Pages

15 yang Kedua


Tidak banyak kata. Sederhana. Selamat tanggal 15 yang kedua. Terima kasih telah (selalu) berupaya menghadirkan senyum dan tawa hingga hari ini *hug

Mengintip Kisah Unik “Bekal Makanan” di Balik Sebuah Kesuksesan

 Saya tidak malu membawa bekal makanan sendiri dari rumah, karena dengan itu saya bisa menghemat waktu dengan menggunakan waktu makan siang untuk bekerja dan tentunya lebih irit bukan? Simple, Life is choise,” tutur wanita berambut sebahu ini sembari tersenyum.

Ellies Sutrisna (image from google)
          Ellies Sutrisna. Ya, siapa kiranya yang tak kenal dengan wanita yang satu ini. Ellies –sapaannya- adalah seorang book writer, entrepreneur, speaker sekaligus trainer handal yang terkenal dengan the best bussines coach. Pencapaiannya saat ini tidaklah serta-merta didapatkannya, berbagai upaya dilakukan oleh perempuan yang pada bulan April ini genap berusia 50 tahun untuk mencapai kesuksesan hingga saat ini. “Kehidupan saya dulu sangat sederhana, makan pun susah hanya 1 telur untuk makan dan itupun harus dibagi menjadi 7 bagian  untuk keluarga saya lainnya dan kami hanya makan daging saat ada kelurga atau tetangga yang berulang tahun,”ungkap Ellies yang selalu memotivasi dirinya agar anak-anaknya tidak mengalami kehidupan yang sulit seperti dirinya terdahulu.
            Hal inilah yang mendesak perempuaan lulusan terbaik di University of Wollongong New South Wales ini untuk menciptakan kehidupan yang layak dan nyaman. Berbagai pekerjaan dilakoninya untuk dapat bertahan hidup dan meneruskan kuliahnya di negeri kangguru tersebut. “Setiap malam saya kerja di restoran dari hari Senin-Jumat dan kerja di toko ikan pada hari Sabtu dan Minggu dari pukul 4 sore-6 sore,”kenang ibu yang saat kecil juga memiliki hobi menyanyi dan menari ini.
            Hingga pada tahun 1989 Ellies memulai karirnya di Indonesia. Hampir setiap tahun ia meraih penghargaan “Top Achiever“ dari perusahaannya. Tak hanya itu, wanita yang telah memutuskan pensiun pada tahun 2005 ini juga sempat menjadi direktur termuda dari beberapa anak perusahaan Teknologi Informasi Public terbesar di Indonesia karena karirnya yang melesat begitu cepat. Ada satu rahasia unik sejak dulu dari Ellies yang hingga saat ini masih terus dilakukannya. Saya tidak malu membawa bekal makanan sendiri dari rumah, karena dengan itu saya bisa menghemat waktu dengan menggunakan waktu makan siang untuk bekerja dan tentunya lebih irit bukan? Simple, Life is choise,” tutur wanita berambut sebahu ini sembari tersenyum. Ya, Ellies tidak pernah malu walaupun sering dihina oleh teman di kantornya terdahulu, karena baginya sejak dahulu ia terbiasa tidak memiliki uang dan kesuksesan itu ada karena pilihan diri sendiri.
            Tak henti sampai di sana, di tengah perkembangan jaman yang segala sesuatunya menjadi sangat mudah dijangkau namun seharusnya tak menjadikan seseorang terlena akan perkembangan teknologi yang ada melahirkan idealisme Ellies untuk membangun sebuah tayangan yang mampu menginspirasi, memotivasi, memberikan ide dan peluang baru, serta mengedukasi melalui tv streaming di www.tvexelent.com.Saya ingin terus mendalami tentang leadership yang benar dan berbagi kepada masyarakat,” ungkap perempuan yang juga  menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) perusahaan PMA & Joint Venture ini. Ellies selalu berupaya membagikan ilmu dan pengalamannya melalui banyak media seperti buku, majalah, online, dan yang sedang giat-giatnya dibesarkan adalah tv streamingnya. “Mulailah menjadi anak muda yang terbaik dimata orang tua lalu menjadi mahasiswa terbaik, dan ketika anda bekerja jadilah karyawan atau pengusaha terbaik. Selalu pastikan saat ada pekerjaan maka lakukan yang terbaik. Work smart, work hard, and be the best,” tutup Ellies yang telah menerbitkan banyak buku mengenai pengembangan diri dan bisnis  seperti “12 Jurus Jitu Meroketkan Bisnis” dan “Achieving Financial Independence”. (cah)





Emoni & SO7 - Konser yang Pas Sesuai Porsinya

Dua hari yang lalu, tepat tanggal 30 Januari bersama dengan rekan sepermainan dan juga pacar (uhuk) kami menikmati liburan pertama kami. Liburan pertama ini terlewati dengan menonton konser. Konser ini bukan konser biasa lho, ini konser yang buat kami (terutama aku) jadi luar biasa salah tingkah. Bagaimana tidak, dalam satu panggung yang cukup megah kami disodorkan dua band yang satunya adalah band legendaris dan satu lagi band yang akan legendaris. Ya, tanpa basa-basi. Kami menonton Sheila On Seven dan Emoni. Syalalalala ~

Sebenarnya ini bukan konser biasa, bukan hanya karena dua band yang buat salah tingkah itu saja tapi karena ini memang bukan sebuah konser. Lho?  Ini adalah sebuah perayaan ulang tahun dari salah satu SMA di Denpasar yang pada malam puncaknya mengundang dua band tersebut. Jadi sepanjang tulisan ini, sepakat ya menyebut acara ini sebuah konser. Hahaha. Mulanya, aku tidak bisa menahan diri ketika adikku (Fina) yang memperlihatkanku sebuah foto pamflet di twitter yang berisikan tentang kegiatan ini. Tanpa pikir panjang, dan memang tidak ada waktu untuk berpikir panjang (melihat foto itu 2 hari sebelum acara) langsung terjun membeli tiket ke tkp. Tiketnya terbilang murah (apapun demi SO7 & Emoni), 50ribu saja dan kami sudah bisa menatap puas semua personil tampan di atas panggung. Syalalalala ~

Acara ini banyak mengundang band indie dan juga diisi oleh berbagai kegiatan kreatif lainnya. Seperti pementasan teater yang lumayan mengocok perut. Tiba saatnya hujan, hujan, hujan, hujan dan hujan. Dan Emoni tampil, yuhuuuu.. Mungkin ada yang belum tahu Emoni itu apa, Emoni ini adalah band avant-garde asal Bali (nyontek isitilah di majalah) yang bila dibahasa manusiakan Emoni adalah sebuah band dengan warna musik tradisional Bali sebagai basic musiknya, dan semua personil berasal dan berakar dari seni musik tradisional Bali. Mereka tidak hanya tampan, multitalent, tapi juga punya kharisma tersendiri yang membuat penontonnya (terutama aku) terkesima. Syalalalala ~ 

"Ketut Garing, nyeneng di Mengwi, Raos cara Kuta, Tindak cara Tabanan, Tayungane cara Den Bukit," Emoni - Ketut Garing

Delapan personil Emoni penuh semangat menghibur penontonnya

Emoni tampil tak lebih dari 30 menit, ya walaupun kurang puas tapi cukuplah ya sebagai awal menonton konser. Dan hujan, hujan, hujan, hujan, hujan. Dan tiba saatnya Sheila On Seven muncul dihadapan kami. Posisi kami sangat strategis kali ini, tepat di muka panggung. Antusiasnya keliatan dong ya? *eh

"Genggam tanganku saat tubuhku terasa linu, Kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu, kita lawan bersama, dingin dan panas dunia, saat kaki tlah lemah kita saling menopang," 

Kami berjingkrak, bergembira, tertawa, bernyanyi bersama di bawah hujan yang sesekali mengguyur kami hingga benar-benar membuat kami basah kuyup. Tapi ini benar-benar tak menjadikan kami berhenti untuk bernyanyi, terlebih lagi face to face dengan Duta membuat kami (terutama aku) semakin salah tingkah. 
Duta - dengan segala tingkah polanya di atas panggung yang tak henti-hentinya membuatku ingin lompat pagar dan naik ke atas panggung (frontal)
Oh no men, 18 tahun sudah band lagendaris ini ada dan aku benar-benar menyukai lagu dan style mereka di atas panggung. Entah mengapa, aku merasa bersyukur bisa menyukai dua band ini "semaniak" ini. Emoni adalah band yang menginspirasiku untuk bisa melestarikan budaya Bali dengan ikut menyanyikan bahkan menyeret teman-temanku untuk suka dengan "gending rare" dari album pertama mereka yang tentunya dengan style yang tidak kuno. Sedangkan, Sheila On Seven adalah band yang liriknya selalu sederhana dan cukup mewakili isi hati. 
Semuanya pas sesuai porsinya. 
  Kurasa tidak berlebihan menjerumuskan teman-temanku bersuka ria malam itu, hingga dini   hari kami bersama menghabiskan waktu dengan segala pesona yang ada.

Rekan Sepermainan - Eling, Dewi, Cokti, Gek In, akuuuu (wajah ini terbidik oleh pacar saat acara sudah selesai dan kami semua tengah basah kuyup) xD

"Hingga nanti di suatu pagi salah satu dari kita mati, sampai jumpa di kehidupan yang lain," Sheila On Seven - Saat Aku Lanjut Usia

Sosok Baru, Suasana Baru

"Hari ini sudah tanggal 16. Berarti, sudah sebulan lebih sehari melewatkan hari demi hari dengan sosok yang baru. Sosok baru yang juga menghadirkan suasana baru,"

Gumamku ketika ku tinggalkan slide dan kertas-kertas berserakan di meja belajar dan di kasur. Aku belum terlalu mengantuk, tapi sudah cukup lelah. Ku putuskan untuk beralih sejenak ke sosial media. Apalagi kalau bukan facebook. Teringat akan ceritamu tadi saat menjumpaiku. Cerita tentangnya yang selalu tak ada habisnya membuatku tertawa. Gadis itu memang tak ada habisnya memperjuangkanmu ya ? hahaha.

Ya, sepertinya kita masih harus sama-sama beradaptasi. Atau sederhananya kita masih perlu sama-sama saling mengerti. Mengerti tentang ini duniaku, dan itu duniamu. Aku selalu senang ketika kamu berbagi cerita tentang kesibukan akan kepanitiaanmu yang tak ada hentinya, tugas kampusmu yang selalu mendadak itu, kenangan dahulu bersama wanitamu atau cerita konyol akan fans-fansmu itu. Sekali lagi, aku masih tertawa dan tersenyum menulis ini.

Perlahan aku mulai mengenalmu, walaupun aku masih sering sulit memahami sifatmu. Santai sajalah. Ku pikir masih ada banyak waktu untuk saling mengenal dan mengisi satu sama lainnya. Satu harapan diawal, tetaplah menjadi sosok yang mau mendengar segala cerita dan keluhanku, tetap memegang tanganku ketika lelah menghampiriku, tetap berikan senyum itu saat aku melihatmu, dan tentunya tetap disini. Disini dihidupku. Disini dihari-hariku. Berbagi kisah bersamaku. 

Reportase Jurnalistik Fenomena Bali dalam Sebuah Bali Benteng Terbuka

Judul               : Bali Benteng Terbuka 1995-2005 : Otonomi Daerah, Demokrasi Elektoral, dan Identitas-Identitas Defensif              
Penulis             : Henk Schulte Nordholt
Pengantar        : AA GN Ari Dwipayana
Penerjemah      : Arif B. Prasetyo
Penerbit           : Pustaka Larasan
Tahun              : Cetakan pertama Juni 2010
Halaman          : xxx-120


“Mereka takut pembangunan fisik yang tidak terkontrol serta pesatnya perluasan sektor pariwisata dapat menyebabkan kerusakan lingkungan besar-besaran,” keluh wakil pakar berbagai sektor seperti pariwisata, ekonomi, pertanian, dan lain-lain dalam bab pertama yang berjudul Mencari Kestabilan dalam buku ini.

            Bali Benteng Terbuka 1995-2005. Begitulah judul buku dengan cover berlatar klasik berupa pintu ukiran bali lengkap dengan kunci gembok sebuah minuman produksi luar negeri yang juga menggantungkan huruf I dari kata Bali. Buku yang ditulis oleh Henk Schulte Nordholt ini merupakan rangkuman kajian kontemporer terhadap Bali sejak tahun 1995-2005. Fokus penulisan pada buku ini lebih condong ke arah politik. Sajian politik yang diulas dengan apik dalam buku ini memberikan pandangan kepada pembaca mengenai bagaimana caranya melihat aktivitas politik, yang sesungguhnya politik bukanlah milik rakyat. Politik hanya milik orang konglomerat dengan segala pencitraannya dan ambisi berkuasa. Terlebih saat ini, politik tidak jauh berbeda dengan gaya hidup atau life style. Sayang sekali dalam kenyataan ini, rakyat dilibatkan padahal rakyat sendiri sebenarnya tidak tahu-menahu dengan kegiatan politik.

            Tak hanya hal politik, buku ini juga tidak beranjak dari persoalan klasik Bali. Bali yang dilukiskan sebagai cagar budaya dengan segala dilematika nasional hingga internasional. Bali yang dicirikan oleh Henk Schulte Nordholt sebagai benteng terbuka, yang menerima pengaruh luar seraya berjuang melindungi dirinya ini mengupas bagaimana reformasi di Indonesia telah mempengaruhi hubungan kasta dan merombak hubungan kekuasaan di tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga di desa. Peran geng-geng kriminal, hingga fenomena munculnya ajeg Bali juga disoroti dengan kritis oleh penulis yang merupakan seorang Guru Besar Sejarah Asia Tenggara di Universitas Erasmus Rotterdam yang juga menuliskan disertasi tentang sejarah sistem politik di Bali dan telah diterbitkan oleh KITLV Press tahun 1996 dengan judul The Spell of power; A history of Balinese Politics 1650–1940 ini.

            Buku yang dibagi menjadi delapan bab ulasan permasalahan ini mengajak pembaca untuk melihat lebih dalam lagi mengenai Bali sebagai benteng terbuka. Bali memang membutuhkan dunia luar baik dari segi wisatawan, modal, dan tenaga kerja murah, akan tetapi disadari atau tidak rakyat pulau Bali juga merasa terancam oleh kekuatan luar seperti investor besar, dekadensi Barat, dan Islam. Namun sayang, pada buku ini ulasan-ulasan pada tiap babnya terasa sebagai ulasan realitas pulau Bali yang sudah ”biasa” dan kurang bermakna. Penulis menyajikan peristiwa-peristiwa yang menjadi laporan utama atau laporan khusus dari berbagai media yang sengaja disiapkan redaksi dalam rangka memperingati kejadian disajikan dalam buku ini sehingga menyerupai reportase jurnalistik. Tidak ada kajian yang mendalam atau penggunaan teori mutakhir dalam mengkaji permasalahan yang diulas dalam buku ini. Sehingga, buku ini lebih sebagai suatu penjelasan tentang apa yang terjadi di Bali pada kurun waktu tersebut.

            Hanya saja pada bab mengenai fenomena Ajeg Bali, Prof. Henk. menyoroti dengan kritis yang terlihat dari analisis yang tidak hanya berdasarkan informasi media surat kabar, majalah, atau opini masyarakat, tetapi Prof. Henk memverifikasi informasi yang didapatnya dengan pihak penggagas ajeg Bali, yaitu Satria Narada. Memang ada asa dengan gerakan ajeg Bali tersebut, namun menurut penulis buku ini, untuk memproteksi diri secara berlebihan melalui ajage bali ini akan berdampak kurang baik bagi Bali yang berada di wilayah NKRI. Buku yang telah diterbitkan dengan versi bahasa Indonesia ini sangat relevan dan tentunya mempermudahkan pembaca dari segala lapisan untuk mengetahui bagaimana konstruksi peta dan dinamika politik lokal di Bali khususnya sejak tahun 1995-2005. Tak hanya itu, buku ini juga mengulas efek-efek desentralisasi dan demokratisasi terhadap perpolitikan Bali, meninjau peran yang dimainkan cendekiawan urban dalam memperkuat identitas Bali, serta tawaran Schulte Nordholt tentang pertimbangan janji yang ditawarkan demokrasi local. (cah)

Musker Pers Akademika 2013 : Baru dan Seru !

"iyaa.. LPJ diterima.," riuh sorak sorai, tepuk tangan, dan senyum lebar pun memecah dinginnya suasana malam ini. Ah, sudah pagi untuk dikatakan malam. Dini hari ini.

Sekiranya itu suasana yang paling ditunggu-tunggu sejak tadi oleh beberapa orang peserta Musyawarah Kerja (Musker) Akademika 2013 ini. Peserta tidak terlalu banyak, hanya sekitar 15 orang, dan inipun sudah mengalami Quorum 2x15 menit. Huh, kesal juga menanti datangnya kawan-kawan lainnya. Sudah ngaret diawal, bahkan untuk Pra Sidang (pertengahan sidang/awal sidang pleno) lagi-lagi harus menunggu. Syukur masih ada rekan yang bisa diajak bersenda gurau.

Yap, ini dia agenda rutin Pers Akademika Universitas Udayana. Musyawarah Kerja atau lebih akrab dikenal musker ini merupakan agenda menggulingkan KU/PU sebelumnnya atau bahasa sopannya agenda laporan kegiatan yang telah dilakukan sekaligus mengevaluasi dan merencanakan kegiatan Pers berikutnya. Kegiatan ini berlangsung tiga hari dua malam di Hotel Dewi Karya. Hari ini, 15 Oktober 2013 merupakan hari pertama kegiatan ini berlangsung. Sejak pukul 20.00 WITA kegiatan ini berlangsung di Lantai II Aula Hotel Dewi Karya, kegiatan yang harusnya sudah mulai sejak pukul 17.30 WITA ini ya terpaksa dingaretkan dengan beberapa alasan penting. (ngaret =budaya).

Dalam kegiatan ini, kebetulan aku menjadi panitia sie acara yang tidak tahu menahu mengenai acara -_-"
kegiatan ini memang mepet, baru saja selesai mengadakan Bali Journalist Week lalu Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa, langsung ditabrak dengan kegiatan ini. Ikut rapat juga tidak pernah, yang ini karena disrempet dengan kuliah dan pratikum. Ya, lengkaplah sudah. Tapi tenang. Ini tdak menyurutkan niatku menjadi peserta dalam kegiatan Akademika yang satu ini.

Dan, tidak sia-sia. Sidang yang harusnya selesai pukul 22.30 WITA baru selesai pukul 00.00 WITA, jadi ceritanya sidang pleno 1 mengenai Laporan Pertanggungjawaban KU/PU yang dilaksanakan besok disepakati oleh seluruh peserta dimajukan hari ini. Ya, anak muda biasa belum dini hari, belum ada kata semangat hilang. Aku mengikuti kegiatan ini cukup serius, kebetulan sebagai notulen jadi memang harus serius dan fokus ya. Kegiatan yang baru dan seru. Itu kata kuncinya.

Semua organisasi pasti akan melaksanan hal seperti ini, tapi entah mengapa lagi-lagi selalu merasa senang dan bersyukur berkecimpung dengan dunia seperti ini. Terus berinovasi dengan tulisan, mengenal banyak sosok baru yang menginspirasi, melatih diri menahan ego dalam organisasi, hingga mengerti soal presidium, arti ketukan sidang, LPJ, sidang pleno, dan lain-lain ini membuatku berpikir di sepanjang perjalanan pulang untuk tidak menyesal sudah hampir setahun turut mengabdi dalam Pers Kampus ini. Dan terus mengabdi, hingga menjadi alumni. Menulis memang bukan sebagai profesi tetapku, tapi dengan menulis aku bisa mendapatkan pengalaman sekeren ini. Sumpah, asik gila deh pokoknya. *kesenengan sidang*



Pantai dan Mimpi (kurang) Indah

Suasana pantai memang selalu menenangkan. Gulungan ombak dan deburannnya seperti memanggilku untuk ikut bersamanya. Aku mendekatinya. Membiarkan air-air ini bercanda dengan tubuhku, dan aku pun tertawa. Tak mau kalah dengan ombak, mataharipun dengan sengaja mengalihkan pandanganku dengan terbenam sangat indah. Ah, sang surya memang tak mau kalah. Aku menepi dan melihat mereka berdua beradu. Tenang.

Ini yang sejak tadi hanya menontonku bermain-main, mulai ku tengok. Hai, tak tertarik ikut denganku? atau mungkin kau lebih senang hanya diam di sana. Tapi sayang, saat ini aku sedang tak tertarik hanya duduk manis bersamamu di sana. Ku ajak kau ikut bersamaku, menyusuri ombak itu. Sedikit ragu kau mengikuti, tapi aku senang ketika kita bisa tertawa bersama di tempat seindah ini denganmu.

Kita lupa waktu atau sengaja melupakan waktu? Biarkan sajalah. Aku terlalu penat dengan semuanya, dan kau juga tampak senang berada disini. Ya, setidaknya itu yang terlihat dari raut wajahmu. Aku telah mengeluhkan segalanya padamu, dan kau dengan ekspresi cerewetmu itu selalu ingin tahu dengan masa lalu itu. Terpaksa ku jawab dengan hati yang sedikit bergetar. Tapi entah mengapa, wajahmu itu. Menenangkan.

Apakah kamu sosok yang benar-benar sanggup menenangkanku? aku terlalu rindu dengan suasana lama itu. Mungkin bukan dengan sosok yang sama, dengan sosok yang galak dan cerewet sepertimu juga perlahan membuatku membuka mata. Dan kaupun selalu membuka hati untukku, untuk datang kapan saja kepadamu. Hai, lelaki berkaos merah! Jadilah seindah pantai ini, atau sehangat sang surya itu. Dengan caramu sendiri. Aku tak menuntut banyak darimu, genggam saja selalu tanganku seperti saat ini. Dan semua terasa menenangkan.

*bluk*

menenangkan sekali mimpiku. hingga terkapar jatuh dari kasur. yihaaa. selamat bermimpi seperti hal di atas, terlalu banyak lelaki yang membuat bermimpi terlalu indah. Ah, ini semua akibat tak jadi ke pantai dengan Dewi sore tadi. Komplikasi hati dan pantai membuatku terbuai mimpi ini. syalalala ~
satu kosong ni ye :p
 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com