Pages

Duniamu bukan Kemauanmu

Dulu aku tak pernah berpikir untuk masuk jurusan ini. Jurusan yang kata dosenku hanya orang yang siap cari-cari masalah saja yang mau dengan ikhlas berada di jurusan ini. Farmasi membuat duniaku sepintas terlihat sangat terbatas, isinya ya hanya laboratorium, praktikum, pretest, postest, laporan, jurnal, presentasi, nangis gak lulus pretest, kehabisan waktu belajar perhitungan, dan masih banyak hal terbatas lainnya yang sesungguhnya tidak terbatas tapi terbatas dalam dunia farmasi (ngawur). Tapi siapa sangka, ditengah kerumitan ini masih ada kok pasangan cinlok yang sempet-sempetnya bermesraan diantara ocehan dosen di depan kelas, atau mungkin pasangan yang asik makan bareng di kantin sambil tetep diskusiin pretest sebelum mereka terpisah oleh praktikum (aciee.. *banting laptop). Oke, kembali fokus ke awal. Dulu aku yang bermimpi menjadi seorang dokter, karena tidak berhasil lulus dalam segala jenis tes kedokteran, dan dengan hati yang lapang sekarang aku belajar menjadi seorang peracik obat yang sesungguhnya tidak kalah berat tugasnya dari seorang dokter (bangga).

Sudah ada bayangan ? Belum ya ?

Jadi, ini dia :

Kamu harus Mulai Mengerti Kalau Dunia Ini Nggak Berjalan Atas  Kemauanmu.


coba baca berulang-ulang, dan pikirkan apakah hari ini kamu sudah menerapkan itu ? 

Aku sangat yakin harus menerapkan kata-kata itu dalam segala aspek kehidupan. Seperti ceritaku diawal tadi, mungkin dulu diawal perkuliahan aku merasa harapan-harapanlu kandas tapi satu hal penting yaitu sampai saat ini aku tak putus asa dan melanjutkan kehidupan rumit eh indah di Farmasi. Atau ini juga, saat aku kelaparan dan bapakku bertanya "lagi cari apa ?", spontan aku kaget dan nyengir "cari sebongkah emas yang bisa mengisi perut," jawabku sambil mengais-ngais makanan di dapur. Selang beberapa menit tanpa perlu banyak bicara, bapak datang dengan dua piring mie goreng lengkap dengan telur (satu porsi lagi untuk adikku lho ya). Dan aku sangat bahagia ~
Saat seperti ini selalu membuatku merasa bersalah ketika suatu saat sebelumnya tanpa sengaja atau disengaja marah-marah kepada bapak dengan berbagai alasan. Hei nak, ayolah. Tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan, mengertilah bahwa dunia tidak berjalan sesuai dengan kemauanmu.

Hm.. bisa juga diterapkan disini sepertinya. Mungkin kamu suka seseorang yang nggak membalas dengan perasaan yang sama. Atau, kamu yang menunggu kabar (sms, telepon, bbm, etc) dari seseorang, hampir setiap menit melirik handphone tapi tidak sedikitpun handphone menunjukkan kabar bahagia itu, lantas kamu bisa apa ? Selain hanya terdiam ya mungkin kamu bisa berusaha lebih keras untuk membuatnya menyukaimu sehingga handphonemu akan selalu berdering bahagia tanpa perlu menunggu sekian lama kabar dari dia.

Aku tahu hidup nggak selalu berjalan sesuai mauku, dan aku berusaha menerima itu. Yakinlah, setelah kesulitan datang selalu ada kemudahan, yang belum tentu esoknya kesulitan tak datang lagi, kemudahan lagi, kesulitan lagi, dan kemudahan lagi. 


Ibaratnya, jika lampu belajarmu mati, kamu bisa pakai sinar dari handphonemu, jika sudah lowbat kamu bisa pakai cahaya lilin, jika itu juga sudah habis coba cari penerangan cahaya lainnya. Kamu kreatifkan? Dunia memang ngga bisa berjalan semaumu, tapi manusia punya banyak cara untuk membuat dunia seperti berada digenggaman tangannya ^^


Sebuah Cara untuk Sebuah Rasa

kau perlu tahu cara membahagiakan orang lain jika kau ingin merebut hati orang tersebut. Ku rasa ini tidak rumit, tapi jika kau hanya memikirkan bagaimana cara membahagiakannya ini sunggu lebih rumit dari rumus Fisika. Cukup dengan sebuah kata 'Hai, Selamat Pagi' ketika kau bertemu dengannya di tangga sekolah saja ku rasa itu sudah menciptakan rasa bahagia yang besar baginya untuk menjalani beratnya hari yang harus dilalui. Atau dengan 'Nih, susu (menunjuk pada tiga kotak susu dengan rasa yang berbeda-beda)' ku rasa ini lebih dari cukup untuk membuatnya tersenyum bahkan bila beruntung ia akan langsung memelukmu hangat.

Kau perlu tahu cara menyayangi orang lain dengan porsi yang tepat, tidak kurang dan tidak juga berlebihan. Ingatlah kata ibumu yang selalu mengingatkan kurang makan akan menyebabkan maagmu kumat, dan ingatlah kata teman se-kosmu terlalu banyak makan akan menyebabkan jodohmu tertunda untuk datang tapi lemakmu tak sungkan untuk menyayangimu (intermezzo). Cobalah menyayangi seseorang sesuai porsinya, entah sejak kapan aku menerapkan ini, yang ku tahu ini cukup membuatku tidak terlalu mengekang pasanganku atau tidak membuatku bergalau lama-lama karena masalah perasaan. Boleh galau, asal tetep lulus pretest praktikum (intermezzo lagi). Ketika Tuhan menitipkan rasa yang indah dengan seseorang yang membuat harimu bagai berpayung pelangi, ya cukuplah bertindak sederhana. Ketika ada masalah, duduklah berdua selesaikan dengan saling bercerita selayaknya sebagai teman ketika kamu pdkt dulu. Ketika saling merindu, berkomunikasilah. Sesuatu yang jauh akan terasa dekat dengan saling berbicara. Ketika harus berpisah, ikhlaskanlah. Kita hanya pelaku, yang mengatur jalan cerita kita ya Dia si pencipta payung pelangi. Jika berjodoh pasti ada jalan cerita lainnya yang sedang dipersiapkan. Cobalah melakukan sesuai porsinya, seperti burung yang tetap bisa terbang bebas dan sesekali kembali ke sarangnya menengok anak-anaknya sambil memberi makan dan tetap bisa terbang kembali ketika anaknya sudah dirasa kenyang.

Tidak ada yang salah dengan cara membahagiakan atau menyayangi orang lain yang berbeda-beda versi, sekarang hanya bagaimana usaha orang tersebut memberi dan menerimanya. Namun satu hal yang kusayangkan, terkadang kita lupa bagaimana hal-hal kecil mampu membuat seseorang tertawa lepas, mampu membuat orang lupa akan beban dipundaknya atau mampu membuat seseorang melupakan air matanya. 

"Rumah kosong, sudah lama ingin dihuni. Adakah teman bicara, siapa saja atau apa. Jendela, kursi, atau bunga di meja. Sunyi. Menyayat seperti belati." #Banda Neira - Rindu

REFRESH OR DELETE

Aku sedang membiasakan diri untuk tidak bergantung terlalu banyak pada siapapun. Awalnya, ketika aku tidak bisa mengerjakan soal Farmasi Fisika, pikiranku langsung tertuju pada nama itu. Ketika aku kelelahan harus bolak-balik Jimbaran-Denpasar untuk praktikum dan kuliah super pagi itu, hatiku menyebut nama itu lagi. Ketika aku melihat handphone disaat hariku begitu krodit dan ingin mengetik sebuah pesan singkat kepadamu, kali ini aku berupaya tegas pada diriku. Ah, rasanya itu semua tidak perlu. Yasudahlah. 

Aku mulai, sudah, dan ingin sekali terbiasa seperti ini. Terbiasa sendiri walaupun kata temanku "kamu naif, nanti juga dekat lagi," Terserah. Aku tak peduli, yang ku tahu. aku pasti bisa melakukan segalanya sendiri. 

Hai, malam ini aku begitu kacau. Sungguh segala sesuatu terlihat buruk dihadapanku. Aku sedang menata mood dan pikiranku dengan menulis ini. Menatanya mungkin harus sangat cepat, mengingat tumpukan kertas tugas, laporan praktikum, dan UTS besok memanggilku begitu manja. Ini sepertinya bukan hal baru, aku sudah amat terbiasa dengan sifat burukku ini, jangan pikir aku tak ingin mengubahnya ya. Berubah juga butuh waktu kan, sama seperti terbiasa untuk berjuang dan tidak merengek-rengek pada siapapun juga butuh waktu yang tidak instan seperti merebus mie goreng.

Tuhan seandainya ada satu hari untuk aku bisa meluapkan semua ini, andaikan ada satu hari aku bisa berjalan sendiri di antara ombak, andaikan ada satu hari aku bisa bermain ayunan sekencang-kencangnya sendiri, dan andaikan ada satu hari aku bisa duduk santai di atap kos menetap langit senja rasanya itu semua cukup untuk menyegarkan pikiran dan jiwa ini. Atau Tuhan jika itu semua kau pikir tidak perlu, kau rasa aku terlalu banyak meminta, atau terlalu cengeng, bantu aku menghapus semua yang mengganggu pikiranku. Itu mungkin lebih dari cukup. 

Oke, mari menunggu. Kau lemparkan penghapus atau penyegar ruangan ke arahku.

Tanpa Judul

"Aku jatuh cinta padamu diam-diam, karena aku tahu tak ada hari yang akan kita kenyam."Malam ini sepertinya hari terakhir aku menulis ini untukmu. Sangat berharap setelah ini aku bisa benar-benar mengikhlaskan kepergianmu. Seperti biasa, sejak aku memutuskan untuk berusaha tidak berkomunikasi denganmu walaupun pada akhirnya upaya tahu diriku gagal (lagi). Ini bukan kali pertama, sudah berkali-kali aku berupaya untuk menjauh, atau sekedar berusaha untuk tidak mengecek setiap detik handphoneku, atau berharap kamu mengabariku meski hanya sekedar kata 'Hai'. Tetap saja pada akhirnya aku gagal, aku kembali menghubungimu dan kamu tetap hangat menyambutku. Rasanya seperti dibawa terbang oleh bidadari dari khayangan. Sejak pertemuan terakhir kita, pertemuan yang mana ? pertemuan saat aku berupaya melngukir senyum terakhirmu itu. Setelah beberapa minggu kita tidak bertegur sapa, aku masih ingin meilhat rupa itu untuk terakhir kalinya. Aku senang masih sempat memberikan sesuatu untukmu, semoga itu bisa membuatmu senang seperti bagaimana senangnya aku ketika menyiapkan itu untukmu. Ku pikir hari itu hari terakhir kita berjumpa. Tuhan sungguh baik, masih saja dia membuatku bahagia. Menemani-mu berbelanja ini itu, menyiapkan segala kebutuhanmu disana sungguh membuatku merasa tak karuan. Disatu sisi aku merasa sangat senang, merasa menjadi orang yang kau sayang ketika masih sempat-sempatnya kau bercanda denganku, kau menarik-narikku seperti anak kecil, sekedar memegang tanganku seakan takut aku tersesat ditengah keramaian, atau sesekali mengelus-elus rambutku. Sudah lama aku tidak menghabiskan waktu seperti itu denganmu. Ditambah perasaan bahagia bisa jalan-jalan bersama ibu dan adikmu itu. Kapan lagi kita bisa seperti ini ?Selepas hari itu, selepas kepulanganku dari hari itu aku merasa seperti itu kebahagiaan terakhir yang paling indah yang sengaja Tuhan beri untukku. Tak ada lagi air mata, tak ada lagi kecemasan, tak ada lagi keraguan, tak ada lagi rasa sayang yang harus dipaksakan. Sepertinya itu semua yang diharapkan-Nya setelah dia memberikan segala keindahan itu berturut-turut kepadaku secara nyata tanpa perlu aku berhara hal ini terjadi padaku sebelumnya. Ya, dan ternyata memang semua seperti yang ku pikirkan. Aku berjalan sendiri, tepatnya aku selalu merasa sendiri walaupun aku bisa saja jungkir balik tertawa dan menjaili semua teman-temanku. Aku merasa memang saatnya sekarang aku fokus untuk menenangkan hatiku.Perjalanan ini masih panjang. Aku tidak tahu pastinya bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku. Aku tidak tahu apa besok kamu masih ada dimimpiku atau benar-benar telah jadi debu. Aku mencoba berjalan di jalanku, sesekali menengokmu, ya jika kupikir aku merindukanmu aku bersyukur masih punya kotak terindah. Kotak ingatan akan semua kenangan indah. Jangan paksa aku untuk melempar kotak ini ke pantai, atau menguburnya di bawah tanah, jika kau sudah siap pergi, lakukanlah. Aku sudah cukup bahagia dengan kotak yang ketika ku rindu dapat kubuka dimanapun, kapanpun aku berada.Senang rasanya bisa melihatmu bahagia, bertumbuh dewasa, begitu semangat mengejar cita-cita, begitu angkuhnya aku ketika ingin menghentikan itu semua hanya karena sebuah rasa. Pergilah, selamat menjalani hidup yang lebih indah. Tak ada lagi aku yang merengek-rengek ini itu kepadamu. Aku juga ingin sepertimu, yang begitu luar biasa dimataku. Suatu saat jika Tuhan masih berbaik hati pada kita, semoga masih disisakannya serpihan hati yang diciptakannya dulu untuk kita saling melempar canda tawa. Satu hal yang perlu kau inget, aku setia mendoakan yang terbaik bagimu. 


Percuma

"Saya punya telinga, lengkap bisa mendengar, tapi sayang kehilangan Sang Pendengar membuat saya seperti tuli. Saya punya mata, lengkap sepasang, tapi sungguh menyebalkan ketika Sang Indra tidak bisa lagi melihat mata saya bercerita, atau mungkin saja saya bermasalah dengan lensa. Saya punya mulut, bisa berteriak dan mengoceh setiap saat, tapi teramat malang saat Sang Lawan memilih diam dan tidak ingin berbicara, mungkin dalam waktu yang tak bisa ditentukan. saya punya tangan, sangat suka menulis ini itu, mencubit sembarang orang, tapi kini Sang Penerima telah beku, tangannya kaku. saya punya kaki, bisa berjalan dan berlari, tapi bisa bantu saya untuk pergi ? Ketika Sang Raja tak menyambut lagi. Dan yang terakhir, saya punya hati, rasanya masih bisa berfungsi, masih bisa merasakan cinta sejati, meskipun Sang Kunci beranjak pergi, perlahan dengan pasti tak mendengar lagi, atau sekedar menoleh melihat saya lagi, apalagi untuk mengajak berceloteh panjang lebar, segalanya telah kaku, cubitan tak mempan lagi. Hai raja, mana kuncinya? segala indra telah mati, percuma aku berkata lagi."

Hujan

Hujan. Begitu deras sore ini di depan rumahku. Aroma hujan memang selalu membuatku senang. Baunya khas dan tentunya menenangkan. Aku butuh hujan lebih banyak. Lebih banyak hujan sama halnya lebih banyak ketenangan. Hujan ini membuatku tak mendengar bisingnya suara itu. Hujan ini membuatku tertahan dan terdiam sejenak. "Hai hujan, aku kehabisan waktu untuk bisa bermain-main denganmu. Aku terlalu khawatir akan sakit jika aku harus mengejarmu. Hai hujan, lebih deraslah lagi. Hingga saat kau berhenti, aku berani untuk menatap pelangi," 

"Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah"

Dini hari ini, terlalu banyak isi otak yang ingin ditumpahkan. Tapi sebelum mengembalikan buku yang telah disewa berhari-hari, dan tidak juga kunjung dikembalikan oleh pembaca nakal ini. Jadi, ya karena saya terlalu jatuh cinta dengan isi novel ini dan juga waktu liburan saya telah habis. Otomatis esok hari saya harus mengembalikan buku ini ke rental buku itu. Biarkanlah pembaca ini mengutip dan membagi beberapa kata indah dari 507 halaman isi novel "Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah" 


Kata Pujangga, "Hidup untuk bekerja. Kalau kau pemalas, duduklah di depan gerbang kampung menjadi peminta-minta." (p 20)

Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu menjadi buram padahal dunia sedang terang benderang (p 132)

Sembilan dari sepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri, dibesar-besarkan sendiri. Nyatanya seperti apa ? Boleh jadi tidak. (p 133)

Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong. (p 173) Cinta adalah komitmen tidak terbatas, untuk saling mendukung, untuk selalu ada, baik senang maupun duka (p 221)

Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan. (p 194)

Terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar menunggu rencana terbaik datang. Sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan (p 210)

Ah, Cinta selalu misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri. (p 288)

Bukan masalah harganya, tapi coba bayangkan, berapa hari gadis itu mencari tahu tentang buku ini, berusaha memilih buku tentang mesin paling baik yang tidak pernah seorang pecinta mesin baca. Maka dari itu, jika dia memberikan hadiah sebuah buku pada seorang laki-laki, terlebih buku kesukaan atau hobi laki-laki itu, maka laki-laki itu amat panting bagi gadis itu. Bukan sekedar teman. (p 333) "Berikanlah hadiah buku kepada seorang yang amat kau hargai," (p 500)

Jika kau tiba-tiba memaksa bertanya saat gadismu sedang gundah, frustasi, marah, dan kau meminta penjelasan sekarang juga, kau hanya akan membuat gelas retak menjadi pecah. Berantakan. Biarkan gadis kau itu sendirian dulu, berpikir, menenangkan diri. (p 400)

Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi dipamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu (p 428)

Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan. (p 429)

Boleh jadi ketika seorang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi kau masih memiliki separuh hati yang tersisa bukan ? Maka jangan ikut kau merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang berharga (p 479)



Lengkapnya, silahkan membaca novel karangan Darwis Tere Liye ini. Bukan untuk promosi, hanya berbagi terutama sekedar menyenangkan hati karena terlalu jatuh hati dengan isi novel ini. Semoga saja mas penjaga rental jatuh hati kepada pembaca ini, dan lupa saya telat mengambalikan buku indah ini. Hahaha.





 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com