"Saya punya telinga, lengkap bisa mendengar, tapi sayang kehilangan Sang Pendengar membuat saya seperti tuli. Saya punya mata, lengkap sepasang, tapi sungguh menyebalkan ketika Sang Indra tidak bisa lagi melihat mata saya bercerita, atau mungkin saja saya bermasalah dengan lensa. Saya punya mulut, bisa berteriak dan mengoceh setiap saat, tapi teramat malang saat Sang Lawan memilih diam dan tidak ingin berbicara, mungkin dalam waktu yang tak bisa ditentukan. saya punya tangan, sangat suka menulis ini itu, mencubit sembarang orang, tapi kini Sang Penerima telah beku, tangannya kaku. saya punya kaki, bisa berjalan dan berlari, tapi bisa bantu saya untuk pergi ? Ketika Sang Raja tak menyambut lagi. Dan yang terakhir, saya punya hati, rasanya masih bisa berfungsi, masih bisa merasakan cinta sejati, meskipun Sang Kunci beranjak pergi, perlahan dengan pasti tak mendengar lagi, atau sekedar menoleh melihat saya lagi, apalagi untuk mengajak berceloteh panjang lebar, segalanya telah kaku, cubitan tak mempan lagi. Hai raja, mana kuncinya? segala indra telah mati, percuma aku berkata lagi."
Hujan
Hujan. Begitu deras sore ini di depan rumahku. Aroma hujan memang selalu membuatku senang. Baunya khas dan tentunya menenangkan. Aku butuh hujan lebih banyak. Lebih banyak hujan sama halnya lebih banyak ketenangan. Hujan ini membuatku tak mendengar bisingnya suara itu. Hujan ini membuatku tertahan dan terdiam sejenak. "Hai hujan, aku kehabisan waktu untuk bisa bermain-main denganmu. Aku terlalu khawatir akan sakit jika aku harus mengejarmu. Hai hujan, lebih deraslah lagi. Hingga saat kau berhenti, aku berani untuk menatap pelangi,"
"Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah"
Dini hari ini, terlalu banyak isi otak yang ingin ditumpahkan. Tapi sebelum mengembalikan buku yang telah disewa berhari-hari, dan tidak juga kunjung dikembalikan oleh pembaca nakal ini. Jadi, ya karena saya terlalu jatuh cinta dengan isi novel ini dan juga waktu liburan saya telah habis. Otomatis esok hari saya harus mengembalikan buku ini ke rental buku itu. Biarkanlah pembaca ini mengutip dan membagi beberapa kata indah dari 507 halaman isi novel "Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah"
Kata Pujangga, "Hidup untuk bekerja. Kalau kau pemalas, duduklah di depan gerbang kampung menjadi peminta-minta." (p 20)
Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu menjadi buram padahal dunia sedang terang benderang (p 132)
Sembilan dari sepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri, dibesar-besarkan sendiri. Nyatanya seperti apa ? Boleh jadi tidak. (p 133)
Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong. (p 173) Cinta adalah komitmen tidak terbatas, untuk saling mendukung, untuk selalu ada, baik senang maupun duka (p 221)
Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. (p 194)
Terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar menunggu rencana terbaik datang. Sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan (p 210)
Ah, Cinta selalu misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri. (p 288)
Bukan masalah harganya, tapi coba bayangkan, berapa hari gadis itu mencari tahu tentang buku ini, berusaha memilih buku tentang mesin paling baik yang tidak pernah seorang pecinta mesin baca. Maka dari itu, jika dia memberikan hadiah sebuah buku pada seorang laki-laki, terlebih buku kesukaan atau hobi laki-laki itu, maka laki-laki itu amat panting bagi gadis itu. Bukan sekedar teman. (p 333) "Berikanlah hadiah buku kepada seorang yang amat kau hargai," (p 500)
Jika kau tiba-tiba memaksa bertanya saat gadismu sedang gundah, frustasi, marah, dan kau meminta penjelasan sekarang juga, kau hanya akan membuat gelas retak menjadi pecah. Berantakan. Biarkan gadis kau itu sendirian dulu, berpikir, menenangkan diri. (p 400)
Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi dipamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu (p 428)
Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan. (p 429)
Boleh jadi ketika seorang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi kau masih memiliki separuh hati yang tersisa bukan ? Maka jangan ikut kau merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang berharga (p 479)
Lengkapnya, silahkan membaca novel karangan Darwis Tere Liye ini. Bukan untuk promosi, hanya berbagi terutama sekedar menyenangkan hati karena terlalu jatuh hati dengan isi novel ini. Semoga saja mas penjaga rental jatuh hati kepada pembaca ini, dan lupa saya telat mengambalikan buku indah ini. Hahaha.
Rumah
Rumah. Aku merindukan itu. Aku merindukan sesuatu yang telah membuatku merasa tidak mengenal rumah ini. Aku merindukan suasana ceria rumah ini. Aku merindukan rumah yang selalu mampu menjadi tempat untukku berbagi, bersiap menerima keluhan hingga canda riangku. Apa rumahku telah usang? Apa rumah ini harus segera ku tinggalkan? Tapi aku masih merindukan kau, meski banyak rumah indah dengan rumput hijau atau warna-warni bunga di tamannya, kau tetap masih punya ruang tersendiri disana. Kau Rumahku.
Rumah. Aku menginginkan itu. Aku menginginkan sesuatu yang dapat membuatku tetap selalu merasa kau rumahku. Aku hilang kendali, hilang arah. Bahkan terkadang lupa tapi tetap kembali atau mungkin selalu ada hal yang membuatku terketuk dan ingat lagi akan rumahku. Rumah yang selalu aku butuhkan. Banyak rumah yang dengan ramah membuat atau mungkin mengajakku berkunjung tapi sekali lagi aku hanya pulang ke rumah itu. Kau Rumahku.
Rumah. Beban duka ini, beban duka yang kita tanggung ini terasa meremukkan, membutuhkan kebutuhan yang tak terbendung untuk menyelamatkan kita berdua. Aku tahu kita kacau. Aku implusif, bertempramen buruk, dan kau memikatku dengan cara yang tak pernah dilakukan orang lain. Di suatu saat kau bersikap seakan membenciku, dan di saat berikutnya kau seakan tampak membutuhkanku. Aku tak pernah melakukan apa pun dengan benar dan aku tidak layak mendapatkanmu.. tapi aku sangat mencintaimu Rumahku.
Rumah. Kau perlu ingat, perempuan selalu membenarkan tindakan mereka dengan pemikiran apa pun yang mereka ciptakan di kepala mereka. Termasuk saat ini, saat dimana aku begitu merindukan sandaraan akan dinding Rumahku, saat dimana aku begitu menginginkan pulang kembali ke Rumahku meski bagitu banyak orang telah mengeluh-eluhkan Rumahku yang baru yang katanya lebih indah, tapi sekali lagi. Maafkan aku, aku terlalu nyaman bahkan terlalu mencintai Rumahku. Sekalipun aku tahu, Rumahku telah usang yang perlahan termakan oleh waktu.
Mengintip Kisah Unik “Bekal Makanan” di Balik Sebuah Kesuksesan
“Saya
tidak
malu membawa bekal makanan sendiri dari rumah, karena dengan itu saya bisa
menghemat waktu dengan menggunakan waktu makan siang untuk bekerja dan tentunya
lebih irit bukan? Simple, Life is choise,” tutur wanita berambut sebahu ini
sembari tersenyum.
| Ellies Sutrisna (image from google) |
Hal inilah yang mendesak perempuaan
lulusan terbaik di University of
Wollongong New South Wales ini untuk menciptakan kehidupan yang layak dan nyaman. Berbagai pekerjaan
dilakoninya untuk dapat bertahan hidup dan meneruskan kuliahnya di negeri
kangguru tersebut. “Setiap malam saya kerja di restoran
dari hari Senin-Jumat dan kerja di toko
ikan pada hari Sabtu dan Minggu dari pukul 4 sore-6 sore,”kenang ibu yang saat kecil juga memiliki hobi
menyanyi dan menari ini.
Hingga pada tahun 1989 Ellies
memulai karirnya di Indonesia. Hampir
setiap tahun ia meraih penghargaan “Top Achiever“ dari perusahaannya. Tak hanya itu, wanita yang telah
memutuskan pensiun pada tahun 2005 ini juga sempat menjadi direktur termuda dari beberapa anak perusahaan Teknologi Informasi Public
terbesar di Indonesia karena
karirnya yang melesat begitu cepat. Ada satu rahasia unik sejak dulu
dari Ellies yang hingga saat ini masih terus dilakukannya. “Saya tidak malu membawa bekal makanan sendiri dari rumah,
karena dengan itu saya bisa menghemat waktu dengan menggunakan waktu
makan siang untuk bekerja dan tentunya
lebih irit bukan? Simple, Life is choise,” tutur wanita berambut sebahu ini
sembari tersenyum. Ya, Ellies tidak pernah malu walaupun sering dihina oleh
teman di kantornya terdahulu, karena baginya sejak dahulu ia terbiasa tidak
memiliki uang dan kesuksesan itu ada karena pilihan diri sendiri.
Tak
henti sampai di sana, di tengah
perkembangan jaman yang segala sesuatunya menjadi
sangat mudah dijangkau namun seharusnya tak menjadikan
seseorang terlena akan perkembangan teknologi yang ada
melahirkan idealisme Ellies untuk membangun
sebuah tayangan yang mampu menginspirasi,
memotivasi, memberikan ide dan peluang baru, serta mengedukasi melalui tv
streaming di www.tvexelent.com.
“Saya ingin terus mendalami tentang leadership yang
benar dan berbagi kepada masyarakat,” ungkap perempuan yang juga menjabat
sebagai Chief Executive Officer (CEO) perusahaan PMA & Joint Venture ini. Ellies selalu berupaya
membagikan ilmu dan pengalamannya melalui banyak media seperti buku, majalah,
online, dan yang sedang giat-giatnya dibesarkan adalah tv streamingnya. “Mulailah
menjadi anak muda yang
terbaik dimata orang tua lalu menjadi
mahasiswa terbaik, dan ketika
anda bekerja jadilah karyawan atau pengusaha
terbaik. Selalu pastikan saat
ada pekerjaan maka lakukan yang terbaik. Work
smart, work hard, and be
the best,” tutup Ellies yang telah menerbitkan banyak buku
mengenai pengembangan diri dan bisnis
seperti “12 Jurus Jitu Meroketkan Bisnis” dan “Achieving Financial
Independence”. (cah)
Langganan:
Postingan (Atom)
About Me
- Unknown
Popular Posts
-
Dua hari lalu , ketika sore berganti malam seperti saat ini aku masih bersama teman-teman panitia di Gedung AS. Ada yang tampak sangat sib...
-
"(Terlalu) Mudah datang dan pergi.. Kamu," Sering sekali mendengar yang lain berkata, jangan ada kata terlalu diantara...
-
" P agi .. jangan pergi kutakut malam nanti kumasih sendiri dan pagimu tak lagi indah.." Pagi - Dialog Dini Hari Aku semp...
-
Kisah singkat Perjuangan Keadilan dalam Bingkai Sinema Judul Film : Kamis ke-300 Ide Cerita ...
-
Aku sedang membiasakan diri untuk tidak bergantung terlalu banyak pada siapapun. Awalnya, ketika aku tidak bisa mengerjakan soal Farmasi F...
-
kau perlu tahu cara membahagiakan orang lain jika kau ingin merebut hati orang tersebut. Ku rasa ini tidak rumit, tapi jika kau hanya mem...
-
Sabtu, 28 maret 2015 Beberapa jam sebelum pesawat terbang membawamu ke Jepang. …………………………………………………. Untuk kamu, Terima...
-
aku menulis ini penuh dengan emosi. aku mengenalmu bukan kemarin atau beberapa jam yang lalu. aku mengenalmu sudah seperti aku mengenal ay...
-
“Apa kamu gak takut kehilangan cinta yang baik? Haha..” Sekiranya begitulah BBM yang ku terima dari kelanjutan percakapan minta tolong...
-
Perjalanan waktu membawanya menjadi sosok yang tangguh. Segala jenis rintangan pasti dihadapinya demi membahagiakan orang-orang yang telah...
Labels
- about me (4)
- akademika (3)
- aktifitas (7)
- aku (25)
- bali (3)
- Band (1)
- bangga (1)
- Beach (2)
- BEM (1)
- bicara (1)
- camp (1)
- cerita (15)
- dewasa (4)
- dulu (2)
- dunia (2)
- Emoni (1)
- farmaset (1)
- farmasi (3)
- fiksi (1)
- film (1)
- galau (4)
- hebat (4)
- hujan (1)
- hukum (1)
- iklan (1)
- indah (8)
- inspirasi (9)
- jalan (2)
- jalan-jalan (1)
- janji (4)
- June (1)
- Juni (2)
- jurnalistik (3)
- kagum (3)
- kangen (2)
- keluarga (2)
- kemauan (2)
- kenangan (12)
- Konser (1)
- kopi (1)
- mahasiswa (3)
- mama (1)
- mandiri (1)
- memori (12)
- mipa (1)
- moment (9)
- Novel (1)
- pantai (7)
- pantai kuta (1)
- papa one man superhero (1)
- pelangi (2)
- pers (5)
- pertemuan (4)
- profil (1)
- random (3)
- resensi (2)
- resolusi (1)
- rindu (8)
- rumah (2)
- sarjana (1)
- science (1)
- sekarang (9)
- Selatan (1)
- semangat (7)
- senyum (5)
- Sheila On Seven (1)
- SO7 (1)
- softskill (1)
- tekad (1)
- teman (5)
- Tere Liye (1)
- udayana (1)
Followers
Diberdayakan oleh Blogger.
Blogger news
Category
- about me (4)
- akademika (3)
- aktifitas (7)
- aku (25)
- bali (3)
- Band (1)
- bangga (1)
- Beach (2)
- BEM (1)
- bicara (1)
- camp (1)
- cerita (15)
- dewasa (4)
- dulu (2)
- dunia (2)
- Emoni (1)
- farmaset (1)
- farmasi (3)
- fiksi (1)
- film (1)
- galau (4)
- hebat (4)
- hujan (1)
- hukum (1)
- iklan (1)
- indah (8)
- inspirasi (9)
- jalan (2)
- jalan-jalan (1)
- janji (4)
- June (1)
- Juni (2)
- jurnalistik (3)
- kagum (3)
- kangen (2)
- keluarga (2)
- kemauan (2)
- kenangan (12)
- Konser (1)
- kopi (1)
- mahasiswa (3)
- mama (1)
- mandiri (1)
- memori (12)
- mipa (1)
- moment (9)
- Novel (1)
- pantai (7)
- pantai kuta (1)
- papa one man superhero (1)
- pelangi (2)
- pers (5)
- pertemuan (4)
- profil (1)
- random (3)
- resensi (2)
- resolusi (1)
- rindu (8)
- rumah (2)
- sarjana (1)
- science (1)
- sekarang (9)
- Selatan (1)
- semangat (7)
- senyum (5)
- Sheila On Seven (1)
- SO7 (1)
- softskill (1)
- tekad (1)
- teman (5)
- Tere Liye (1)
- udayana (1)
Category
- about me (4)
- akademika (3)
- aktifitas (7)
- aku (25)
- bali (3)
- Band (1)
- bangga (1)
- Beach (2)
- BEM (1)
- bicara (1)
- camp (1)
- cerita (15)
- dewasa (4)
- dulu (2)
- dunia (2)
- Emoni (1)
- farmaset (1)
- farmasi (3)
- fiksi (1)
- film (1)
- galau (4)
- hebat (4)
- hujan (1)
- hukum (1)
- iklan (1)
- indah (8)
- inspirasi (9)
- jalan (2)
- jalan-jalan (1)
- janji (4)
- June (1)
- Juni (2)
- jurnalistik (3)
- kagum (3)
- kangen (2)
- keluarga (2)
- kemauan (2)
- kenangan (12)
- Konser (1)
- kopi (1)
- mahasiswa (3)
- mama (1)
- mandiri (1)
- memori (12)
- mipa (1)
- moment (9)
- Novel (1)
- pantai (7)
- pantai kuta (1)
- papa one man superhero (1)
- pelangi (2)
- pers (5)
- pertemuan (4)
- profil (1)
- random (3)
- resensi (2)
- resolusi (1)
- rindu (8)
- rumah (2)
- sarjana (1)
- science (1)
- sekarang (9)
- Selatan (1)
- semangat (7)
- senyum (5)
- Sheila On Seven (1)
- SO7 (1)
- softskill (1)
- tekad (1)
- teman (5)
- Tere Liye (1)
- udayana (1)
