Pages

Akhirnya, berpisah ?

Sabtu, 28 maret 2015
Beberapa jam sebelum pesawat terbang membawamu ke Jepang.
………………………………………………….







Untuk kamu,

Terima kasih tahun-tahun indah bersama atau tidak kamu selalu ada dengan berjuta kejutan di hidupku. Kamu yang ku kenal sejak awal masih di bangku putih abu, teman sepermainan, teman yang selalu ada setiap pelajaran fisika yang tak ku suka itu menggangguku, terima kasih kamu sempat menjadi musuhku, hingga aku tak tahu kamu masih ada atau tidak di sekolah yang sama saat masih sma dulu. Hingga aku menemukanmu saat pacarmu membawakanmu kue di kelas XII IPA 3 itu. Terlalu panjang pastinya jika aku harus menulis semua kisah kita, tapi sungguh terima kasih untuk semua pelajaran hidup yang kamu berikan. Aku tak lagi lupa kalau sebelum makan harus berdoa, aku tau bagaimana caranya menghadapi orang lain, aku tau bagaimana caranya berhenti tampil alay dengan status-status di media sosial, aku tau bagaimana susahnya hidup demi membahagiakan org lain. Aku tau semua itu dari kamu. Cinta pertamaku.

Aku tidak pernah membayangkan bagaimana kita bisa mengakhiri hubungan ini. Hubungan ang memang tak ada awal dan ujungnya. Kita sama-sama sadar tak bisa bersama, selama ini kita hanya bisa berdampingan tanpa bersama dan saling membahagiakan. Kamu dengan segala tingkah polamu, satu-satunya lelaki dengan pikiran dewasa dan sikap manja ketika bersamaku yang selalu ku doakan di setiap perjalananmu. Hingga hari ini tiba, hari yang sungguh mengejutkan untuk kita. Maafkan soal insiden mala mini, semoga caci maki ayahku tidak membuat kamu dan keluargamu kecewa.

Esok keberangkatanmu ke Jepang, aku tak tahu bagaimana jadinya nanti setelah semua bekerja sambil belajarmu disana selesai. Membayangkanmu berangkat saja rasanya sudah rumit, apalagi memikirkan beberapa tahun ke depan. Jadi, apa ini saat yang tepat untuk berpisah?

Hai, kamu yang selalu mengerti aku. Terima kasih, tanpamu mungkin aku tak bisa setegar ini. Kamu yang banyak membawaku mengerti hidup. Nasi bungkus yang kamu berikan saat aku ngambek dulu, sementara kamu menahan lapar karena duitmu pas-pasan dulu saat SMA. Ingat itu? Mulai sejak itu aku paham, membahagiakan yang disayang itu butuh pengorbanan.

Termasuk, perpisahan kali ini. 
Pengorbanan untuk ikhlas dan berbenah diri. Selamat mengejar cita-cita, suatu saat jika masih bisa berjumpa semoga kita dipertemukan dalam doa yang sama.
Jika masih bisa menengok aku, aku pastikan kamu melihatku berada di apotek sebagai apoteker cantik dengan bahasa inggris yang jago sepertimu, dan foto dengan latar Paris itu.. Tunggu, aku pasti bisa mewujudkan itu!
……………………………………………………………….

Untuk kalian yang tersayang,
Maaf aku merepotkan semua orang, maaf aku selalu mengeluh hal yang sama, aaf aku belum bisa murni move on hingga detik ini, maaf aku hanya menjadi beban untuk semuanya. Kalian yang melihat ini mungkin mengira aku sangat jahat dengan kekasihku, sangat jahat dengan kedua orang tuaku, atau begitu dramanya hidupku. Hai, perkenalkan. Aku gadis yang harus bisa melepas orang yang ku cintai dan sangat menyanyangiku, aku harus bisa melihat dia bahagia bersama gadis lainnya yang bisa di ajak pergi ke Gereja bersama setiap minggunya, aku yang sejak awal harus sadar kalau orang yang ku sayang ini bukan segalanya, katanya masih banyak yang sayang aku. Aku mencoba tumbuh dengan orang yang sayang padaku, aku mencoba bangkit dengan segera, tapi tolong jangan desak aku terus menerus untuk hanya mendengarkan kalian. Aku juga butuh waktu untuk berlari kencang melupakan masa lalu dan aku butuh kalian yang bisa menerima masa laluku. Beriringan dengan aku yang sangat enggan mengubur masa lalu bukan hal mudah, jangan kira aku tidak berusaha. Kalau kalian masih memaksa, mungkin kalian belum pernah jatuh cinta. Ditambah deh, terlanjur jatuh cinta dengan kekasih beda agama.


Aku tahu hidup selalu memaksa untuk menerima, sepahit apapun hidup, aku harus tetap bahagia, karena sekantong kenangan masih ada, untuk sesekali dikenang hingga manisnya tak terasa.




Ketiga

Untukmu yang selalu menemani,





Aku mungkin tak sebaik dia
atau mungkin aku tak sedewasa dia
bahkan, aku lebih sering mengajakmu bercanda
dan bertengkar dalam detik yang bersamaan

Aku mungkin tak secantik dia
atau mungkin aku tak sepintar dia
bahkan, aku begitu cerewet meminta ini itu padamu
dan kamu tetap selalu tersenyum padaku

Aku
dengan segala tingkah polaku
yang lebih sering mengabaikanmu
sepertinya kini tahu,
yang selalu menemani
sebenarnya hanya kamu

Kamu
dengan segala kesabaranmu
tetaplah begitu
selalu peluk aku
bahkan ketika aku tak menoleh padamu
pastikan kamu selalu menggenggam tanganku

Aku, kamu, dan cerita ketiga. Semoga masih bisa dilanjutkan.
Hingga tidak ada kita dalam kisah kita
^^

Terlalu Manis untuk Di-Buang

Selamat Pagi Sabtu pertama di Bulan Maret ^^


Melihat entri tulisan sebelumnya, sedih rasanya tidak ada satupun tulisan di bulan kasih sayang kemarin. Saking terbuainya sampai dilewatkan ya. Sungguh, menyedihkan *drama* T-T

Pagi ini, diawali dengan membersihkan rumah yang hingga tak terlalu bersih *masih ngantuk* dan niatnya sih buat jurnal awal praktikum, udah antusias buka sekian word jurnal kakak kelas sebelumnya buat dibaca, namun sungguh menyedihkan (kedua) terpaku sana sini baca blog yang lainnya. Oke, nanti deh buatnya *penundaan di pagi hari*

Mungkin telat jika menyapa bulan ini sekarang, bahkan terlalu basi mungkin buat orang lain mengingat kejadian sebulan kemarin. Tapi sayang, Februari 2015 terlalu manis untuk dibuang. Tahu kenapa ?

Pertama,
Aku tidak begitu menunggu bulan ini, tapi katanya sih bulan ini sungguh special. Terutama mungkin untuk pedagang bunga dan cokelat. Hm.. ini pertama kalinya aku mengungkapkan siapa pemilik nomer 15 yang selama ini setia disampingku. Entahlah, awalnya ku pikir ini akan menjadi sangat kontroversi bagi banyak pihak, Next, abaikan dan jalani saja ._.

Kedua,
Aku kehilangan yang seharusnya pertama. Ini membuat linglung bahkan hingga detik ini. Aku belum menemukan solusinya, Yang ku tahu, ini membuatku sulit berkata.

Ketiga,
Selasa akhir bulan Februari 2015 kemarin, Mama meneleponku. Biasanya kalau telpon dari orang tua pada jam kuliah, pasti ada yang gawat. Ini sudah mutlak sering terjadi. Saat itu, aku dan temanku Dwi serta Coktik sedang makan siang kesorean di Kantin AF. Telepon ku angkat, dan benar! Suara Mama berbeda. Katanya aku harus segera pulang, Kakek ku sudah tidak ada. Deng! Aku terhenti menguyah, dan segera balik ke kos bersama Dwi untuk segera mengambil jacket dan motor. Pikiranku saat itu, aku harus segera tiba di Denpasar entah bagaimanapun caranya. Bagaimanapun caranya ini sungguh berbahaya, berapa banyak hal buruk terjadi di jalan. Sebainya tidak ku ceritakan. Setibanya di rumah, aku bersiap untuk pulang ke kampung di Tabanan. Singkatnya sudah di kampung, dan memang benar. Aku yang dari kantin hingga perjalanan ke kampung masih belum percaya, kini benar-benar lemas berdiri menatap kakek ku yang tertidur untuk selamanya. Hei, aku memang pernah menangis ketika harus berpisah dengan orang yang ku sayangi, tapi kali ini sungguh berbeda. Ini kali pertamaku, berpisah untuk selamanya dengan orang yang begitu menyayangiku. Tidak ada lagi yang memarahiku ketika berlama-lama memegang piring di dapur, katanya "mau disuapin makan, biar cepet selesai makan?" kalau ingat-ingat ini, rasanya ingin berlama-lama makan lagi. Biar dimarahin lagi.


Aku dan Bulan Kasih Sayang kemarin,
Aku sepertinya masih belum bisa bangkit dari bulan sebelumnya. Terlalu banyak yang mengganjal di hati dan pikiran.
Sekrodit apapun suasana kuliah bulan ini, tetap saja rasanya masih berbeda.
Ada yang kurang, ada yang hilang.
Hingga lebih banyak diam, lebih sulit berkata, lebih sulit berpikir secepat hari-hari sebelumnya.
Mungkin, ini adalah bangun dari mimpi buruk bulan indah kemarin yang akan paling sulit dari apapun. Bahkan ketika aku berharap semuanya berjalan baik-baik saja, kakek ke menyapa lagi untuk kedua kalinya di mimpi ku pagi ini ^^

Hm.. (segera) Berdamailah kau hati dan pikiran.
Tuntun cucumu dari sana ya Pekak :)

Foto pertama dan terakhir - Bersama yang tersayang ^^

Science Camp 2015 : Tamparan untuk (TERUS) Berjuang !

Dua hari lalu, ketika sore berganti malam seperti saat ini aku masih bersama teman-teman panitia di Gedung AS. Ada yang tampak sangat sibuk mendekorasi ruangan dan juga gladi, tapi ada juga yang terlihat sibuk sendiri. Hehe

Kemarin, ketika malam datang di waktu yang kira-kira sama dengan dua hari dan hari ini. Wajah riang dari yang paling sibuk hingga yang sibuk sendiri juga terpancar. Haha

Dan hari ini… aku ingat aku harus mencatat semuanya. Hitung-hitung merapikan kenangan.

……..

Ini tetang kamu. Kamu yang dinamai Science Camp oleh Dekan kami. Hai, kenalan dulu sini *jabat tangan*

SCIENCE CAMP 2015
Science Camp ini serangkaian kegiatan Open Day FMIPA Universitas Udayana, dimana menurut cerita Dekan kesayangan, kegiatan ini bertujuan untuk mempersilahkan seluruh masyarakat untuk mengetahui FMIPA secara bebas. Niatnya sih (suatu saat nanti) orang-orang bisa camping langsung di fakultas kami. Oke, karena hal itu belum terlaksana jadi Science Camp diisi dengan mengajak siswa SMA se-Denpasar dan Badung untuk jalan-jalan mengenal enam jurusan super yang ada di fakultas kami. Lumayan kan mahasiswa yang jenuh sama laporan atau skripsi bisa liat cabe jalan-jalan di kampus *eh :p hahaha

Yuk, lanjut. Alkisah ini kali kedua aku tercelempung dalam kegiatan dahsyat ini. Science Camp adalah program kerja bidang atau dinas satu Badan Eksekutif Mahasiswa FMIPA yang wajib terlaksana dan disukseskan oleh kepala dinasnya *nyengir kecut*. Tahun sebelumnya, saat bergabung di BEM FMIPA kegiatan Science Camp ini lancar, rame, dan melelahkan. Walaupun aku sendiri tidak yakin berperan cukup aktif sebagai anggota acara Kak Ita (Penanggung jawab Acara Science Camp sebelumnya), yang ku ingat selesai kegiatan Kak Ita sangat kelelahan hingga tak satupun panitia berani mengganggunya. Hihi.

Well, Science Camp 2015 is Comingggggg…. 22 Januari 2015.

Science Camp tidak hanya mengajak siswa SMA untuk jalan-jalan, tapi juga kami dari panitia mengundang mereka untuk bertanding ketangkasan dalam Lomba Cerdas Cermat, bertanding merangkai keindahan kata dalam Lomba Esai, dan memacu kreativitas dalam Lomba Poster Digital. Duh, keren banget ya. Ekspektasi sih peserta bakal banyak, panitia bakal kelimpungan melayani peserta, dan semua krodit lah ya intinya. Jeng,,jeng,, Negara Api menyerang. Hingga H-7 hari = SEMINGGU sebelum kegiatan panitia baru mendapatkan sebiji peserta untuk tiap perlombaan. WOW!

Entahlah, bagaimana ekspresi yang sepantasnya aku tunjukan sebagai penanggung jawab Scince Camp tahun ini. Mungkin lebih nyesek dari punya pacar yang gak percayaan sama kamu, atau jomblo berlama-lama gara-gara mantanmu kebelet pacaran sama temen kampusmu sendiri. Ya, lebih nyesek dari apapun.

Mulailah semua isi otak berputar untuk mendapatkan peserta. Promo di radio, bimbel, jemput bola atau panitia yang agresif duluan menjemput pesertanya ke sekolah mereka tanpa menunggu, sebar pamflet, sebar buku petunjuk kegiatan, broadcast info kegiatan via BBM, update kegiatan disosmed, ganti profil picture hingga display picture. RAME INFO SCIENCE CAMP dimana-mana intinya. Tak penting mencari siapa yang salah hingga tak ada peserta atau terlalu perhatian dengan panitia yang setengah hati bekerja, yang penting saat itu peserta datang, acara jalan!

YEAH, 11 Team Lomba Cerdas Cermat dan 5 peserta Esai datang tidak hanya dari Denpasar dan Badung. Ini rasanya seperti terbang naik naganya Raditya Dika *terharu*. Aku dan Eny (Koo Ilmiah-sekaligus rekan curhat galau Science Camp) yang sebelumnya selalu cemas tentang acara ini, setidaknya mulai bisa focus menyiapkan kepuasan peserta yang telah daftar. Eny bertugas membuat soal dan menemani juri lomba sepanjang kegiatan, sedangkan aku bertugas mengatur kelangsungan acara dari sejak Gladi bersih hingga bersih-bersih acara kemarin. Hahaha.

…….

Suasana Penyerahan Hadiah Pemenang Lomba Cerdas Cermat
Puas, lega dan senang. Ketiga itu kata yang menggambarkan perasaan selesai acara berlangsung. Semua berjalan begitu rapi dan lancar. Walaupun tetap ada kritik serta saran dari peserta tentunya itu bisa menjadi bekal untuk penanggung jawab Science Camp berikutnya.

Science Camp kali ini sukses menamparku, kalau ingin hasil yang maksimal kamu harus bekerja dua kali lebih keras dari sebelumnya. Menutup telinga dan mata terhadap orang yang mengabaikan kerja kerasmu terkadang harus kamu lakukan untuk tidak menahan langkahmu berjuang. Kalau sudah semua dikerjakan, jangan takabur. Karena, Yang di Atas tak akan pernah berhenti mengujimu. Bekerja keras, berjuang, berdoa. Bekal hari ini untuk hidup yang lebih menyenangkan.

Terima kasih seluruh panitia yang telah bekerja keras. Kalian LUAR BIASAAAAA ~


“Struggle for existence”

Siapa yang mau berjuang keras, maka ia yang akan bertahan hidup (Charles Darwin)
-Soal Lomba Cerdas Cermat Science Camp 2015-



Kenangan semangat panitia Science Camp 2015

Apa Resolusimu ?

Tahun 2014 berakhir. Selamat datang tahun yang begitu cepat berganti. Ah, tutup tahun sudah merenungi berapa kebaikan yang sudah dilakukan? Hehe.. masih ada tahun baru buat memperbaiki kesalahan tahun kemarin ya? (tiap tahun seperti ini, hitung aja akumulasi dosa mu :p)

Tahun baru identik dengan harapan baru. Berbagai resolusi bermunculan di otak untuk mewujudkan dengan semangat yang baru. Termasuk juga menyelesaikan kebaikan yang tertunda di tahun sebelumnya. Mau tidak mau, sebelum dosa terakumulasi hingga over dose lebih baik diteruskan deh ya resolusi yang belum tercapai dari tahun yang tidak enak ke tahun yang baru ini. Hore, merdeka. Hihihi

Lalu, apa resolusimu?




Kalau aku sih secara umum ingin sekali tumbuh menjadi perempuan mandiri mulai dari tahun yang baru ini. Resolusi yang menurutku cukup menantang. Mandiri bukan sekedar kata yang mudah diucap dan dikerjakan. Bahkan ketika aku harus menulisnya disini, aku berpikir “apa tidak ada kata yang lebih sederhana dari kata mandiri?” karena aku yakin, aku belum bisa untuk tidak menyolek bapak atau ibuku untuk meminta uang jajan sebelum berangkat kuliah atau jalan-jalan dengan uang sekedarnya yang ku miliki.

Resolusi besar ini aku buat sesederhana mungkin dengan berbagai cara. Misalnya, meningkatkan nafsu berhemat dengan menyisihkan uang mingguan sejak awal diberikan, tidak berbelanja yang hanya menyenangkan mata dan mengenyangkan perut sesaat, memilih tidak ke bioskop tapi merampok semua film dari laptop temen, atau banyak lainnya yang benar-benar harus diterapkan. Mandiri ini sebenarnya banyak sekali persepsi yang bisa dihadirkan, bahkan ketika kamu sudah mampu mengangkat sendiri air galonmu saja kamu sudah terbilang mandiri jika dibandingkan dengan kamu yang masih minta tolong ayangmu untuk mengurus hal ini (bangga). Atau membersihkan kamar mandi sendiri, ketika sebelumnya ayahmu yang bertugas sepenuhnya akan hal ini. Mau nelpon bapak lho setiap minggu ke kos buat bersihin kamar mandi ? langsung di kutuk malin kundang deh ya. (bangga lagi). Dan yang paling keren sesungguhnya, ketika bisa bekerja sambil kuliah. Ini sungguh menyenangkan ketika melihat teman yang bisa mengatur waktunya dengan focus pada dua hal penting itu. Karena masa depan tidak bisa ditebak, menyiapkan diri sejak dini itu kunci bila ingin hidup yang layak.

Hm.. Jadi, sebenarnya mandiri bisa ditaruh dimana saja ya. Hanya saja, kali ini ingin mencoba menjadi perempuan yang bisa mengatur keuangannya dengan baik. Mandiri finansial ceritanya. Mulai dari hal kecil, fokus sama hal kecil, lama-lama mestakung bisa jadi sesuatu yang besar. Kalau sudah niat, yang namanya resolusi mau besar atau kecil, seharusnya sih tercapai ya.

Hai 2015, bantu aku untuk konsisten menjaga semangat ini ya!
Sekali lagi.. Resolusi itu aksi, bukan sekedar janji yang tiap tahun terakumulasi ^^





Waktu

Waktu jalan begitu cepat, tak ku sangka kita saling menyapa di bulan yang sama. Sepertinya waktu menyimpan sebuah misteri, hingga dua anak manusia bisa tertawa kembali seperti awal mereka saling bertegur sapa di bulan yang sama. Kata orang tidak ada yang kebetulan, jadi kali ini aku percaya kalau ada yang disembunyikan oleh sang waktu.

Waktu itu kamu terjatuh, terluka, dan duduk di sebelahku. Butuh waktu sekian menit untuk bisa menerjemahkan sinyal dari mata-otak-hati kalau sepertinya ada rasa yang berbeda. Gayung bersambut! Bukan cuma aku, tapi ternyata kamu juga merasakan sinyal yang sama. Waktu begitu cepat kita habiskan dengan saling bercerita, saling mengenal hingga kita merasa saling membutuhkan.

Waktu itu kamu menolong aku yang tergerus ombak, terluka oleh karang, dan menuntunku pulang. Sebuah kenangan kamu ciptakan bersama waktu pendekatan kita. Waktu dimana pertama kali aku tahu kalau kamu yang akan selalu ada bersamaku menghabiskan sisa waktu.

Waktu bisa saja memisahkan kita kapan saja, beberapa kali kita terlempar batu kecil. Jika tidak aku, ya kamu yang terluka oleh batu. Hingga waktu membuat kita bear-benar harus terpisah. Sejenak atau selamanya tidak ada yang tahu, hingga waktu memberikan hadiahnya kembali.

Waktu menuntun mu kembali pada hati yang kamu inginkan sesungguhnya. Seberapa jauh kita saling berusaha tak menatap, seberapa kuat kita saling mengabaikan, angin pun tetap mampu menggoda senyum dari kita ketika hati kita masih saling menginginkan. 

Waktu bisa membuat kita dengan mudah lupa kalau kemarin kita berjumpa dengan sosok lain yang sejenak terlihat sempurna dari pasangan kita, hingga akhirnya kita sadar kalau waktu sedang menguji isi hati kita.

Waktu merubah perasaan naksir menjadi sayang begitu cepat, dan harus kita ingat waktu juga bisa mengubah rasa sayang menjadi biasa saja dengan kecepatan yang sama. Waktu mengajarkan ku untuk memelihara perasaan kita jika tak ingin terpisah untuk kedua kalinya.

Waktu pertama kamu bisa menantapku kamu mengungkapkan isi hatimu dengan malu-malu, kini waktu membuatmu tak ragu memegang tanganku bahkan sebuah kecupan kecil di keningku membuatku percaya kalau kamu ada untuk menyayangiku.

Waktu terus berputar mengikuti menit demi menit dan kamu masih tetap menantapku dengan tatapan itu. Tatapan yang membuatku pertama kali ingin tahu siapa sih kamu ? Hingga kamu dan waktu berhasil mencuri seluruh perhatianku.

Waktu tahu kalau aku dan kamu bisa bersama, hanya saja waktu ingin tahu sanggupkah kita bersama ketika jalanan tidak semulus yang terbayangkan.

Waktu mencoba mengusik kebahagian kita, waktu datang dengan sosok masa laluku dan waktu datang bersama sosok baru untukmu. 

Waktu benar-benar menguji kita. Aku yang merasa tak percaya akan sanggup menghabiskan waktu denganmu, dan kamu yang tak sanggup menahanku membuat waktu menang untuk memisahkan kita


Waktu pun tiba. Dimana kita tak bisa dipermainkan olehnya. Atau benar kita yang tak bisa menghargainya ?


Waktu membuatku atau mungkin kita tersadar.Kalau sebenarnya, waktu punya kisah untuk kita. Waktu sudah memberi kesempatan untuk kita saling bercerita. Waktu sudah memaafkan aku dan kamu yang sudah mengabaikannya. 

Kini saatnya, aku, kamu, dan waktu berjalan bersama. Tak perduli ini waktu yang tepat atau tidak, karena aku percaya ini waktu yang dinanti oleh hati yang rindu akan bersama.

Terima kasih waktu :)






Satu Masa


"Aku pun sadari ini hanyalah sebuah kisah semu yang sesaat. Meski yang kurasa begitu dalam, hasrat terbawa ohh…"
-Satu Masa, Maliq & D'essentials-


Aku menangkap sosok berbeda dari kamu yang tiba-tiba seringkali mulai berjanji, tapi tak ada kabarnya ketika aku menanti. Ini bukan kamu, bahkan sesibuk apapun kamu. Selalu saja kau menepati janji, tapi malam itu tidak. Hingga aku tiba di rumah dengan ransel baruku, handphoneku masih saja tidak bercahaya. Kabarmu lenyap.


Aku bisa melihat itu raut bahagia. Ketika kau bertemu denganku, Tidak biasa kau asyik dengan gadgetmu, tersenyum simpul. Kau pikir mungkin aku tak melihatnya. Atau memang sengaja kau pamerkan? Aku hanya mereka-reka, terdiam, dan melihat senyum itu lagi yang tak hanya sekali.



Kalian bertegur sapa di sosial media, muncul di timelineku.. Entahlah, dia mungkin orang berikutnya yang setelah sekian lama tak ada yang menggoda kamu di sosial media setelah aku. Aku memilih menutup akun ku daripada aku harus terkena serangan jantung di usia muda. Cukup melihat, cukup tahu.

Dan malam itu ketika kau begitu lemah, datang menghampiriku. Aku memilih diam dan menurunkan suhu tubuhmu dengan kain hangat yang ku tempelkan berulang kali di leher dan perutmu. Aku termenung, melihat kau mengigau sekian kali dan menarik tanganku. Aku menangis, entah karena melihat kau terbaring begitu lemah atau karena aku tahu kenyataaan sebenarnya dari handphonemu yang tergeletak di sebelahmu. Firasat memang bukan hanya harus dipercaya, tapi dibuktikan. Walaupun kenyataannya pahit, setidaknya kamu tidak harus berlama-lama dengan asumsimu. Sama sepertimu yang begitu lemah hadir kepadaku, entah karena penyakit yang sebanarnya atau sakit patah hati yang pertama kali setelah sekian lama ?

Karena kenyataan tidak selalu menyenangkan, bahkan saat hatimu sakit kamu tetap harus menghibur yang sedang melawan sakitnya. Bahkan kini aku mulai bertanya, jika ada satu masa untuk kita kembali mengulang, masihkah getar itu sama ?

Cepat sembuh, hati dan raga ya *senyum*
 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com