Pages

BISU

aku menulis ini penuh dengan emosi. aku mengenalmu bukan kemarin atau beberapa jam yang lalu. aku mengenalmu sudah seperti aku mengenal ayah dan ibuku. aku merasa sangat dekat denganmu. aku merasa begitu nyaman denganmu. sudah tidak ada lagi yang harus ku sembunyikan darimu. sudah tidak ada lagi yang harus kututupi darimu. aku bisa menangis, berteriak, tertawa, atau menjailimu sesuka kemauanku. aku memilikimu tanpa harus berkata kamu milikku. aku tahu itu lebih dari apapun.

tapi sayang, bertahun-tahun kita menghabiskan waktu berdua tidak cukup menjadikan aku dekat denganmu. tidak cukup menjadikan aku sebagai pendengar terbaikmu. ku pikir selama ini aku terlalu banyak bercerita ini itu ketika bersama, dan tak sempat mendengar ceritamu. sungguh egoisnya aku. atau mungkin kamu juga enggan bercerita denganku karena kita tidak dekat tapi raga kita dekat. ah, aku tidak tahu. ini lebih rumit dari sebuah teka-teki silang yang sering pernah beberapa kali kita kerjakan bersama dahulu. 

hari ini. tepat malam ini. aku penuh rasa sesak menulis ini. tak satupun kabar ku dapat darimu. tak satupun cerita terucap dari mulutmu. kamu datang dengan bahagia, dan meninggalkanku sementara dengan derita. aku yakin sementara karena ini sudah sangat sering terjadi. tapi sementara yang berulang ini benar-benar menyesakkan. aku tak pernah tahu alasan apa yang bisa membuatmu seperti ini. aku tak pernah tahu apa yang harus ku perbuat disaat seperti ini. aku tidak tahu bagaimana kabarmu. aku tidak tahu bagaimana kondisimu. aku hanya tahu kamu tetap menjadi kebanggaanku dihadapan teman-temanku, meski sering kali dalam hati aku kesal sendiri bagaimana aku masih bisa mengindahkan seseorang yang tak ku tahu keadaannya.

aku tidak ingin menjadi bebanmu. sama sekali tidak ingin menahan segala keinginanmu. aku hanya ingin sesekali menjadi pendengar yang manis akan semua keluh kesahmu, aku hanya ingin menjadi penenangmu seperti apa yang selalu kau lakukan padaku. jangan kira aku berbahagia dengan diammu, jangan kira selama ini aku mengikuti sementaramu karena aku terbiasa dengan segala kebisuanmu. 

pagi sangat cerah, ketika satu salam datang melebihi hangatnya sinar mentari
sore begitu teduh, ketika sebuah tawa tercipta oleh dua manusia
malam teramat indah, ketika kita tutup hari dengan sebuah pelukan yang berarti

maaf, kamu lagi-lagi muncul dalam tulisanku.
cepatlah berbahagia kembali

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Ciiiieee..... :P

Posting Komentar

 
Download this Blogger Template From Coolbthemes.com