Pages

June and Beach !


Tegal Wangi Beach

Hi dunia, Hi Juni, Hi yang lagi iseng gak ada kerjaan nengok blog yang gak pernah update ini. Gak kerasa ya tahun ini udah berjalan setengahnya, ini sudah bulan keenam lho pemirsa. Jadi ceritanya, karena kurang kerjaan, iseng buka file foto di laptop. Entah kenapa, album BEACH berisi foto narsis terbanyak. Selain karena memang suka pantai dan bangga menjadi anak pantai, banyak sekali foto bahagia yang membuat good mood di malam awal bulan Juni ini. Nih, aku tunjukin beberapa foto menarik. Lumayan kan buat jadi refrensi jalan-jalan men kalian saat libur semester nanti. Kalo lagi musim ujian gini, foto-foto ini dicetak dulu aja. Tempel deket meja belajar, dijamin jadi ngebet ke pantai eh jadi ngebet belajar biar ujian lancar dan ngebolang ke pantai jadi terasa lebih cepat *ngelesss. Oke, cekidot ~

PANDAWA BEACH 

Pantai Pandawa ini terletak Bali Selatan, tepatnya di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Dahulu pantai ini dikenal sebagai Secret Beach karena lokasinya yang berada di belakang tebing-tebing tinggi ditumbuhi oleh semak belukar.

Tebing seperti ini berada membelah disepanjang jalan menuju pantai. Model di atas adalah kakak sepupu saya namanya Dian. Cantikan tebing atau modelnya ayo ? :))
Nama Pandawa dari pantai ini berasal dari Panca Pandawa, yang sangat apik terlihat di pinggir pantai seperti patung Yudistira, Bima, Nakula, Sadewa, dan Arjuna. 
Ini saya dengan salah satu patung Panca Pandawa
Waktu itu, saya dan Dian pergi ke pantai ini masih cukup pagi sekitar pukul 07.00. Pantai ini masih sangat sepi, jadi kami merasa seperti pantai ini milik kami berdua. Kami asyik berkeliling, berfoto, bermain pasir, loncat tebing sana-sini, hingga akhirnya kami lelah dan tetap berfoto hingga ribuan foto. Sungguh narsis kakak beradik ini ~

Saya, Jukung, dan Senyuman bahagia
Entah dikejar siapa, tapi foto ini sungguh tanpa rekayasa
Lihat tebingnya jangan lihat modelnya, indahnyaaa
Akhirnyaaaa ada orang selain kami di pantai ini, so cheerssssss
*maksa minta di fotoin berdua*
Matahari sudah begitu terik, dengan berat hati kami terpaksa meninggalkan tempat ini. Sungguh menyenangkan, walaupun kami hanya berdua di pantai ini. Tapi kenangannya membekas indah. haha *lebay



Terakhir, Ini pemandangan dari atas pantai. Gimana, Oke kan?
 JIMBARAN BEACH

Yuhuu, ini pantai berikutnya. Lokasinya di Kedonganan, Bali Selatan. Awalnya saya mengenal pantai ini dari seseorang teman *uhuk yang ingin menunjukkan sesuatu kepada saya. Sungguh indah, lukisan wajah dan pemandangan indah. Lukisan wajah -saya- yang tidak saya ambil sebenernya diberikan untuk saya, tapi ya gimana ya, tidak ingin membuat orang GR jadi lebih baik tidak diambil walaupun sebenarnya saya sangat suka dengan lukisan itu *oke abaikan* Bagaiamana soal pemandangan indah ? Ini dia !

Saya ke pantai ini (lagi) dengan teman sepantaian (sebutan untuk anak penggila pantai) yaitu Dewi. Yap, anak ini sudah sama gilanya dengan saya. Pantai adalah surga buat kami. Jadi ketika saya berkata, "wik, pantai yuk bosen nih abis pulang praktikum !" Dewik berkata "YUK !" dan berangkatlah kami ~


Dewik sedang berpose
Ini karang cantik dan cewek yang nebeng cantik

Pantai Jimbaran
Dua kali ke pantai ini, sebenarnya terbilang pantai yang menenangkan. Namun kondisinya yang selalu ramai dengan wisatawan menjadikan pantai ini tampak seperti Pantai Sanur, atau pantai yang sudah biasa dikunjungi oleh masyarakat Bali Selatan.

Hotel disekeliling pantai Jimbaran 
Pecalang pengaman sekeliling keadaan hotel 

TEGAL WANGI BEACH

Byurrrrrrrr.. byurrrrr.. byurrrrrr.. Ingatan badai ombak terbayang ketika membuka album foto dari pantai ini. Yes, ini dia. Pantai yang ditemukan dengan menuju bekas hotel Ritz Carlton ke arah Pura Tegalwangi. Tepat di depan Pura Tegalwangi kita akan melihat pantai dari atas bukit. Ini asli keren men ! 

Saya pergi ke pantai ini selepas kuliah, tepat setelah penat praktikum bersama geng Farmasi Terjang Pantai *nama geng ini fiktif belaka. Jadi rame, yeyeyeye. Eh gak cuman anak farmasi sih, ada juga Ratna, Agus, dan Purwa (sebut saja mereka penyusup). hahaha =P


Dipilih-dipilih, dijual terpisah *eh

Ini adalah pantai yang sungguh luar biasa dahsyar ombaknya. Entah karena cuaca atau apa, yang pasti kami sudah terserat ke kanan ke kiri oleh ombak di pantai ini. Asyik dan Bahaya. Itu dua kata yang membuat kami berteriak bahagia dan mengundang kami untuk waspada ketika salah satu dari kami yang terseret cukup jauh. Oke, syukurnya kami dilindungi oleh Tuhan dan dua orang ini. 

Agus dan Purwa
Tim Sar yang sangat kompak menyelamatkan kami dari amukan ombak :))
Entah bagaimana, saya merasa ini benar-benar anugrah, Ketika kami ramai-ramai ke pantai, ternyata pantainya sungguh WOW. Beruntung sekali ada dua orang ini yang bertaruh jiwa dan harta. Ini serius men, mereka luka-luka karena terbentur tebing, belum lagi flashdisk hilang dan hp rusak total. Kurang ekstrim apalagi coba ?



INI GAMBARAN OMBAKNYA ! COBA PERHATIKAN DAN BAYANGKAN 
*SERU KAN? *EH *BAHAYA INI !!!

hahaha, ini adalah pengalaman ke pantai paling ekstrim yang pernah saya alami. Benar-benar basah, benar-benar totalitas menjadi anak pantai. Tapi ini tidak menghalangi kami untuk tetap mencuri-curi waktu untuk mengabadikan moment. Dengan tetap memperhatikan ombak disekitar kami =P
Saya dan Ratna cantik :))
Awas OMBAKKKKK
model ceritanya 
Ini kami, ini pantai, ini ombak, dan ini kebahagian kami.
Saling menggenggam, berpegangan.
Ini cerita bagi kami, cerita bahagia keesokan hari.

GREEN BOWL BEACH

Pantai ini masih terletak di kawasan Jimbaran, berdekatan dengan Pantai Pandawa. Pantai ini tersembunyi di balik tebing, membuat pantai ini selalu terjaga dan bebas polusi. Sangat sepi tidak seperti kebanyakan pantai lainnya di Bali. Untuk mencapai pantai ini, pengunjung harus berjuang untuk menuruni ratusan anak tangga yang curam. Saya sempat iseng menghitung, sekitar 317 anak tangga. Keren kan? *ngelap keringet


Keringat menuruni anak tangga, terbayar dengan indahnya ini.
Gimana dong ya ? *terharu
Pantai ini sepi, kalian mau jungkir balik, salto, atau joged oplosan juga tidak akan ada yang tahu. Sungguh menyenangkan =))




Kami menghabiskan waktu dengan menyusuri sepanjang pantai, memperhatikan beberapa turis yang sedang bermain bola, dan pada akhirnya kami berpose. Jangan salahkan kami narsis ya, ini hanya bagian dari mengabadikan momen yang akan sangat menyenangkan ketika suntuk seperti saat ini melihat moment-moment seperti ini. 




Dalam foto ini ada Dewik, Gek In, Dwi, Coktik, dan Saya :)
dan Moment ter-asyik dari pantai ini adalah ini. ini dia. silahkan perhatikan wajah di bawah ini. Saya yang berusaha keras menyemangati teman saya ini untuk berjuang pulang. Naik 317 ANAK TANGGA. SELAMAT GEMPOR :))

no caption JUST FIGHTING ! HAHAHA

KARMA KANDARA BEACH

Ini pantai yang pilih kasih dan buat iri. Tapi, gak kalah keren dengan pantai lainnya. Mau tahu kenapa pilih kasih dan buat iri ? Karena pantai yang terletak di Unggasan ini memiliki dua jalur untuk sampai di pantai setelah memarkir kendaraan. Ada jalur bayar dan jalur gratisan. Oke, mungkin belum bisa dikatakan membuat iri. 

Jalur bayar ini ditempuh dengan menuruni jalan menuju pantai menggunakan lift yang harus dibayar per orangnya 250.000. Oke, mulai kebakaran jenggot. Tapi sesungguhnya jika berduit, jalur ini juga menyenangkan dan sebanding dengan kocek yang harus dikeluarkan. Perhatikan deh gambar di bawah ini 


Inclinator (lift) sedang turun menuju Karma Kandara Beach
yang berada di bawah tebing.


Dan, karena kami masih mahasiswa yang belum bisa menghasilkan duit sebanyak itu sendiri. Kami memilih jalur nomer dua. Yuhuu.. apapun kami lakukan demi pantai. *ngeles
Pertama kami melewati ini dulu

Lorong sempit menuju Pantai Karma Kandara

Lalu, lagi-lagi harus menuruni ini. Walaupun jumlahnya tidak sebanyak di green bowl lho ya. Aman deh !


Anak tangga menuju Pantai Karma Kandara


Dan setelah bersusah payah, mau tahu hasilnya. taraaaaaaaa ^^

Karma Kandara Beach
Sungguh bening air pantai disini, sungguh membuat takjub, dan tak henti-hentinya saya berlari kesana kemari walaupun angin sangat kencang dan langit mendung. Kami tetap berbahagia berada disini walaupun pulang dari pantai kami harus naik tangga lagi dengan diguyur hujan. Swingggggg ~

Gek in, Eling, Dewik, dan Saya :))

Bukti angin begitu kencang, dan tetep maksa fotoan biar keliatan semua.
Oke, ini kegilaan kami *perhatikan rambut*
Dan kami terpaksa pulang, karena mendung ini telah berubah menjadi hujan. Sampai Jumpa Karma Kandara :))

Yaps, jadi baru sekian pantai di Bali Selatan yang telah mengukir banyak cerita antara saya dan mereka. Hai Juni, mari selesaikan segera bulan ini karena saya sudah tak sabar bergembira menyusuri pantai-pantai lainnya ~

Duniamu bukan Kemauanmu

Dulu aku tak pernah berpikir untuk masuk jurusan ini. Jurusan yang kata dosenku hanya orang yang siap cari-cari masalah saja yang mau dengan ikhlas berada di jurusan ini. Farmasi membuat duniaku sepintas terlihat sangat terbatas, isinya ya hanya laboratorium, praktikum, pretest, postest, laporan, jurnal, presentasi, nangis gak lulus pretest, kehabisan waktu belajar perhitungan, dan masih banyak hal terbatas lainnya yang sesungguhnya tidak terbatas tapi terbatas dalam dunia farmasi (ngawur). Tapi siapa sangka, ditengah kerumitan ini masih ada kok pasangan cinlok yang sempet-sempetnya bermesraan diantara ocehan dosen di depan kelas, atau mungkin pasangan yang asik makan bareng di kantin sambil tetep diskusiin pretest sebelum mereka terpisah oleh praktikum (aciee.. *banting laptop). Oke, kembali fokus ke awal. Dulu aku yang bermimpi menjadi seorang dokter, karena tidak berhasil lulus dalam segala jenis tes kedokteran, dan dengan hati yang lapang sekarang aku belajar menjadi seorang peracik obat yang sesungguhnya tidak kalah berat tugasnya dari seorang dokter (bangga).

Sudah ada bayangan ? Belum ya ?

Jadi, ini dia :

Kamu harus Mulai Mengerti Kalau Dunia Ini Nggak Berjalan Atas  Kemauanmu.


coba baca berulang-ulang, dan pikirkan apakah hari ini kamu sudah menerapkan itu ? 

Aku sangat yakin harus menerapkan kata-kata itu dalam segala aspek kehidupan. Seperti ceritaku diawal tadi, mungkin dulu diawal perkuliahan aku merasa harapan-harapanlu kandas tapi satu hal penting yaitu sampai saat ini aku tak putus asa dan melanjutkan kehidupan rumit eh indah di Farmasi. Atau ini juga, saat aku kelaparan dan bapakku bertanya "lagi cari apa ?", spontan aku kaget dan nyengir "cari sebongkah emas yang bisa mengisi perut," jawabku sambil mengais-ngais makanan di dapur. Selang beberapa menit tanpa perlu banyak bicara, bapak datang dengan dua piring mie goreng lengkap dengan telur (satu porsi lagi untuk adikku lho ya). Dan aku sangat bahagia ~
Saat seperti ini selalu membuatku merasa bersalah ketika suatu saat sebelumnya tanpa sengaja atau disengaja marah-marah kepada bapak dengan berbagai alasan. Hei nak, ayolah. Tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan, mengertilah bahwa dunia tidak berjalan sesuai dengan kemauanmu.

Hm.. bisa juga diterapkan disini sepertinya. Mungkin kamu suka seseorang yang nggak membalas dengan perasaan yang sama. Atau, kamu yang menunggu kabar (sms, telepon, bbm, etc) dari seseorang, hampir setiap menit melirik handphone tapi tidak sedikitpun handphone menunjukkan kabar bahagia itu, lantas kamu bisa apa ? Selain hanya terdiam ya mungkin kamu bisa berusaha lebih keras untuk membuatnya menyukaimu sehingga handphonemu akan selalu berdering bahagia tanpa perlu menunggu sekian lama kabar dari dia.

Aku tahu hidup nggak selalu berjalan sesuai mauku, dan aku berusaha menerima itu. Yakinlah, setelah kesulitan datang selalu ada kemudahan, yang belum tentu esoknya kesulitan tak datang lagi, kemudahan lagi, kesulitan lagi, dan kemudahan lagi. 


Ibaratnya, jika lampu belajarmu mati, kamu bisa pakai sinar dari handphonemu, jika sudah lowbat kamu bisa pakai cahaya lilin, jika itu juga sudah habis coba cari penerangan cahaya lainnya. Kamu kreatifkan? Dunia memang ngga bisa berjalan semaumu, tapi manusia punya banyak cara untuk membuat dunia seperti berada digenggaman tangannya ^^


Sebuah Cara untuk Sebuah Rasa

kau perlu tahu cara membahagiakan orang lain jika kau ingin merebut hati orang tersebut. Ku rasa ini tidak rumit, tapi jika kau hanya memikirkan bagaimana cara membahagiakannya ini sunggu lebih rumit dari rumus Fisika. Cukup dengan sebuah kata 'Hai, Selamat Pagi' ketika kau bertemu dengannya di tangga sekolah saja ku rasa itu sudah menciptakan rasa bahagia yang besar baginya untuk menjalani beratnya hari yang harus dilalui. Atau dengan 'Nih, susu (menunjuk pada tiga kotak susu dengan rasa yang berbeda-beda)' ku rasa ini lebih dari cukup untuk membuatnya tersenyum bahkan bila beruntung ia akan langsung memelukmu hangat.

Kau perlu tahu cara menyayangi orang lain dengan porsi yang tepat, tidak kurang dan tidak juga berlebihan. Ingatlah kata ibumu yang selalu mengingatkan kurang makan akan menyebabkan maagmu kumat, dan ingatlah kata teman se-kosmu terlalu banyak makan akan menyebabkan jodohmu tertunda untuk datang tapi lemakmu tak sungkan untuk menyayangimu (intermezzo). Cobalah menyayangi seseorang sesuai porsinya, entah sejak kapan aku menerapkan ini, yang ku tahu ini cukup membuatku tidak terlalu mengekang pasanganku atau tidak membuatku bergalau lama-lama karena masalah perasaan. Boleh galau, asal tetep lulus pretest praktikum (intermezzo lagi). Ketika Tuhan menitipkan rasa yang indah dengan seseorang yang membuat harimu bagai berpayung pelangi, ya cukuplah bertindak sederhana. Ketika ada masalah, duduklah berdua selesaikan dengan saling bercerita selayaknya sebagai teman ketika kamu pdkt dulu. Ketika saling merindu, berkomunikasilah. Sesuatu yang jauh akan terasa dekat dengan saling berbicara. Ketika harus berpisah, ikhlaskanlah. Kita hanya pelaku, yang mengatur jalan cerita kita ya Dia si pencipta payung pelangi. Jika berjodoh pasti ada jalan cerita lainnya yang sedang dipersiapkan. Cobalah melakukan sesuai porsinya, seperti burung yang tetap bisa terbang bebas dan sesekali kembali ke sarangnya menengok anak-anaknya sambil memberi makan dan tetap bisa terbang kembali ketika anaknya sudah dirasa kenyang.

Tidak ada yang salah dengan cara membahagiakan atau menyayangi orang lain yang berbeda-beda versi, sekarang hanya bagaimana usaha orang tersebut memberi dan menerimanya. Namun satu hal yang kusayangkan, terkadang kita lupa bagaimana hal-hal kecil mampu membuat seseorang tertawa lepas, mampu membuat orang lupa akan beban dipundaknya atau mampu membuat seseorang melupakan air matanya. 

"Rumah kosong, sudah lama ingin dihuni. Adakah teman bicara, siapa saja atau apa. Jendela, kursi, atau bunga di meja. Sunyi. Menyayat seperti belati." #Banda Neira - Rindu

REFRESH OR DELETE

Aku sedang membiasakan diri untuk tidak bergantung terlalu banyak pada siapapun. Awalnya, ketika aku tidak bisa mengerjakan soal Farmasi Fisika, pikiranku langsung tertuju pada nama itu. Ketika aku kelelahan harus bolak-balik Jimbaran-Denpasar untuk praktikum dan kuliah super pagi itu, hatiku menyebut nama itu lagi. Ketika aku melihat handphone disaat hariku begitu krodit dan ingin mengetik sebuah pesan singkat kepadamu, kali ini aku berupaya tegas pada diriku. Ah, rasanya itu semua tidak perlu. Yasudahlah. 

Aku mulai, sudah, dan ingin sekali terbiasa seperti ini. Terbiasa sendiri walaupun kata temanku "kamu naif, nanti juga dekat lagi," Terserah. Aku tak peduli, yang ku tahu. aku pasti bisa melakukan segalanya sendiri. 

Hai, malam ini aku begitu kacau. Sungguh segala sesuatu terlihat buruk dihadapanku. Aku sedang menata mood dan pikiranku dengan menulis ini. Menatanya mungkin harus sangat cepat, mengingat tumpukan kertas tugas, laporan praktikum, dan UTS besok memanggilku begitu manja. Ini sepertinya bukan hal baru, aku sudah amat terbiasa dengan sifat burukku ini, jangan pikir aku tak ingin mengubahnya ya. Berubah juga butuh waktu kan, sama seperti terbiasa untuk berjuang dan tidak merengek-rengek pada siapapun juga butuh waktu yang tidak instan seperti merebus mie goreng.

Tuhan seandainya ada satu hari untuk aku bisa meluapkan semua ini, andaikan ada satu hari aku bisa berjalan sendiri di antara ombak, andaikan ada satu hari aku bisa bermain ayunan sekencang-kencangnya sendiri, dan andaikan ada satu hari aku bisa duduk santai di atap kos menetap langit senja rasanya itu semua cukup untuk menyegarkan pikiran dan jiwa ini. Atau Tuhan jika itu semua kau pikir tidak perlu, kau rasa aku terlalu banyak meminta, atau terlalu cengeng, bantu aku menghapus semua yang mengganggu pikiranku. Itu mungkin lebih dari cukup. 

Oke, mari menunggu. Kau lemparkan penghapus atau penyegar ruangan ke arahku.

Tanpa Judul

"Aku jatuh cinta padamu diam-diam, karena aku tahu tak ada hari yang akan kita kenyam."Malam ini sepertinya hari terakhir aku menulis ini untukmu. Sangat berharap setelah ini aku bisa benar-benar mengikhlaskan kepergianmu. Seperti biasa, sejak aku memutuskan untuk berusaha tidak berkomunikasi denganmu walaupun pada akhirnya upaya tahu diriku gagal (lagi). Ini bukan kali pertama, sudah berkali-kali aku berupaya untuk menjauh, atau sekedar berusaha untuk tidak mengecek setiap detik handphoneku, atau berharap kamu mengabariku meski hanya sekedar kata 'Hai'. Tetap saja pada akhirnya aku gagal, aku kembali menghubungimu dan kamu tetap hangat menyambutku. Rasanya seperti dibawa terbang oleh bidadari dari khayangan. Sejak pertemuan terakhir kita, pertemuan yang mana ? pertemuan saat aku berupaya melngukir senyum terakhirmu itu. Setelah beberapa minggu kita tidak bertegur sapa, aku masih ingin meilhat rupa itu untuk terakhir kalinya. Aku senang masih sempat memberikan sesuatu untukmu, semoga itu bisa membuatmu senang seperti bagaimana senangnya aku ketika menyiapkan itu untukmu. Ku pikir hari itu hari terakhir kita berjumpa. Tuhan sungguh baik, masih saja dia membuatku bahagia. Menemani-mu berbelanja ini itu, menyiapkan segala kebutuhanmu disana sungguh membuatku merasa tak karuan. Disatu sisi aku merasa sangat senang, merasa menjadi orang yang kau sayang ketika masih sempat-sempatnya kau bercanda denganku, kau menarik-narikku seperti anak kecil, sekedar memegang tanganku seakan takut aku tersesat ditengah keramaian, atau sesekali mengelus-elus rambutku. Sudah lama aku tidak menghabiskan waktu seperti itu denganmu. Ditambah perasaan bahagia bisa jalan-jalan bersama ibu dan adikmu itu. Kapan lagi kita bisa seperti ini ?Selepas hari itu, selepas kepulanganku dari hari itu aku merasa seperti itu kebahagiaan terakhir yang paling indah yang sengaja Tuhan beri untukku. Tak ada lagi air mata, tak ada lagi kecemasan, tak ada lagi keraguan, tak ada lagi rasa sayang yang harus dipaksakan. Sepertinya itu semua yang diharapkan-Nya setelah dia memberikan segala keindahan itu berturut-turut kepadaku secara nyata tanpa perlu aku berhara hal ini terjadi padaku sebelumnya. Ya, dan ternyata memang semua seperti yang ku pikirkan. Aku berjalan sendiri, tepatnya aku selalu merasa sendiri walaupun aku bisa saja jungkir balik tertawa dan menjaili semua teman-temanku. Aku merasa memang saatnya sekarang aku fokus untuk menenangkan hatiku.Perjalanan ini masih panjang. Aku tidak tahu pastinya bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku. Aku tidak tahu apa besok kamu masih ada dimimpiku atau benar-benar telah jadi debu. Aku mencoba berjalan di jalanku, sesekali menengokmu, ya jika kupikir aku merindukanmu aku bersyukur masih punya kotak terindah. Kotak ingatan akan semua kenangan indah. Jangan paksa aku untuk melempar kotak ini ke pantai, atau menguburnya di bawah tanah, jika kau sudah siap pergi, lakukanlah. Aku sudah cukup bahagia dengan kotak yang ketika ku rindu dapat kubuka dimanapun, kapanpun aku berada.Senang rasanya bisa melihatmu bahagia, bertumbuh dewasa, begitu semangat mengejar cita-cita, begitu angkuhnya aku ketika ingin menghentikan itu semua hanya karena sebuah rasa. Pergilah, selamat menjalani hidup yang lebih indah. Tak ada lagi aku yang merengek-rengek ini itu kepadamu. Aku juga ingin sepertimu, yang begitu luar biasa dimataku. Suatu saat jika Tuhan masih berbaik hati pada kita, semoga masih disisakannya serpihan hati yang diciptakannya dulu untuk kita saling melempar canda tawa. Satu hal yang perlu kau inget, aku setia mendoakan yang terbaik bagimu. 


Percuma

"Saya punya telinga, lengkap bisa mendengar, tapi sayang kehilangan Sang Pendengar membuat saya seperti tuli. Saya punya mata, lengkap sepasang, tapi sungguh menyebalkan ketika Sang Indra tidak bisa lagi melihat mata saya bercerita, atau mungkin saja saya bermasalah dengan lensa. Saya punya mulut, bisa berteriak dan mengoceh setiap saat, tapi teramat malang saat Sang Lawan memilih diam dan tidak ingin berbicara, mungkin dalam waktu yang tak bisa ditentukan. saya punya tangan, sangat suka menulis ini itu, mencubit sembarang orang, tapi kini Sang Penerima telah beku, tangannya kaku. saya punya kaki, bisa berjalan dan berlari, tapi bisa bantu saya untuk pergi ? Ketika Sang Raja tak menyambut lagi. Dan yang terakhir, saya punya hati, rasanya masih bisa berfungsi, masih bisa merasakan cinta sejati, meskipun Sang Kunci beranjak pergi, perlahan dengan pasti tak mendengar lagi, atau sekedar menoleh melihat saya lagi, apalagi untuk mengajak berceloteh panjang lebar, segalanya telah kaku, cubitan tak mempan lagi. Hai raja, mana kuncinya? segala indra telah mati, percuma aku berkata lagi."

Hujan

Hujan. Begitu deras sore ini di depan rumahku. Aroma hujan memang selalu membuatku senang. Baunya khas dan tentunya menenangkan. Aku butuh hujan lebih banyak. Lebih banyak hujan sama halnya lebih banyak ketenangan. Hujan ini membuatku tak mendengar bisingnya suara itu. Hujan ini membuatku tertahan dan terdiam sejenak. "Hai hujan, aku kehabisan waktu untuk bisa bermain-main denganmu. Aku terlalu khawatir akan sakit jika aku harus mengejarmu. Hai hujan, lebih deraslah lagi. Hingga saat kau berhenti, aku berani untuk menatap pelangi," 
 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com