini hanya ingin membuat dia semakin lancar membaca dan menulis. Dan sungguh hasilnya diluar dugaan.. anak ini memang cerdas.. *ketjup*

Taraaaaaaaa.. ini hasilnya sodara-sodara

By :  Ni Komang Gita Maheswari Pratiwi
Yup. Akhirnya sekitar jam 7 malam mama tiba di rumah. Dengan wajah gembira langsung saja diserah terimakan segala jenis tetek bengek ini. Hasilnya kami (aku, fina, gita) saling tersenyum dan tertawa.

Kado, bunga, kue (rainbow cup dan sus buah) dari ku, surat cinta dan bunga jepun dari gita, dan gelas cantik dari fina
Kebahagian kami pun berlanjut dengan sesi foto-foto sebelum melahap kue yang sudah menggoda kedua adikku ini -_-

mama & gita

Tampak ceria ekspresi Gita menyuapi mamanya

Ini edisi "megarang" (rebutan) kue dengan pelaku Gita, Fina dan Mama

Yaa, itulah serangkaian singkat upacara pertambahan usia ibunda kami. Hm, sederhana. Tapi berhasil membuat kami berkumpul dan saling bertukar senyuman.

SELAMAT ULANG TAHUN, MAMA ^^

Tidak ada wanita secantik dan sehebat kau mama. Semakin bertambah usia, semoga kami selalu bisa membuatmu bahagia. Walaupun dengan hal-hal sederhana, ku yakini kau sangat berharga.

Jurnalistik itu (harusnya) Menjanjikan

"Banyak orang mengatakan kerja atau menekuni bidang jurnalistik itu tidak menjanjikan. Apa yang menjadi motivasi Bapak hingga saat ini masih setia dengan jurnalistik,?" tanya salah seorang peserta Akademika National Talkshow dengan tema Ini Kisahku, Jurnalis Indonesia (16/09) di Ruang Teater Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Tersenyum. Itu yang tampak dari kedua pembicara talkshow yaitu Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda (Putu Setia) dan Andreas Harsono ketika ditimpali pertanyaan seperti itu. Peserta talkshow lainnya pun tampak antusias menanti jawaban apa yang akan terpapar dari kedua wartawan senior ini.

Menggeluti dunia jurnalistik memang hal yang menyenangkan. Ibaratnya melalui media jurnalistik kamu bisa menguasai isi dunia. Bisa dikuasai untuk kepentingan masyarakat luas dan tidak menutup kemungkinan dikuasai oleh oknum-oknum tertentu guna memenuhi hasrat pribadi mereka. Hal ini pula yang menjadikan susahnya menjadi jurnalis yang independent. "Jarang sekali ada wartawan yang bebas merdeka meliput berita di papua nugini, peristiwa berbau konflik atas nama agama, dan peristiwa sengketa tanah," ungkap Andreas Harsono.Tak jarang wartawan mendapatkan teror dan kecaman keras dari pihak-pihak yang tidak terima dibongkar aibnya oleh seorang pengungkap kebenaran ini. Bahkan, berita kekerasaan fisik hingga kematian yang diterima oleh seorang wartawan kerap kali menghiasi wajah media televisi.

Tak heran jika pada talkshow ini, peserta menanyakan hal menarik di atas. Hal menarik yang menjadi motivasi wartawan senior ini tetap bertahan di dunia kejam jurnalistik. "Bidang Jurnalistik atau pekerjaan menjadi wartawan sangat baik jika kita berada pada pihak media yang memiliki sistem kerja yang menjanjikan," tutur Mpu Jaya Prema. Menurut pandita yang sesekali melemparkan lawakan ini, banyak media yang hingga saat ini mampu mengolah hasil liputan atau riset mereka tanpa perlu dibuatkan berita yang mengolok-olok masyarakatnya sendiri. Tak hanya itu, "Saat ini jadilah wartawan atau reporter yang handal karena menguasai media atau multi media," imbuh Andreas.

Ini dia point jawaban yang sesungguhnya harus mulai dicermati mulai detik ini oleh para penggiat pers atau jurnalistik, menjadi seorang jurnalis pada masa sekarang  sudah menjadi kewajiban untuk dapat menguasai teknologi yang ada. "Memiliki twitter, mampu menggunakan slide, memiliki blog, mengupdate info peristiwa melalui media sosial, dan masih banyak lagi," tutur Andreas Harsono. Jangan hanya menulis saja, tapi gunakan sebanyak-banyaknya media yang ada untuk berbagi informasi. Karena pers harus dapat meminimalisir disinformasi ditengah tsunami informasi seperti saat ini.

Bikini Bottom Ceria

" Who lives in a pinapple under the sea? Spongebob Squarepants! "


Ini bikini bottom versi kami. Penuh suka ria dalam mengais kerang, menata kerang, hingga menghancurkan kerang. *eh

Rekan sejawat sedang mengais kerang :p

Sepintas memang terlihat sederhana. Biasa saja. Tapi ini berhasil mengukir senyuman diantara kami. Sama seperti keluarga bikini bottom lainnya, yang selalu ramai, akur, dan indah.

Bikini bottom dengan beraneka kerang
Ditengah penatnya masalah orang dewasa, mengajak seseorang tertawa dengan hal-hal konyol seperti ini setidaknya sejenak bisa mengalihkan bebannya. Yup, sekali lagi aku berhasil membuktikan bahwa bahagia itu sederhana. 

KAMIS KE – 300


Kisah singkat Perjuangan Keadilan dalam Bingkai Sinema

Judul Film                    : Kamis ke-300
Ide Cerita                    : Happy Salma
Penulis Naskah            : Putu Wijaya
Sutradara                     : Happy Salma
Produksi                      : Titi Mangsa Foundation 2013
Pemain                        
: Amoroso Katamsi,Aji Santosa,Sita Nursanti,Nugie Durasi                          : 13 menit

“Aparicion con Vida, Aparicion con Vida, lepaskan mereka hidup-hidup..” seruan kakek dengan bahasa Argentina kepada cucunya diawal cuplikan film pendek ini.

            Film ini mengisahkan tentang seorang ibu dan keluarganya yang menuntut dikembalikannya keluarga mereka yang hilang begitu saja kepada pemerintah. Setiap kamis, di depan istana negara sekelompok orang berdiri dengan baju hitam-hitam dan paying hitam yang bertuliskan kasus-kasus pelanggaran HAM yang hingga detik ini belum tuntus di negeri ini.
            Melalui sepenggal kisah tersebutlah, perpaudaan antara kisah fiksi dan film dokumenter melahirkan film pendek ini. sebuah keluarga yang kehilangan salah satu anggota keluarganya. Hilang dalam sebuah sebuah peristiwa dan tetap selalu dinanti kedatangannya. Sang kakek yang diperankan oleh Amoroso Katamsi merupakan sosok utama dalam film ini yang ditangah ketidakmampuan fisiknya, tetap bersemangat dan pantang menyerah menanti serta menuntut kedatangan anaknya kembali. Melalui cucunya, Markus yang diperankan oleh Aji Santoso, kakek menaruh harapan-harapannya. Setting utama film ini adalah di rumah kakek, dengan semua elemen visual yang mencerminkan kehidupan sehari-hai kakek dan keluarganya.
            Kisah ini dikemas apik dengan pemilihan sinematografi warna hitam-putih yang membuat film ini menyatu dengan beberapa cuplikan film documenter yang memang sengaja disisipkan dibeberapa adegan dengan menggunakan teknik editing kuleshov (menggabungkan satu dengan gambar lain dengan tujuan menghasilkan pemahaman serta dampak emosi tertentu). Seperti saat kakek yang terlihat resah digabungkan dengan shot film dokumenter ketika anaknya disergap oleh tentara militer. Tentunya teknik ini dapat membuat emosi penonton ikut terpancing dalam menyaksikan film yang disutradarai kedua kalinya oleh Happy Salama setelah film pertamanya Rectoverso.
            Masih banyak adegan perngharapan, perjuangan, dan semangat yang tak henti jua ditampilkan dalam film ini. Semakin terasa komplit dengan bumbu-bumbu penayangan kasus sadis pelanggaran HAM di negeri yang terkenal dengan budaya ramah tamahnya ini. Menarik memang namun, dibalik itu semua durasi film yang terlalu cepat berakhir dengan adegan akhir yang menggantung menjadikan penonton bertanya-tanya bagaimana kisah selanjutnya. Tapi, hal tersebut tertutupi dengan keinginan film ini yang sangat terlihat ingin memanggil jutaan hati penontonnya agar terus tergerak memperjuangkan bersama keadilan sosial yang merata bagi seluruh masyarakat Indonesia. Aparicion con Vida ! (cah)






 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com